
Setiap manusia punya mimpi. Mungkin sebuah impian akan masa depan. Impian yang selalu indah di nanti. Menantikan mimpi yang segera dibuktikan.
Impian yang akan di raih susah payah. Walau berpijak di Padang duri tuk menggapainya. Usaha dan terus berusaha untuk meraihnya. Agar impian itu dapat tercapai layaknya surga yang indah.
Deon mengerjapkan matanya. Ia menghela nafasnya. Ternyata yang ia lihat hanya mimpi. Kini ia telah berada di alam nyata.
Semalam ia bermimpi melihat gadis kecil yang cantik. Gadis itu juga terlihat anggun dan membuat Deon tertarik untuk mendekatinya. Gadis cantik berambut hitam legam itu melambaikan tangannya dan kemudian memeluk erat Deon.
Deon bahagia dengan pelukkan gadis kecil yang terasa nyata itu. Dan yang paling membuatnya lebih bahagia adalah gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan papa.
Rasanya Deon tidak ingin bangun dari mimpi indahnya. Tapi mungkin jauh lebih bahagia lagi jika itu bukan sekedar mimpi.
Ia duduk dan bersender di bahu ranjang. Ditatapnya Annisa yang masih terlelap tidur. Ia lalu mendekatkan dirinya pada wanita itu. Menatap intens ke bagian perut yang masih rata itu.
Besar harapannya akan mimpi yang baru ia alami. Gadis kecil yang cantik itu benar - benar ada di sana. Di rahim sang istri tercintanya.
'Tumbuhlah nak, papa menantimu.'
Terganggu akan tangan hangat yang membelai perut ratanya. Annisa terbangun dan tertawa karena sentuhan Deon membuatnya geli.
"Sudah bangun?" Tanya Deon dengan lembut.
"Sudah tapi aku masih mengantuk." Jawab Annisa dengan suara seraknya.
"Ya sudah, tidur saja lagi." Perintah Deon agar istrinya itu kembali tidur.
"Tidak, aku ada jadwal jam sembilan."
"Masih sempat kok buat tidur, nanti aku bangunin ya!"
"Kan kita sudah janji ke rumah sakit pagi ini."
Deon menghela nafasnya. Istrinya ini memang menantu idaman rupanya. Tidak mau mengingkari janjinya.
"Ya sudah kita mandi."
Deon tak dapat menolak lagi keinginan Annisa jika menyangkut dengan mamanya itu.
Tidak berapa lama mereka selesai mandi dan sarapan. Untungnya hari ini bi Ani datang pagi dan sarapan sudah tersedia di meja makan.
Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan Mita.
__ADS_1
"Pagi ma." Ucap Deon setelah ia menemukan Mita yang tengah sarapan itu.
"Pagi sayang." Sahut Mita.
"Gimana tadi malam udah jadi?" Tanya mama tanpa disaring terlebih dahulu.
"Mama kira bikin kue, di adon masukan oven lalu langsung jadi."
Mita terkekeh mendengarnya dan Annisa jangan ditanya lagi ia sudah ingin menenggelamkan dirinya ke dasar laut Antartika.
"Sudahlah Deon, kasian istrimu." Mita memang mertua terbaik yang selalu mengerti keadaan menantunya.
Lalu Mita melambaikan tangannya mengharapkan Annisa untuk mendekatinya. Dan dengan paruhnya Annisa menurut.
"Mama mau Nisa kupaskan buah?"
"Boleh, mama mau jeruknya."
Dengan telaten Annisa mengupaskan jeruk untuk mama mertuanya. Setelah terkupas bersih, Annisa menyuapi jeruk itu ke mulut Mita.
"Manis seperti yang kupasin." Ucap Mita menggoda menantunya.
Ah, mama mertuanya Annisa ini ternyata sama saja seperti anaknya. Suka sekali menggoda Annisa yang memang sensitif pipinya akan memerah jika di goda. Namanya juga ibu dan anak, kan buah jatuh nggak jauh dari pohonnya.
"Untung kamu sudah ada di sini." Ucap papa setelah melihat ke arah Deon.
