
Mentari pagi sudah menampakkan kilauannya.
Wangi semerbak bunga bertaburan dimana - mana. Kicauan burung terdengar merdu berirama. Cuaca cerah tak ada yang menghitam dari sang mega.
Hari yang indah bagi setiap insan. Mengundang hati yang duka dengan sebuah bisikan. Mengalun indah menyejukkan hati. Inilah sebuah tanda cinta yang sejati.
Kilau cahaya matahari yang menembus kain tipis yang menutupi jendelanya telah membangunkan Deon. Ditambah aroma wangi dari masakan khas istrinya tercium menggugah seleranya.
Deon menyunggingkan senyumnya di balik selimut dengan mata yang masih tertutup. Ia sudah hapal dengan bau masakan istrinya. Jadi dia tidak perlu meraba ke sebelahnya lagi.
Bau sedap dari masakan sang istri itu membuatnya tidak tahan untuk segera menyantapnya. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Annisa yang tengah berada di dapur, tanpa rasa lelah karena kurang tidur malah dengan riang gembira memasak di pagi hari. Deon terkekeh melihat istrinya itu memasak dengan riang sambil menyanyi dengan suara yang tidak terlalu merdu.
"Seneng banget kayaknya, apa ada yang menyenangkan?." Ucap Deon yang berbicara di ceruk leher Annisa dan sambil memeluknya dari belakang.
"Nggak kok, lagi memancing aura positif dari kebahagiaan aja biar cepat datang." Jawabnya asal.
"Memancing kebahagiaan? Emang bisa?"
"Apapun bisa terjadi sayang, yang penting yakin dan terus berdoa."
"Iya, semoga aja ya."
'Ya Tuhan, kabulkan lah impian kecilnya tentang kebahagiaan. Sungguh aku ingin senyuman itu selalu menghiasi hari - harinya.'
Deon membatin sambil memandangi wajah yang tersenyum ceria namun dengan mata yang lelah karena kurang tidur.
"Sudah masak." Ucap Annisa yang langsung menyadarkan Deon dari lamunannya.
"Ok, ayo kita sarapan." Deon langsung melepaskan pelukannya dan membawa masakan Annisa ke meja makan.
"Duuuuh, kayaknya enak nih. Bikin ngiler aja." Ucap Deon menatap makanan yang tertata di meja yang sedang di masukkan Annisa ke dalam piringnya.
Ia sudah tidak sabar untuk melahap makanan itu. Tanpa aba - aba ia langsung melahap makanan dengan rakusnya.
"Tumben masak makanan berkuah pagi - pagi?" Tanya Deon setelah selesai makan.
"Lagi pengen makan makanan yang berkuah, makanya aku rela masak padahal masih ngantuk tadi." Aku Annisa.
"Ya sudah, hari ini kita nggak usah kemana - mana."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku mau kamu istirahat aja hari ini. Kamu harus tidur. Aku nggak mau kamu kenapa - napa."
"Kamu lupa sama yang kamu bilang tadi malam?"
Annisa mengingatkan Deon tentang ucapan Deon tadi malam. Deon ingin mengajak Annisa untuk pergi ke rumah pamannya yang merupakan pemilik kampus tempat Annisa kuliah.
"Ooooh iya, aku lupa. Kalau gitu gimana kalau kita ke sana malam aja."
"Iya malam aja, kayaknya aku emang harus istirahat."
"Bentar ya sayang, aku chat paman dulu kalau kita datang ke sana malam aja." Ucap Deon yang dibalas dengan anggukan oleh Annisa
Setelah selesai dengan urusannya, Deon membantu membersihkan meja makan dan juga mencuci piring.
Hal manis tergambar indah dari semua interaksi ini. Sangat romantis bagi Annisa. Deon sangat mampu membuat Annisa tersenyum hanya dengan perlakuan sederhana. Sungguh hal kecil ini sudah membuat Annisa bahagia. Namun tetap satu kebahagiaan yang didambakannya, yaitu restu dari mama mertuanya.
"Sayang, aku mau makan rujak dong. Pengen makan yang asem - asem gitu." Ucap Annisa yang langsung mendapat tatapan aneh dari Deon.
