
Setelah memenuhi keinginan Putraku kami pun kembali ke Mansion di sana Aku melihat suamiku sudah menunggu kami.
" Kau sudah pulang sayang?" Tanya Zaki sambil mencium pipiku.
Aku lihat Firly langsung masuk dalam kamarnya dan tidak mempedulikan ayahnya sendiri. Benar-benar membuatku frustasi dengan kelakuan dia yang selalu membuat ayahnya seperti musuhnya sendiri.
" Ada apa dengan anak itu? Kenapa setiap hari sepertinya selalu cemberut kepadaku?" Tanya Zaki sambil memeluk pinggangku.
Aku menyerahkan barang-barang yang tadi dibeli oleh Firly kepada pengasuhnya. Aku menyuruhnya untuk meletakkan di kamar Putraku yang tadi kelihatannya marah terhadapku.
" Letakkan barang-barang ini di kamar tuan muda dan pastikan anak itu untuk mandi dan mengganti pakaiannya!" ucapku memberikan perintah kepada pengasuh Putraku yang setiap hari semakin manja dan membuat pusing kepala.
Kadang aku berpikir untuk membawa Firly bertemu dengan Raymond karena selama ini hanya dialah yang bisa mengendalikan Putraku tanpa membuat banyak keributan.
" Bagaimana kalau kau menjemput ayahmu? Mintalah dia untuk datang ke kemari dan tinggal bersama kita! Aku rasa kalau sampai ayahmu datang kemari itu sangat baik untuk Firly karena dia sangat menyayangi ayahmu!" ucapku ketika kami masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk tidur.
Suamiku yang sedang mengganti pakaiannya dengan piyama yang biasa dia gunakan untuk tidur tampak melihatku dengan lekat.
" Bukankah kau tahu bahwa Ayahku tidak suka keramaian? Sudah beberapa kali aku membujuknya untuk ikut dengan kita. Tetapi dia lebih suka hidup menyendiri di tengah hutan! Aku rasa Ayahku memiliki trauma yang besar untuk berada di tengah-tengah orang ramai!" ucap Zaki sambil berbaring di sampingku.
Aku menarik nafasku dalam-dalam dan menatap suamiku dengan lekat.
" Apa kau tahu apa yang membuat ayahmu trauma?" tanya aku sambil memegang tangan Zaki yang sedang memelukku dari belakang.
Aku tidak tahu sejak kapan aku sangat senang dengan kelembutan yang diberikan oleh suamiku.
Entahlah sekarang rasanya aku sangat senang karena dia memperlakukanku dengan lembut. Tidak seperti dulu-dulu yang selalu kasar dan tidak menghargaiku sebagai istrinya. Selalu marah dan berbuat sesuatu yang membuat aku marah.
__ADS_1
" Pasti karena ibu dan Ayah tiriku yang sudah menghianatinya dan berusaha untuk membunuhnya. Sehingga membuat Ayahku memiliki krisis kepercayaan terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya!" ucap Zaki dengan nada prihatin.
Aku setuju dengan apa yang dikatakannya karena memang itu pun yang saat ini sedang ku pikirkan tentang Raymond.
Sampai saat ini aku benar-benar masih merasa berhutang budi dengan laki-laki baik yang telah menolongku dan menyelamatkan hidupku. Yang ternyata adalah Ayah Mertuaku sendiri.
Kadang aku merasa kasihan dengan jalan hidup Raymond yang begitu menyedihkan dan juga penuh dengan penderitaan.
Aku bisa merasakan sakit hati yang diderita oleh lemon sepanjang hidupnya mengetahui perselingkuhan istrinya dan juga orang yang sangat dipercaya yang ternyata berniat untuk membunuhnya dan mengambil Semua yang dia miliki dalam hidupnya termasuk istri dan anaknya.
Sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengan ayah tiri dari Zaki. Karena laki-laki itu sangat tertutup dan tidak pernah mau menonjolkan diri di hadapan publik.
Terakhir yang aku dengar dari Zaki bahwa ibu dan ayahnya sekarang berada di Spanyol sedang melakukan liburan.
Kalau berdasarkan pengamatanku tampaknya mereka memang sengaja meninggalkan Indonesia. Karena menghindari amarah dari Zaki yang mengetahui bahwa ayahnya telah dikhianati oleh mereka berdua.
