Dia Istriku

Dia Istriku
Istri


__ADS_3

Pagi itu di kediaman Deon, terlihat kedua orang sedang berada di meja makan menyantap sarapan yang di buat oleh istrinya. Suasana sarapan sangat hening hanya terdengar suara sendok dan piring yang saling beradu.


"Waaaah, sarapan ini sungguh luar biasa." Ucap Deon setelah menyelesaikan sarapan dan membersihkan sisa makanan yang ada di sudut kedua bibirnya.


"Terima kasih, jangan terlalu memujiku. Ini sudah tugasku."


"Aku serius, kamu sangat pandai memasak. Nanti siang antar makan siang ke kantor."


"Baiklah, tapi katakan dulu alamat kantormu, nanti aku tersesat."


"Tidak perlu, nanti akan ada pak Budi yang akan menjemputmu. Ok, aku berangkat dulu. Bye."


Kemudian Deon pergi dengan senyum manis Annisa yang berdiri menemani keberangkatannya.


Setelah bayangan mobil Deon sudah menghilang dari pandangan. Annisa masuk ke dalam dapur dan mencari bi Ani.


"Bi Ani!" Panggil Annisa yang langsung di jawab oleh Bi Ani.


"Ada apa nyonya?"


"Ada yang ingin saya tanyakan."


"Silahkan nyonya."


"Saya mau tanya, makanan kesukaan Deon apa bi?"


"Apapun yang anda masak pasti di sukai oleh tuan Deon nyonya."


"Hahaaa, bi Ani bisa aja. Apa kalau saya masak batu dia juga menyukainya?" Celetuk Annisa.


"Nyonya ternyata suka bercanda." Bi Ani terkekeh dengan candaan Annisa.


"Saya serius bi, apa makanan kesukaan Deon?"


"Tuan tidak terlalu pemilih dalam makanan nyonya, asalkan makanannya harus ada sayur."


"Itu saja? Gampang sekali kalau begitu."


"Apalagi jika memasaknya dengan penuh cinta, tuan pasti sangat senang nyonya." Goda bi Ani yang langsung membuat pipi Annisa bersemu merah.


"Ih bi Ani bisa aja, saya ke kebun dulu ya." Ucap Annisa yang langsung meninggalkan bi Ani tanpa menoleh ke bi Ani karena masih merasa malu.


'Saya harap anda bisa melakukan semuanya dengan penuh cinta nyonya, kebahagiaan tuan adalah kebahagiaan kami semua'


***


Di kantor.


Deon memanggil Joni untuk menghadap dirinya.


"Ada apa bos?"


"Bisa kau cetak foto istriku?"


"Tentu, tapi untuk apa bos."


"Hari ini aku menyuruh Annisa untuk ke kantor, dia pasti kebingungan untuk menjawab jika nanti resepsionis bertanya dengannya. Jadi, kau cetak foto ini dan serahkan pada resepsionis untuk melayaninya dengan baik dan mengantarkannya ke ruangan ku." Tutur Deon yang langsung di sambut anggukan oleh Joni.


"Siap bos."


Kemudian Joni meninggalkan ruangan dan langsung mencetak foto Annisa. Sambil menunggu foto selesai, Joni memandangi foto yang sempurna itu.

__ADS_1



'Dia sangat cantik, bos benar - benar beruntung.'


Setelah foto itu sudah selesai di cetak, Joni langsung pergi dan menghampiri resepsionis.


"Ada apa pak Joni?" Ucap Riska yang menyadari kedatangan Joni.


"Siang ini ada tamu istimewa pak Deon."


"Tamu istimewa? Siapa?" Selidik Rini teman Riska yang ada di sampingnya.


"Istri bos Deon."


"Hah, istri?!" Tanya Riska.


"Apa kami tidak salah dengar, istri pak Deon?" Sambung Rini.


"Iya. I S T R I pak Deon." Jawab Joni dengan penuh penekanan saat mengucapkan kata istri.


"Kapan bos Deon menikah?" Tanya Rini.


"Sudah beberapa hari." Jawab Joni.


"Jangan bilang Nona Tara." Tebak Riska.


"Ya bukan lah. Apa kalian lupa, kemarin saja kita mengusirnya dari kantor." Langsung di jawab Joni dengan penuh kekesalan mendengar nama Tara.


"Ya siapa tau kan kemarin pak Deon cuma mengerjainya. Syukurlah jika bukan nona Tara." Jawab Rini sambil mengelus dadanya.


"Lalu siapa?" Tanya Riska dan Rini berbarengan.


