
Masih jam istirahat. Siang itu setelah selesai memakan makanannya, Deon terlihat sedang mengistirahatkan dirinya berselonjoran di sofa di dalam ruangan miliknya.
'Kenapa rasanya sangat bosan? Jika ku tau rapatnya bisa selesai dengan cepat, kan aku tidak perlu menolak Annisa untuk datang ke kantor.'
Kemudian Deon terlihat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya. Terlihat dia memandangi foto yang tadi di kirim oleh pak Joko.
'Senyum yang manis.'
Deon terlihat tersenyum melihat foto Annisa dengan senyum manis dan menawan.
Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan dari arah pintu ruangannya yang membuyarkan lamunannya.
"Masuk!" Perintah Deon yang langsung membuat pintu terbuka dan terlihat Joni masuk ke dalam.
"Ada apa?" Sambung Deon.
"Maaf bos, ada Tara ingin bertemu."
"Biasanya kan suka nyelonong masuk. Kenapa tiba - tiba kaya formal begini? Kenapa dia ke sini? Mengganggu suasana saja." Tanyanya sedikit heran.
"Oh itu saya yang memerintah kan resepsionis untuk melarangnya masuk."
"Lalu?"
"Karena masalah yang dia timbulkan terakhir kalinya, makanya saya memerintahkan mereka untuk melarang Tara."
"Biarkan sajalah dia di sana. Nanti dia juga capek sendiri terus pulang. Aku malas melihat nya."
"Tapi bos dia ngamuk - ngamuk kaya orang gila."
"Hah, merepotkan sekali. Kamu bilang saja aku tidak mau melihatnya. Kalau dia masih mengamuk juga perintahkan satpam untuk menyeretnya!" Deon mulai menaikkan nadanya.
"Baiklah bos."
Joni pun kembali ke tempat Tara mengamuk dengan mengantongi perintah untuk menyeret Tara jika dia bersikeras ingin bertemu Deon.
Kedatangan Tara siang ini tidak lain karena masalah foto yang telah di unggah Deon di media sosialnya beberapa hari yang lalu.
Setelah mengadu kepada mama Mita, Tara tidak merasa puas karena mama Mita sedang di luar negeri. Mama Mita hanya mengatakan bahwa Deon mungkin hanya iseng. Itulah sebabnya Tara langsung pergi ke kantor Deon.
Sebenarnya Deon sudah mengira kalau Tara akan mempermasalahkan foto itu. Karena foto itu memang untuk rencana Deon. Tapi karena hari ini Deon lagi malas menjalankan rencananya maka dari itu Deon memilih untuk tidak menemui Tara lebih dulu.
Setelah Keluar dari dalam lift, Joni menghampiri Tara yang masih bertengkar dengan resepsionis dan beberapa satpam yang ada di tempat itu.
"Joni!! Mana Deon?" Tanyanya dengan ketus.
"Ada di ruangannya. Pulanglah Tara, Deon tidak mau bertemu denganmu!" Seru Joni.
__ADS_1
"Apa?! Tidak mungkin, minggir!!" Tara berusaha menerobos untuk masuk.
Dengan cepat Joni menangkap tangannya dan meminta satpam untuk menyeret Tara keluar dari kantor Deon.
"Seret dia keluar!! Ini perintah pak Deon."
Kemudian dua orang satpam menghampiri Tara dan menarik kedua tangan Tara untuk keluar. Namun Tara masih berusaha memberontak.
"Lepaskan!! Jangan pegang - pegang!! Orang rendahan seperti kalian berani menyentuhku!!" Ucap Tara sambil mengarahkan telunjuknya ke arah dua orang satpam.
Mendengar perkataan tidak sopan dari Tara membuat Joni naik pitam.
"Heh, jaga ucapanmu. Orang rendahan yang kau anggap itu jauh lebih terhormat dari wanita murahan sepertimu!" Joni langsung mendekat ke arah Tara.
"Jangan ikut campur. Berani sekali kau memerintahkan mereka untuk menyeretku keluar. Memangnya kamu siapa, ingat baik - baik kamu hanya bawahan di sini."
"Justru karena aku bawahan makanya aku harus mengikuti perintah atasanku. Dan pak Deon sudah memutuskan untuk mengusir mu dari sini."
"Ouh, dan setelah mendapatkan perintah itu kau sudah merasa hebat? Awas saja nanti jika aku jadi istri Deon, kau jadi orang pertama yang ku pecat dari sini."
