Dia Istriku

Dia Istriku
Sahabat


__ADS_3

Satu mata kuliah sudah selesai. Annisa heran kenapa Siska terlihat murung saat itu. Tidak ada suara cerewet yang keluar. Kenapa gadis itu jadi pendiam pikirnya.


"Hei ada apa?" akhirnya Annisa memberanikan diri untuk bertanya.


Siska menarik tubuh Annisa dan mulai berbisik ke telinganya.


"Astaga!! Kenapa nggak bilang dari tadi?" Rupanya Siska sedang pms sekarang dan ia tidak tahu itu.


"Udah terlanjur tembus, baru aku sadar."


"Untungnya aku bawa pembalut. Yuk kita ke toilet."


"Nggak bisa jalan nih. Udah tembus banyak, gimana nih kak?"


Annisa melepaskan blazernya yang sebenarnya menutupi bagian - bagian yang terlihat mewah dari dress yang ia pakai terutama lambang yang produk pakaian itu. Ia tidak memikirkan tentang dirinya lagi saat ini.


Annisa menunggu di luar toilet, sesekali ia memainkan ponselnya untuk membuang rasa bosannya.


Tidak lama kemudian ada beberapa wanita yang juga memasuki toilet. Mendengar suara ricuh dari wanita - wanita itu, Annisa mengangkat kepalanya dan mengarahkan kedua bola matanya ke sumber suara yang ia dengar.


Sesaat Annisa terpaku, bukan karena wanita yang ia lihat sangat cantik. Tapi, wanita itu adalah orang yang ia kenal. Kemudian tatapan mereka bertemu, namun wanita itu seketika memalingkan wajahnya.


Annisa masih tersenyum, hingga saat wanita itu melewatinya. Annisa kecewa ia tidak merespon lagi senyumannya. Bukan karena ia tidak melihat, jelas - jelas mereka saling menatap. Sepertinya temannya sejak kecil itu sudah melupakannya.


Tidak selamanya persahabatan yang erat itu akan selalu terjaga. Terkadang ia akan goyah termakan waktu. Semua akan berubah di saat suasana baru kian merayu. Teman baru lebih menyenangkan dari pada teman lama yang sudah membosankan.


Annisa menunduk sedih, sahabatnya sudah tak mengenalnya lagi.


"Hei, kamu kan yang senyum sama fera di mall kemaren!!" Ujar salah satu teman Fera yang melihat Annisa tersenyum waktu itu.


"Fera! Ini lho yang aku ceritakan kemaren. Kamu kenal nggak?" Sambungnya yang membuat Fera berbalik.


Merasa namanya di panggil, mau nggak mau ia kembali mendekati ke arah Annisa. Sesungguhnya ia malas berhadapan dengan sahabat yang ia anggap sebagai musuh itu.


'Ih, Icha nyebut nama ku segala sih.'

__ADS_1


Fera berlagak seperti sedang mengamati seolah - olah ia tidak mengenal Annisa karena penampilannya. Kemudian ia mengambil kacamata itu dan berlagak terkejut.


"Oh, Annisa?! Maaf aku tidak mengenalimu karena kacamata yang kamu pakai ini." Kelakar Fera padahal Icha yang baru pertama melihat saat di mall saja mengenalinya.


Annisa tersenyum mendengar kebohongan yang di ciptakan Fera tersebut.


"Apa kita bisa bicara?" Ucap Annisa penuh harapan.


"Boleh. Girls kalian duluan aja ya, aku mau ngobrol sama dia sebentar."


Fera menarik tangan Annisa untuk menjauh dari teman - temannya. Mereka pergi ke belakang ruangan.


"Aku merindukanmu fer. Aku senang banget bisa ketemu kamu." Annisa memeluk erat Fera karena rasa rindu yang membuncah terhadap sahabat dari masa kecilnya itu.


'Tapi aku tidak.'


Fera tidak suka dengan semua itu. Ia tidak suka mendengar ucapan Annisa dan ia juga tidak suka dengan pelukan itu. Ia sudah terlalu dalam menanam kebencian terhadap Annisa.


"Langsung aja deh, mau apa kamu ke sini?"


"Halah, nggak usah sok polos deh. Aku nggak suka basa basi."


"Lho, kita kan sahabat fer. Kita temenan sudah dari kecil. Kok kamu berubah begini sih."