"Rujak?!" Jawabnya.
"Kamu ngidam sayang?"
"Ya enggak lah. Kan kamu tau aku lagi pms sekarang."
"Ya kamu aneh - aneh aja gitu tiba - tiba pengen makan rujak."
"Aku emang begitu kok kalau lagi pms. Biasanya aku emang suka makan yang asem, asin, dan juga pedas." Tutur Annisa yang menjelaskan memang begitu kebiasaannya kalau lagi pms.
"Ya sudah, kita coba lihat ke kebun aja yuk. Siapa tau ada buah - buahan yang cocok buat ngerujak."
Deon langsung menggandeng tangan Annisa menuju kebun. Tidak lupa ia memakaikan topi untuk Annisa karena cuaca mulai panas.
Karena hari ini hari libur, jadi seperti biasa semua pembantu diliburkan. Jadilah Deon sendiri yang harus rela mencari buah yang diinginkan oleh Annisa. Meskipun harus berjalan di bawah terik matahari yang mulai panas karena mendekati tengah hari, Annisa sangat senang dengan semua perlakuan Deon itu.
"Nah itu ada mangga muda." Ucap Deon sambil menunjukkan jarinya ke arah pohon mangga.
"Tapi masih kecil banget sayang." Sambung Deon yang memperlihatkan ukuran buah mangga yang hanya sebesar kepalan tangan bayi itu.
"Nggak apa - apa kok, ini justru lebih enak."
__ADS_1
"Bukannya asem banget ya kalau masih muda begini."
"Aku justru lebih suka yang seperti ini, lebih nikmat rasanya." Ucap Annisa yang langsung memetik buah mangga yang memiliki pohon yang tidak terlalu tinggi.
Untungnya buah yang diinginkan dapat di jangkau dan tidak perlu menggunakan tangga untuk mengambilnya. Jadilah hanya Annisa yang memetiknya sendiri.
Sedangkan Deon hanya bergidik membayangkan betapa asamnya buah mangga muda itu.
"Duuuuh, aku langsung ngiler lihatnya. Ya sudah yuk, kita langsung ke rumah aja. Aku udah pengen langsung melahapnya.
"Nggak mau buah yang lain lagi? Masih banyak lho buah yang lainnya." Deon menawari Annisa untuk memetik buah yang lain.
"Nggak perlu, ini aja udah cukup kok. Kamu juga mau? Biar aku petik lebih banyak?"
"Nggak perlu sayang, aku mau metik semangka itu aja. Mumpung cuacanya juga pas buah bikin jus."
Kemudian mereka kembali ke dalam rumah sambil membawa buah masing - masing.
Cuaca cerah di siang hari emang paling cocok untuk membuat jus. Apa lagi jus yang di buat adalah buah semangka, pastinya sangat menyegarkan.
Tapi anehnya, buah semangka yang manis malah terasa asam bagi Deon. Pasalnya Deon meminum jus sambil melirik ke arah Annisa yang tengah memakan buah mangga muda dengan lahapnya. Ia heran melihat ekspresi wajah Annisa yang seolah - olah sangat menikmati dan tidak merasa keasaman sama sekali.
Merasa di perhatikan, Annisa menatap Deon dan menawarinya.
"Sayang mau?"
"Nggak, aku nggak suka makan mangga yang terlalu muda."
"Tapi kok kamu lihatin aku sampe segitunya sih."
"Nggak, aku merasa heran aja. Kamu kelihatan kaya nggak ngerasa asam gitu."
"Ooooh itu, aku kuat rasa asam. Karena diriku sudah terlalu manis. Heheee." Ucap Annisa sambil terkekeh.
"Ih dasar, bercanda aja. Ini jusnya diminum dulu."
"Makasih sayang. Habis ini aku boleh tidur di sini aja nggak? Soalnya di sini sejuk banget rasanya."
Annisa meminta izin untuk tidur di gazebo. Karena dari tadi mereka duduk santai di gazebo yang ada di samping rumah Deon.
"Iya boleh."
__ADS_1