Dia Istriku

Dia Istriku
Makan siang


__ADS_3

Annisa masih di ruangan Deon saat ini, ia ingin rehat sejenak setelah selesai makan siang. Duduk santai berdua dengan tenang sambil bercerita sedikit hal - hal yang menyenangkan. Saat masih asyik santai berdua dengan Deon, tiba - tiba ada suara ketukan.


"Masuk!" Ujar Deon setelah memastikan bahwa yang mengetuk pintu ruangannya itu adalah Joni.


"Ada apa Jon?" Tanyanya saat melihat Joni masuk dengan membawa map di tangannya.


"Ini berkas yang anda tanyakan tadi."


Deon mengernyitkan keningnya memikirkan apa yang di maksud Joni. Kemudian ia menerima berkas itu setelah mengingatnya.


"Terima kasih ya Jon."


"Iya pak, permisi." Ucap Joni yang kemudian membalikkan badannya untuk pergi ke luar ruangan karena tugasnya sudah selesai dan ia juga ingin istirahat sejenak.


Annisa hanya bingung melihat percakapan suami dan asisten suaminya itu. Ia jadi penasaran tentang berkas apa yang di antar oleh Joni.


"Berkas apa sih? Kayanya penting banget ya sampe nggak nunggu jam kerja aja ngurusnya."


"Ini berkas buat kamu, mumpung kamu di sini kan jadi biar cepat kelar urusannya." Tutur Deon sambil menyerahkan berkas itu ke tangan Annisa.


Kemudian Annisa membuka map itu dan ia sedikit kebingungan dengan berkas yang di berikan.


"Ini apa sayang?" Tanyanya.


"Formulir pendaftaran mahasiswa baru di universitas x."


"Iya aku tau, aku baca kok, tapi buat apa?"


"Ya buat kamu kuliah, kan kamu pengen kuliah."


"Emang boleh?"


"Ya boleh lah, masa nggak sih."


"Kan kemaren kamu ngelarang aku buat kerja!"


"Kuliah kan nggak harus kerja."


"Bagaimana dengan mama? Kalau aku sibuk kuliah nanti mama siapa yang ngurusin?

__ADS_1


"Tenang saja, ada bi Mina dan mbak Sri kok. Sekarang aja mereka sudah ada di rumah sakit buat jaga mama."


"Mereka siapa?"


"Pembantu di rumah mama sama papa."


"Kalau aku yang jaga kan lebih aman. Lagian aku juga sudah mengubur impianku, aku hanya ingin jadi ibu rumah tangga saja."


"Nggak lah, jadi ibu rumah tangga pun juga harus pintar sayang. Setidaknya ilmu kamu kuliah bisa di terapkan di rumah tangga, misalnya mengurus keuangan di rumah." Ucap Deon memberi pengertian kepada Annisa.


"Hmmmm, aku pikir - pikir dulu deh."


"Nggak usah pikir - pikir, langsung tanda tangani saja formulirnya. Nanti biar Joni yang mengurus semuanya."


Deon langsung mengarahkan formulir dan memberi Annisa pulpen agar ia dapat selesai menanda tangani formulirnya dengan cepat.


"Dengarkan aku, kita tidak tahu bagaimana takdir kita selanjutnya. Kita juga tidak tahu kapan maut menjemput kita. Jadi, setidaknya kamu ada bekal untuk masa depanmu jika sewaktu - waktu tuhan memanggilku lebih dulu."


Annisa langsung memeluk Deon setelah mendengar perkataan yang baru di dengarnya itu.


"Kenapa bicara seperti itu? Aku nggak suka." Ucapnya dengan lirih di dalam dekapan suaminya.


"Iya, maaf. Makanya mau ya?"


"Ada apa dengan ekspresi wajah kamu? Nggak suka sama kampusnya? Apa ada kampus lain yang kamu mau?" Tanya Deon saat ia melihat ekspresi wajah istrinya.


"Atau kamu takut di bully? Tenang saja sayang, tidak ada pembullyan di kampus ini. Kamu aman kok, lagian kampus ini juga milik om aku, adiknya papa."


"Nggak kok, ini kampus impian aku. Kaget aja bisa kebetulan sesuai dengan yang aku mau." Ucapnya dengan senyuman manis.


'Dan ini juga kampus impian dia.'


"Oke, nanti malam kita belanja keperluan kamu kuliah ya. Habis pulang kerja aku akan jemput kamu di rumah sakit."