"Itu dulu. Sekarang sudah tidak. Nggak usah munafik deh. Jujur aja, apa maksud kamu kuliah di sini."


"Aku nggak ngerti apa yang kamu maksud?"


Fera menyunggingkan senyum sinis kepada Annisa.


"Kamu sengaja kan kuliah di sini, kamu tahu Indra pasti kuliah di sini karena kuliah di kampus ini adalah impiannya."


"Aku memang tahu itu. Tapi dia bukan alasan kenapa aku kuliah di kampus ini."


"Halah pendusta, bukankah waktu itu kamu sudah berjanji tidak akan kembali dengannya jika ia tidak memintanya. Sekarang karena ia tidak muncul - muncul di hadapanmu, kamu yang menemuinya dan memintanya kembali padamu. Sungguh wanita yang licik." Ucap Fera mengingatkan Annisa.

__ADS_1


Pada waktu Annisa dan Indra mengakhiri hubungan mereka, Fera mengakui perasaan kepada Annisa bahwa ia menyukai Indra. Ia memohon agar Annisa merelakan Indra untuk nya. Annisa sudah tidak bisa memikirkan hal lain lagi selain ayahnya waktu itu.


Jadi Annisa mengatakan jika memang Fera bisa merebut hati Indra dan Indra tidak meminta kembali kepada Annisa maka Annisa akan merelakan Indra.


"Fera, dengerin aku dulu. Aku sudah melupakannya, aku ke sini memang untuk kuliah. Lagi pula aku sudah menikah." Aku Annisa dengan memperlihatkan cincin pernikahannya.


Fera meraih tangan Annisa yang tersemat sebuah cincin dan mengamatinya.


"Ini sungguhan kan? Kamu tidak berusaha untuk membohongi ku kan?" Tanyanya.


"Iya, aku sudah menikah. Dan ia tinggal di kota ini, makanya aku bisa kuliah di sini." Tutur Annisa.


"Okey, aku bisa percaya itu. Tapi apa aku bisa minta satu hal?"


"Tentu, katakan saja."


"Aku harap ini pertemuan terakhir kita. Jangan pernah berbicara dengan ku bahkan hanya menyapa. Anggap saja kita tidak saling mengenal." Ucap Fera penuh ancaman.


"Sebenarnya apa salahku denganmu? Kenapa kamu sangat membenciku? Bukankah kita sudah berteman sejak kecil?"


"Perasaanmu yang salah, kenapa kamu menyukai orang yang sama?"


"Itu karena aku tidak tahu. Lagi pula dia yang menyatakan perasaannya kepada ku."


"Tidak usah membela diri. Aku hanya ingin kamu menepati janjimu kali ini. Jauhi Indra!!"


Fera meninggalkan Annisa yang masih mematung mendengar tuduhan - tuduhan terhadap dirinya. Annisa sungguh tidak percaya bahwa orang yang dianggapnya tulus berteman dengannya kini telah berubah. Persahabatan yang terjalin telah lama putus hanya karena seorang pria.


Tanpa mereka sadari, sedari pertama mereka bertemu ada sepasang mata yang selalu mengikuti. Pembicaraan itu pun tak luput di dengarnya bahkan ia telah merekam percakapan itu.


Jika cinta telah menggelapkan matamu. Kau akan berusaha terus mengikatnya agar tak menghilang dalam kegelapan. Kau akan rela memeluk erat cinta itu dan menuntunnya dalam kegelapan. Hingga akhirnya kau dan cinta akan menemukan titik terang yang akan membahagiakan.


Sebuah takdir ibarat jembatan yang akan mempertemukan mu dengan cintamu. Tapi jika jalannya salah maka sekeras apapun kau mengejar cintamu takdir itu tak akan pernah bertemu.


Pilihlah jalan yang tepat dalam mencari cinta. Jangan biarkan salah arah. Jika kau telah menemukan cintamu. Maka jagalah dan tuntun lah dengan baik.

__ADS_1


Seperti itulah cinta yang pernah Annisa rasakan. Takdir cintanya tak dapat ia temukan. Karena rasa cinta dalam sebuah ikatan persahabatan telah membutakannya. Ia merelakan cinta yang seharusnya ia miliki untuk ditukar dengan sebuah persahabatan. Tapi nyatanya persahabatan yang ia agungkan hanya sebuah fatamorgana.


__ADS_2