
Keesokan harinya Zaki langsung mendatangi putranya yang sudah bersiap untuk berangkat sekolah. Zaki berusaha sangat keras untuk bisa berdamai dengan putranya sendiri.
" Ok Zaki, kamu pasti bisa!" ucap Zaki berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Zaki langsung memasang Senyum manisnya ketika dia berhadapan dengan yang sedang sarapan pagi dan bersiap ke sekolah.
" Selamat pagi jagoanku?" ucap Zaki dengan senyum secerah mentari.
Firly mengurutkan keningnya melihat Zaki yang tidak biasanya.
" Ayolah nak. Ayahmu sudah berusaha untuk bersikap baik padamu. Setidaknya hargailah usahanya. Apakah aku bisa berhenti untuk memperlakukan ayahmu seperti ayah tirimu? Kalau seperti itu, mungkin akan lebih baik, kalau kita pergi saja dari rumah ini dan kau tidak usah bertemu lagi dengan ayahmu. Mungkin kalau kita tinggal di hutan bersama Kakek Raymond selamanya itu akan jauh lebih baik bagi kita berdua." ucap Evelyn dengan raut wajah sedih.
Firly tampak terkejut mendengarkan ibunya mengatakan bahwa mereka akan kembali lagi ke hutan dan hidup bersama Raymond.
' Wah kalau hidup lagi di hutan. Semuanya akan sangat sulit dan di sana tidak ada Timezone pula. Tidak ada permainan yang aku sukai di sana. Baiklah tidak masalah kalau aku harus berbaik-baik kepada Ayahku sendiri. Selama aku tidak harus tinggal di hutan lagi dan hanya hidup dengan para binatang itu!' bathin Firly merasa bergedik ngeri ketika dia mulai membayangkan akan kembali lagi ke hutan.
Evelyn merasa senang hatinya melihat perubahan wajah putranya yang mulai bersahabat terhadap suaminya.
" Baiklah! Aku akan berusaha untuk menerima dia sebagai ayahku. Tetapi kalau dia mulai lagi memusuhiku dan melarangku untuk dekat denganmu. Jangan harap aku akan menerima dia sebagai ayahku!" ucap Firly merasa kesal kepada Zaki.
Rupanya Firly adalah tipe orang yang selalu mengingat kejahatan orang lain. Apalagi itu dilakukan oleh ayahnya sendiri yang selalu mengajaknya bersaing untuk mendapatkan perhatian dari ibunya.
" Jadi kita berdamai?" tanya Zaki sambil menatap Firly dengan antusias.
Setelah berpikir sekitar 10 menit, akhirnya Firly pun menganggukan kepalanya dan menyetujui perdamaian yang diajukan oleh ayahnya atas permintaan sang ibu.
__ADS_1
Memang dua laki-laki itu sangat mencintai Evelyn. Dan hanya Evelyn yang bisa sukses meluluhkan hati keduanya.
Surya sejak tadi hanya menahan tawa melihat Zaki yang sekarang benar-benar telah bertekuk lutut di hadapan Evelyn dan tampak mengalah kepada Firly jagoan kecilnya.
' Syukurlah akhirnya ada orang yang bisa mengendalikan Tuan Zaki. Sehingga dia menjadi lebih manusiawi!' bathin Surya yang sudah bersiap untuk pergi ke kantor bersama dengan Zaki.
Zaki sekarang sudah mulai mengurangi aktivitasnya di klub malam maupun diskotik semuanya sudah diserahkan kepada anak buahnya yang dia percaya.
Bahkan bisnis kasinonya satu demi satu mulai dia tutup secara perlahan. Dia sangat ingat bahwa Evelyn paling membenci bisnis itu diantara semua bisnis yang dia miliki.
" Baiklah kita antarkan dulu Firly ke sekolah nya Bagaimanapun aku tidak mau kalau sampai nanti malam tidur sendirian tanpa istriku tercinta. Aku tidak mau kalau sampai kesejahteraan junior kesayanganku sampai terancam gara-gara bocah kecil itu!" ucap Zaki yang masih belum bisa berdamai dengan putranya sendiri.
Surya hanya bisa tertawa lirih, ketika dia mendengarkan semua keluh kesah Zaki tentang keluarga kecilnya. Keluhan dari bos dan juga sahabatnya yang telah melewati banyak suka duka bersamanya.
Saat Surya keluar dari mobil tiba-tiba saja ponselnya berdering. nama Carmila tercantum di dalam ponselnya.