__________________________


Setelah urusan formulir selesai, Annisa berpamitan untuk pergi ke rumah sakit. Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Annisa hanya melamun. Ia memikirkan tentang kampus yang akan ia pijak untuk belajar.


'Ya tuhan, kenapa harus kampus ini sih? Apa dia jadi kuliah di universitas ini ya? semoga aja nggak.'

__ADS_1


"Maaf Bu, kita sudah sampai." Ucap supir yang langsung menyadarkan Annisa dari lamunannya.


Annisa langsung turun dan menuju ruangan yang sudah hapal untuk di tuju oleh kakinya. Saat ia membuka pintu, terlihat bi Mina dan mbak Sri yang sedang membersihkan tubuh mama mertuanya. Kemudian ia menyapa ke dua pembantu keluarga Deon itu dengan ramah.


"Selamat siang bi Mina dan mbak Sri ya?." Tanya Annisa.


"Siang juga nyonya muda." Ucap kedua pembantu itu dengan senang atas sapaan yang di lontarkan oleh Annisa.


"Saya bi Mina dan di sebelah saya ini mbak Sri." Jawab bi Mina sambil memperkenalkan dirinya dan mbak Sri.


Mereka senang dengan keramahan Annisa, mereka bersyukur bahwa tuan muda mereka memiliki istri sebaik Annisa. Pasalnya Annisa tidak memperlakukan mereka selayaknya pembantu. Justru Annisa menganggap mereka seperti keluarga sendiri.


"Makan dulu bi, mbak. Ini Nisa sudah bawakan makanan. Tadi saya masak lebihan buat bi Mina dan mbak Sri." Ucap Annisa sambil membuka rantang dan menyiapkan makanan untuk mereka.


Annisa memang membawa makanan di lain tempat selain makanan yang dia makan dengan Deon. Rencananya makanan itu untuk papa mertuanya, tapi ternyata papa mertuanya tidak ada dan di gantikan oleh bi Mina dan mbak Sri.


"Duh nggak usah di siapkan begitu nyonya, biar mbak aja yang menyiapkannya."


"Nggak apa - apa kok mbak, kan mbak juga capek dari tadi ngurusin mama."


"Nggak kok nyonya, ini kan memang tugas kami melayani keluarga ini." Ujar bi Mina mempertegas bahwa Annisa tidak perlu melayani mereka.


"Sudah jangan berisik, makan aja. Makan yang banyak ya, jangan sampai ada sisanya!" Perintah Annisa agar kedua pembantu itu mau memakan masakannya.


"Ini masakan nyonya muda?" Tanya bi Mina.


"Iya bi, kenapa? Nggak enak ya?"


"Enak banget nyonya."


"Iya nyonya, enak banget masakannya. Saya jadi pengen nambah terus lho." Celetuk mbak Sri.


"Biasa aja lah mbak, nggak usah terlalu memuji. Makan aja mbak, nggak apa - apa kok. Nanti Nisa masak lagi kalau masih mau."


"Nggak usah repot-repot nyonya. Eh tapi beneran enak lho, kayak nggak sesuai aja sama penampilan nyonya. Saya nggak nyangka lho nyonya ini sudah cantik, baik, pinter masak lagi. Pantesan tuan muda Deon klepek - klepek sama nyonya muda."


Hingga sampai makanan itu tandas, mereka terus bercanda gurau. Yang pasti ke dua pembantu itu terus menggoda nyonya muda mereka hingga wajah Annisa memerah seperti kepiting rebus.


Tidak ada pembatas di antara mereka. Annisa menganggap ke dua pembantu itu seperti keluarganya sendiri. Sedangkan bi Mina dan mbak Sri sudah merasa nyaman dengan perlakuan Annisa kepada mereka.

__ADS_1


Saking asyiknya bercanda gurau, mereka tidak menyadari bahwa seseorang yang sedang terbaring lemah di kasur rumah sakit itu tampak berusaha untuk bangkit. Namun usahanya tidak sesuai keinginannya tapi ia berhasil mengangkat sebelah ujung bibirnya untuk tersenyum.


Gurauan mereka bertiga membuat dirinya terhibur dan ingin bangkit dan ikut bergurau bersama. Tapi mungkin saat ini tidak bisa ia lakukan, ia akan terus berusaha untuk bangkit kembali.


__ADS_2