" Akan sangat sulit untuk membujuk Ayahku untuk mau tinggal bersama kita. Ya, kecuali kalau mungkin Firly yang memintanya. Mungkin dia masih mempertimbangkannya! Kau lakukan saja apa yang kau inginkan tidak perlu bertanya tentang pendapatku. Aku akan menyetujui semua keputusanmu di rumah ini karena kau adalah nyonya di rumah ini!" aku merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh suamiku.
" Aku senang kamu mulai berinisiatif untuk menciumku sayang!" aku sampai tersipu mendengarkan kata-katanya.
" Aku hanya mengucapkan terima kasih padamu, karena kau sudah membiarkanku untuk melakukan apapun yang kuinginkan di rumah ini!" ucapku dengan gugup dan berusaha untuk keluar dari pelukannya.
Aku mulai merasa tidak tenang ketika melihat matanya yang mulai berkabut.
Apalagi malam ini adalah malam jum'at, otakku auto traveling melihat kabut gairah di matanya yang sendu.
" Aku ingin kita punya anak lagi. Berikan aku seorang putri untuk menjadi teman dari putra kita yang nakal itu. Aku yakin kalau dia sudah memiliki saudara, dia pasti akan berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang membuat kita marah!" ucap Zaki sambil tangannya mulai aktif bergerilya di atas tubuhku yang selalu berkhianat kepadaku.
__ADS_1
Setelah puas bercinta dengan suamiku, aku kemudian langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku yang lengket.
" Aku akan memeriksa Firly di kamarnya kau tidurlah duluan." ucapku sambil keluar dari kamar dan tidak mempedulikan apapun yang dikatakan oleh Zaki yang tampak protes melihatku meninggalkannya.
Di dalam kamarnya aku melihat Firly yang sedang menangis sendirian.
" Kamu kenapa malam-malam bukannya tidur malah menangis?" tanya ku sambil mendekati Putraku yang terkejut melihatku hadir di sana.
" Mama sekarang lebih sibuk bersama dengan papa dan selalu tidak punya waktu untukku!" ucap Firly tersedu dengan berlinang air mata.
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh Putraku sendiri. Oh ya Tuhan! Bagaimana mungkin dia sampai bisa berpikir seperti itu? Padahal tadi selama seharian aku bermain bersamanya.
" Bukankah tadi seharian Mama bersamamu nak? bahkan Mama bertemu dengan papamu tidak lebih dari satu jam yang lalu!" ucapku sambil memeluk Firly yang saat ini mulai tenang dan tidak menangis lagi.
" Tapi dulu mama selalu tidur denganku dan semua waktumu adalah milikku. Sekarang Aku setiap hari tidur sendirian dan setiap malam aku merasa kesepian!" ucap Firly mulai misuh-misuh padaku.
Aku mengucapkan yang Putraku dengan lembut membuatnya tenang dan tidak sedih lagi.
" Baiklah Mama akan tidur denganmu sampai kau terlelap! Ayo sekarang jagoab Mama tidur ya?" tanyaku sambil memeluk Firly yang seperti tidak mau melepaskanku.
Aku menarik nafasku dalam-dalam semakin bingung dengan pemikiran Putraku yang tidak senang melihatku bersama dengan ayahnya sendiri.
" Kau sekarang selalu marah melihat Mama selalu dekat dengan ayahmu. Bagaimana kalau suatu saat kau memiliki seorang adik dan Mama sibuk mengurus adikmu?" tanyaku kepada Firly yang langsung auto melek.
" Aku tidak marah kalau Mama sibuk mengurus adikku nanti aku juga akan membantu untuk menjaganya!" Firly tampaknya senang ketika mengatakan Aku mengatakan tentang adiknya.
" Apakah benar kalau kau senang kalau suatu saat nanti kau memiliki seorang adik? Kau nanti tidak akan merasa tersaingi dengan adikmu sayang? Seperti sekarang Kau merasa tersaingi dengan ayahmu?" tanyaku pada Firly yang langsung menggelengkan kepalanya dengan yakin.
__ADS_1
" Besok kita akan ke hutan tempat tinggal kita dulu. Kita berdua menjemput kakek Raymond untuk bisa menemanimu disini, supaya kau tidak selalu merasa kesepian kalau Mama bersama ayahmu!" ucapku sambil mengelus kepala Putraku yang mulai ngantuk ngantuk.
" Asyik kita akan menjemput kakekku. Aku akan membuatnya untuk ikut di sini bersama kita!" ucap Firly dengan penuh antisias dan sangat bahagia mengetahui ibunya akan menjemput sang kakek kesayangannya yang selama ini dia rindukan.