" Mau apa lagi dia meneleponku? Bukankah aku sudah mengatakan kalau hubungan kami sudah putus? Kenapa sangat sulit sekali untuk bisa lepas dari seorang wanita?" monolog Surya sambil mematikan ponselnya agar tidak mengganggu aktivitas kerjanya.
Surya pun kemudian memasukkan ponselnya ke dalam sakunya dan langsung masuk ke dalam rumah Zaki untuk mengambil Firly yang masih dipakaikan sepatu dan tasnya oleh Evelyn.
Para Bodyguard yang biasa mengawal Firly ke sekolah pun sudah siap semua di depan gerbang dengan menggunakan dua mobil.
Pagi ini Firly akan diantar oleh Zaki. Hal itu atas permintaan Evelyn yang menandakan gencatan senjata di antara ayah dan anak yang dari kemarin melakukan perang dingin yang membuat kepalanya pusing mendadak.
" Surya hati-hati ya jangan sampai Zaki dan Firly kembali bertarung di dalam mobil. Kau harus benar-benar mengawasi mereka berdua!" ucap Evelyn berpesan kepada Surya. Saat dia mengantarkan putranya ke dalam mobil untuk berangkat ke sekolah bersama Zaki yang masih sibuk dengan macbook dan ponsel miliknya. Tampaknya Zaki sedang membalas email yang masuk di ponselnya.
__ADS_1
" Ayolah sayangku,cintaku! Kau jangan pernah memperlakukanku seperti seorang penjahat. Bagaimanapun aku adalah ayahnya tidak mungkin aku akan mencelakainya! Walaupun Putra kita ini memang layak untuk diketok kepalanya dengan palu, tetapi tetap saja aku akan selalu menjaganya!" ucap Zaki sambil menahan tawanya.
Mendengarkan perkataan ayahnya, Firly pun cemberut dan merasa kesal seketika kepada sang ayah yang selalu mengolok-olok dirinya di hadapan ibunya.
" Om Surya aku akan berangkat bersama dengan para bodyguardku saja. Aku tidak mau semobil dengan laki-laki itu yang tidak mau bersahabat denganku!" ucap Firly sambil melirik sinis kepada Zaki yang mulai frustasi melihat kelakuan putranya yang benar-benar sangat sensitif.
Zaki menarik nafasnya dengan frustasi. Kepalanya mendadak pening seketika. sungguh dia tidak takut melawan para penjahat berapapun banyaknya. Tetapi dia sangat ngeri ketika melihat Evelyn yang mulai melotot lagi kepadanya.
" Baiklah aku minta maaf! Cepatlah masuk nanti Kau terlambat!" ucap Zaki yang berusaha se kuat tenaga untuk tersenyum kepada putranya yang masih marah kepada dirinya yang tadi melakukan kesalahan lagi.
" Papah akan membelikanmu es krim sebanyak yang kau mau! Sudah jangan marah lagi ya? Nanti ibumu akan membuat kita tidak bisa bertemu dengannya lagi. Apa kau mau kalau tidak bertemu dengan ibumu seminggu lamanya?" Tanya Zaki berbisik di telinga putranya yang mulai melirik kepadanya.
" Baiklah om Surya. Ayo kita berangkat ke sekolah!" ucap Firly yang akhirnya menyerah kepada ayahnya yang sudah minta maaf dan mau membujuknya untuk tidak marah lagi.
Akhirnya mereka pun berangkat ke sekolah tanpa banyak percakapan. Kedua pria tampan beda generasi yang sangat penting bagi Evelyn kini masih terlihat begitu canggung duduk dalam satu mobil.
" Kenapa mobil ini terasa begitu mencekam?" tanya Surya sambil melihat ayah dan anak di belakang yang terlihat terdiam satu sama lain.
" Apakah om Surya perlu menelepon ibumu untuk melaporkan situasi yang ada di dalam mobil ini?" tanya Surya sambil menimbang ponsel yang ada di tangannya.
Firly dan Zaki saling menatap satu sama lain. Surya sejak tadi kesulitan untuk menahan tawah melihat ayah dan anak yang seperti sedang terlibat perang dingin yang terlihat tak berujung pangkal.
Setelah mereka sampai di sekolahan Firly Zaki pun meminta kepada putranya untuk mencium telapak tangannya. Sepintas lalu mereka berdua terlihat seperti anak dan ayah yang begitu rukun dan harmonis.
Terlihat Zaki yang mengelus kepala putranya dengan penuh kasih sayang. Sebelum dia meninggalkan Firly di sekolah bersama dengan para bodyguard-nya yang akan menjaga putranya dari musuh-musuhnya.
__ADS_1