
Pagi yang cerah membawa angin sejuk di antara pepohonan. Annisa dengan gembira membuka jendelanya dan sinar matahari menerobos masuk dan mengenai mata Deon.
Deon mengerjapkan matanya karena terpaan sinar mentari.
"Sayang, silau!! Tutup kembali jendelanya, aku masih mengantuk."
"Ini sudah siang, kamu lupa hari ini kita akan ke rumah orang tuamu." Jawab Annisa dengan penuh semangat.
"Bagaimana kalau nanti malam saja, aku sungguh masih ingin tidur."
"Tidak boleh, aku sudah memasak tadi nanti keburu dingin." Bujuk Annisa saat melihat Deon masih memejamkan matanya.
Masih belum ada pergerakan juga oleh Deon, Annisa berinisiatif membangunkannya dengan cara lain. Annisa mendekat dan memberanikan diri untuk mencium suaminya. Tanpa menunggu lama, ciuman Annisa langsung di balas oleh Deon. Merasa ciumannya di balas, Annisa langsung bangkit dan berdiri di samping Deon yang sudah membuka matanya.
"Kenapa berhenti, cium aku lagi." Ucap Deon dengan manja.
"Aku hanya ingin membangunkan mu, sekarang ayo segera mandi dan kita sarapan."
"Kamu bukan hanya membangunkan ku, tapi juga membangunkan adikku. Kamu harus tanggung jawab!!"
"Astagaaaaa, dasar mesum! Cepat bangun. Aku tunggu di meja makan." Ucap Annisa sambil meninggalkan Deon yang tengah sengsara akibat ulah istrinya.
Deon langsung bangkit dan menuju kamar mandi. Selesai mandi, ia langsung menuju meja makan karena masakan istrinya adalah masakan favoritnya saat ini.
Annisa menyambutnya dengan senyuman dan langsung menyendokkan nasi dan lauk pauk untuk Deon.
Tanpa ada sepatah kata, Deon langsung melahap masakan Annisa sampai habis tak tersisa. Ia seperti sudah tidak makan selama seminggu. Annisa hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya itu.
"Sudah habis." Ucapnya seperti anak kecil yang sudah menghabiskan makanannya.
"Kita ke mall yuk." Ajak Annisa.
"Memangnya apa yang ingin kamu beli sayang?"
"Aku juga bingung, kita beli apa untuk orang tua mu?"
"Tidak perlu, hanya di kunjungi saja sudah membuat orang tuaku senang."
"Tapi rasanya tidak pantas jika tidak membawa apapun."
"Tidak perlu sayang, mereka tidak memerlukan apapun kecuali cucu."
__ADS_1
"Ih apa an sih, mau modus ya?"
"Kok tau, boleh ya. Masih lama kalau nunggu malam."
"Nggak mau ah, kita jalan ke mall aja yuk. Aku merasa bosan sekarang."
"Makanya kita main aja di kamar seharian biar nggak bosan."
"Ih mesum mulu deh, ayo dong kita jalan." Annisa memasang wajah masam karena merasa kesal dengan Deon yang selalu berpikiran mesum.
"Baiklah sayang, kita jalan ke mall. Mau makan es krim?" Bujuk Deon.
"Boleh, ayo!!"
Mereka masuk ke kamar dan siap - siap berangkat ke mall. Tapi sesaat sebelum mereka melangkah menuju pintu, terdengar suara bel yang di pencet tanpa henti.
"Siapa sih yang bertamu di hari libur gini?" Tanya Deon sambil menatap ke arah Annisa.
"Nggak tau." Jawab Annisa sambil mengangkat kedua bahunya.
Karena penasaran, akhirnya mereka memutuskan untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka, nampaklah seorang wanita paruh baya dengan wajah tanpa ekspresi dan dingin. Tamu yang tak terduga akan datang sepagi ini.
Deon lalu memeluk mamanya dan mencium ke dua pipinya. Pelukannya tidak di balas hangat oleh mamanya. Tatapan mama Deon tajam mengarah ke arah Annisa. Melihat tatapan dingin itu membuat Annisa tertunduk. Deon melihat arah tatapan dari mamanya.
"Oh iya, aku lupa mengenalkan dia. Mama pasti kaget ya pagi - pagi ada wanita di rumahku."