"Hahahaaa.... Menjadi istri Deon? Dalam mimpi pun itu tidak akan terjadi." Joni tertawa mendengar ucapan Tara.
Mendengar tawa Joni membuat Tara marah.
"Diam kau!"
"Awas kau, ini belum selesai. Aku akan membuat mu menyesali perkataan mu." Sambil membalikkan tubuhnya Tara pun kini keluar dari kantor Deon dan memasuki mobilnya.
Tara membanting setir mobil dengan keras.
"Aaaaargh! Sialan. Aku tidak akan membiarkan penghinaan ini."
Tara merogoh tas miliknya dan mengambil ponselnya. Kini Tara mulai membuka kontak dalam ponselnya dan menelpon mama Mita.
"Halo Mami..." Ucap Tara setelah panggilannya terhubung dengan nada suara memelas.
"Ada apa sayang? Loh, kok kedengaran sedih sih suaranya?" jawab mama Mita perhatian.
"Iya mi, Tara sedih banget."
"Kenapa sayang? Apa Deon menyakitimu lagi? Ceritakan sama mami?"
"Iya mi, Deon tidak mau bertemu dengan Tara. Lebih parahnya lagi, Deon malah memerintahkan asisten dan satpam mengusir Tara." Mulai sesegukan menangis.
"Apa?! Astaga sayang, kamu yang sabar ya. Mami akan memberi pelajaran sama anak itu." Tutur mama Mita untuk menenangkan Tara.
"Makasih mami, mami memang yang terbaik."
__ADS_1
"Sudah ya sayang, jangan sedih lagi. Pokoknya mami akan berusaha menyatukan kalian lagi."
"Iya mi, mami kapan pulang?"
"Mungkin seminggu lagi sayang, sabar ya. Sudah dulu ya sayang, mami ada urusan."
"Iya mi, semoga urusannya lancar. Bye mami..."
"Bye sayang."
Setelah mengakhiri panggilan, Tara sudah merasa lega. Menghubungi mama Mita memang suatu kemenangan untuk masalahnya. Karena Tara memang sudah mendapatkan hati mama Mita, jadi sangat mudah baginya untuk mendapatkan pembelaan dari mama Mita.
Di sebrang sana, mama Mita menghampiri papa yang sedang sibuk mengurus pekerjaannya.
"Papa bisa mempercepat pekerjaan di sini nggak? Tanya mama.
"Kenapa ma?"
"Deon pa, dia berulah lagi."
"Ada apa lagi sih ma, sepertinya mama sekarang terlalu mengurusi urusan Deon."
"Bukan begitu pa, tadi dia mengusir Tara dari kantornya. Deon tidak pernah sekasar itu sama perempuan."
"Deon pasti punya alasan untuk itu ma, sebaiknya sekarang mama tidak perlu ikut campur dengan urusan Deon."
"Papa gimana sih, kenapa seperti ini. Anak papa sekarang sudah sangat keterlaluan."
"Mungkin karena mama terlalu mengurusi masalahnya ma. Mama kayak nggak tau Deon aja."
"Mama tau, tapi sekarang dia sudah kurang ajar pa. Dia sangat kasar sama Tara dan selalu membuat Tara menangis."
"Maka dari itu ma, mungkin Deon sudah tidak merasa cocok lagi dengan Tara. Lebih baik mama berikan Deon kesempatan untuk memilih pasangannya sendiri."
"Kok papa gitu sih, pokoknya mama nggak mau tau. Tara harus jadi menantu mama. Papa juga harus mendukung Tara untuk menjadi menantu kita."
"Cobalah mama berpikir dewasa sedikit, jika belum menikah saja Deon seperti ini dengan Tara apalagi setelah menikah. Itu hanya akan menyakiti Deon ma."
"Iiih papa, kasian Tara pa. Dia sangat mencintai Deon. Jika kita berdua menyetujui Tara sebagai menantu kilta, Deon pasti akan mengikuti perintah kita."
"Sekarang papa tanya, yang anak kita Tara atau Deon? Kenapa mama malah mengurusi perasaan Tara. Pikirkan perasaan Deon ma, dia anak kita."
"Tau ah, papa nggak bisa diajak diskusi."
"Ini bukan diskusi tapi pemaksaan namanya. Mama terlalu memaksakan diri untuk menjadikan Tara menantu."
Mama langsung meninggalkan papa dengan wajah tertekuk.
__ADS_1