"Ada apa pa?"
"Tiba - tiba papa dapat telpon dari kantor jika klien papa mau mengadakan rapat hari ini juga karena ada hal penting yang membuatnya tidak bisa menghadiri rapat yang dijadwalkan besok." Tutur papa.
"Rapatnya jam berapa pa?"
"Jam 9 pagi ini. Kamu bisa kan jaga mama kamu sebentar aja. Nanti setelah rapat papa balik lagi."
"Tapi Deon mau antar Annisa kuliah pa, dia juga punya jadwal kuliah jam 9 ini."
"Kalau begitu Annisa ikut papa aja gimana nak? Kan kantor sama kampus searah."
"Ya udah, nggak apa - apa kok pa." Jawab Annisa kepada papa mertuanya.
"Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang." Ajak papa yang langsung berpamitan pada Mita dan Deon.
__ADS_1
"Nisa berangkat dulu ya ma." Annisa berpamitan dengan Mita dan berjalan menuju ke arah Deon.
"Nanti siang aku jemput ya." Ucap Deon saat Annisa menyalaminya.
Kini mereka telah berangkat. Annisa masih terdiam tidak banyak bicara.
"Santai aja sama papa, anggap saja papa ini sebagai papa kandung kamu." Ucap papa karena menyadari kecanggungan Annisa.
"Iya pa."
"Papa tidak tahu caranya bagaimana interaksi seorang ayah dengan putrinya. Karena papa tidak pernah memiliki anak perempuan jadi ya seperti inilah. Jadi harap maklum ya."
Annisa terkekeh mendengar kejujuran papa mertuanya itu. Walau bagaimanapun ia memang sudah menganggap papa Deon itu seperti papannya sendiri.
"Kalau ada yang mengganggu kamu di kampus, bilang aja sama papa ya. Biar papa yang bereskan. Jangan mengadu sama Deon, dia terlalu terbawa suasana jika menyangkut kamu. Nanti bisa - bisa anak orang sekarat ia hajar." Papa memberikan nasehat sambil tertawa kiranya mereka tidak terlalu asing, biar lebih akrab begitu.
Tapi kalimat papa itu justru membuat Annisa berpikir. Ia teringat tentang Indra yang mengganggu dirinya di kampus. Ia jadi berpikir apakah harus mengatakan dengan papa atau tidak.
Kemudian ia tersadar akan tekatnya untuk menyelesaikan sendiri masalah itu. Ia tidak mungkin membawa keluarga barunya itu ke dalam masalahnya.
Deon yang ingin membantunya pun ia tolak. Karena memang benar kata papa bahwa anaknya itu mungkin akan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalahnya karena di barengi rasa cemburu.
Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang gedung kampus.
"Di sini aja pa." Ucap Annisa agar papa menurunkannya di tempat yang ia tunjuk.
"Nggak masuk aja sekalian, kan dari gerbang ke gedung lumayan jauh."
"Nggak apa - apa kok pa. Sekalian olah raga, masih pagi juga."
"Ya sudah, hati - hati ya."
"Iya pa, papa juga hati -. hati." Ucap Annisa setelah menyalami mertuanya itu.
Annisa keluar dari mobil dan papa melambaikan tangannya setelah mobil berjalan.
Annisa bersyukur bisa memiliki mertua sebaik itu. Kedua mertuanya sangat menyayanginya. Penuh perhatian terhadapnya. Sungguh ia tidak ingin menyakiti hati mereka sedikit pun dengan tidak ada rahasia.
Tapi tentang Indra, rasanya ia enggan untuk mengatakan kepada kedua mertuanya itu. Karena ia yakin bisa mengakhiri tentang masa lalunya tanpa ada yang terluka.
Selangkah lagi, hanya sedikit lagi usahanya untuk meyakinkan Indra bahwa sudah tidak ada lagi hatinya untuk Indra akan berhasil.
__ADS_1
Sudah beberapa hari ini ia juga mengubah penampilannya sesuai yang ia rencanakan. Tanpa harus melibatkan Deon apalagi harus melibatkan kedua mertuanya. Ia yakin bahwa ia bisa.