Tidak ada jawaban dari mamanya, terlihat jelas jika mamanya tengah marah saat ini.
"Dia istriku ma, maaf jika Deon tidak memberi tahu mama lebih dulu. Rencananya nanti malam Deon berkunjung dan memperkenalkan istri Deon. Tapi mama udah datang pagi - pagi begini. Padahal kan mama baru sampai."
Tetap tidak ada sepatah kata pun dari bibir mama Deon. Itu membuat Deon sedikit bingung dan merasa bersalah kepada Annisa yang tidak mendapatkan sambutan hangat dari sang mertua.
"Mama marah ya, maafkan Deon ma tidak memberitahukan mama kalau Deon menikah."
Deon lalu menarik tangan Annisa dan membawanya agar lebih dekat dengan mamanya. Annisa menjulurkan tangannya dan memperkenalkan diri.
"Pagi ma, saya Annisa."
Namun tangan Annisa yang menjulur itu tidak di gubris oleh mama Deon. Annisa terpaksa menarik kembali tangannya yang tak mendapat sambutan itu.
"Berapa uang yang sudah kau dapatkan?" Kalimat itu yang berhasil lolos dari mama Deon sedari tadi.
__ADS_1
"Apa?!" Annisa terkejut dengan suara lantang yang mengatakan kalimat mengejutkan itu.
Mama Deon membuka tasnya dan mengambil selembar cek dari sana.
"Kau bebas menulis nominalnya dan tinggalkan tempat ini." Ucap mama Deon sambil melempar selembar cek di hadapan Annisa.
Lagi - lagi Annisa tertegun melihat kejadian yang tak pernah dia duga akan seperti ini. Annisa hanya tertunduk kaku melihat selembar cek yang kini telah berada tepat di ujung kakinya.
Melihat ekspresi Annisa sontak membuat Deon memeluk lembut istrinya itu.
"Ma, apa yang mama lakukan?"
"Sudah lah Deon, mama tidak ingin melihat wanita murahan ini dekat denganmu."
"Apa maksud mama? Dia istriku ma, bukan wanita murahan seperti yang mama bayangkan. Mama hanya tidak mengenal bagaimana ia." Bela Deon untuk Annisa.
"Mengenalnya, lalu apa kau sudah mengenalnya dengan benar."
"Tentu saja ma."
"Padahal baru beberapa hari kau mengenalnya dan dengan percayanya kau menjadikannya istri? Kau bodoh Deon! Bahkan mama merasa jijik jika wanita murahan ini menjadi menantu mama."
"Apa ini? Mama tau dari mana jika Deon baru mengenalnya? Lalu apa salahnya jika Deon merasa cocok walau hanya sebentar mengenalnya."
"Itulah bodohnya dirimu, dengan Tara yang sudah bertahun - tahun saja kau dengan mudah melepaskannya. Dan kini kau memperisrikan seorang wanita yang baru beberapa hari kau kenal."
"Deon bisa jelaskan semua ini ma, tapi Deon mohon agar mama menenangkan dulu pikiran mama."
"Tidak ada yang perlu kau jelaskan Deon, mama sudah tau semuanya. Bahkan mama tau jika wanita ini ******* yang kau bawa dari club malam."
Ucapan mama Deon kali ini benar - benar seperti anak panah yang melesat dan menghantam tepat di dada Annisa. Tubuh Annisa melemas mendengarnya dan ia tersungkur tak berdaya. Kata - kata itu benar - benar menghujam hatinya. Wanita murahan, menjijikkan dan ******* adalah kata yang membuat hatinya hancur.
"Hentikan ma, ucapan mama menyakiti istri Deon."
"Istri?! Dia hanya wanita murahan yang hanya menginginkan uang Deon. Kau sangat bodoh."
"Stop ma, dia bukan wanita seperti itu."
"Lalu dia wanita seperti apa?" Suara seorang wanita dari arah pintu.
Dengan angkuhnya ia melenggang masuk ke dalam rumah dengan beberapa foto di tangannya. Deon menatap sinis pada wanita itu. Ia sangat tidak suka, wanita itu bahkan menjadi dalang dari amarah ibunya kali ini.
__ADS_1