"Ini fotonya. Di ingat baik - baik jangan sampai salah. Namanya Annisa." Sambil menyodorkan foto Annisa ke tangan Riska.


"Mana? Aku juga mau lihat." Rini langsung merampas foto Annisa yang ada di tangan Riska.


"Iya benar, cantik sekali istrinya pak Deon." Rini juga ikut kagum.


"Pantas saja bos mencabut larangan berdandan kita. Wanita tercantik di kantor ini pun kalah cantiknya dengan istri pak Deon."


"Oh iya, ini kan wanita yang sama dengan yang ada di media sosialnya bos Deon."


"Masa sih?"


"Iya benar, ada tahi lalat di bawah matanya."


"Uh, sekarang aku baru percaya pengumuman itu."


"Jadi kalian meragukan pengumuman yang ku buat?" Tanya Joni kesal setelah mendengar pengumuman yang dia buat diragukan.


"Hehee, maaf pak Joni. Kalau tidak ada bukti kan kami tidak percaya." Ucap Riska memelas.


"Aku akan mengadukan pada pak Deon."


"Jangan!!! Please, sekarang kami sudah sangat percaya." Rini dan Riska memohon sambil mengantupkan kedua tangan mereka.


"Tolong pak Joni, jangan adukan dengan pak Deon." Mereka memohon lagi.


"Iya iyaa,, tidak akan ku laporkan. Asalkan kalian jangan sampai salah mengenali istri pak Deon. Dia akan sangat marah bahkan akan memecat kalian jika kalian sampai salah."


"Iya baik."

__ADS_1


"Jika nanti dia sudah di sini, langsung antarkan saja ke ruangan pak Deon."


"Ok, siap." Jawab mereka serempak.


Kemudian Joni kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


***


Di rumah, Annisa sudah terlihat sibuk menyiapkan makan siang dengan sayur - sayuran segar yang baru dia petik dari kebun.


Sedang asyik memasak terdengar suara pesan pada ponselnya. Annisa segera mengambil dan membuka pesan yang ia yakini adalah pesan dari Deon. Karena memang cuma ada kontak Deon yang ada di ponselnya.


*Sedang apa? ~ Deon


Sedang membuat makan siang untukmu. ~ Annisa


Apa sudah masak? ~ Deon


Belum, sebentar lagi. ~ Annisa


Jika sudah masak, kamu berdandan yang cantik. ~ Deon


Untuk apa? ~ Annisa


Sudah lakukan saja. Ini perintah. ~ Deon


Ok ok. ~ Annisa


Apa sudah bisa berdandan? Jika belum bisa, aku akan mengirimkan perias ke rumah. ~ Deon


Tidak perlu, aku sudah bisa. ~ Annisa


Baiklah, sampai jumpa nanti siang. ~ Deon*


Annisa langsung melanjutkan masakan yang sebentar lagi akan siap setelah mengakhiri berbalas pesan dengan Deon.


'Hanya makan siang kenapa aku harus berdandan segala sih.' Gumam Annisa karena sedikit kesal jika harus berdandan.


Kemudian Annisa membuat masakan tersebut ke dalam rantang makanan. Setelah sudah siap, Annisa buru - buru pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan berdandan. Dia ingin cepat - cepat berangkat agar masakannya tidak dingin.


"Sudah siap, apa dandanan ku tidak mencolok?" Tanya Annisa pada bi Ani yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Iya nyonya, tidak mencolok kok. Cantik natural." Jawab bi Ani sambil tersenyum.


"Syukurlah, aku kira akan mencolok karena aku tidak terlalu suka berdandan."


"Sebenarnya nyonya sudah cantik, tapi hanya di poles begini saja sudah terlihat sangat cantik."


"Terima kasih atas pujiannya bi. Oh ya, Mana pak Budi?"


"Sudah siap di depan nyonya."


"Benarkah, kalau begitu aku akan berangkat sekarang bi. Biar masakannya tidak dingin, dan di santap saat masih panas."


"Iya nyonya, sini rantangnya biar saya bawakan."


"Terima kasih bi."


"Tidak perlu sungkan nyonya, ini sudah tugas saya."


'Anda terlalu baik hati dan sopan nyonya, saya senang jika nyonya yang menjadi pendamping tuan. Saya akan sangat beruntung jika nyonya dan tuan bisa hidup bahagia selamanya.'

__ADS_1


Kemudian mobil yang di naiki Annisa berangkat menuju kantor Deon. Dengan perasaan bahagia Annisa memangku rantang makanan untuk Deon tanpa memperdulikan bahwa rantang itu terasa panas.


__ADS_2