Dia Istriku

Dia Istriku
Hari yang aneh


__ADS_3

Hari berlalu dengan kehangatan setiap detik yang terlewati. Kehidupan yang seketika berubah itu terasa manis di jalani. Indah terasa bak embun berpadukan cahaya. Mengayun indah layaknya lentera yang menyala.


Sayu terdengar nafas mengalun. Pagi indah dengan semilir hembusan angin. Pancaran iris mata yang indah. Melambai dengan sapuan kedipan hangat sebuah tatapan.


"Nanti siang aku jemput ya." Ucap Deon dengan senyum hangatnya yang berpadu dengan tatapan penuh cinta.


"Iya, aku masuk dulu ya." Jawab Annisa sambil menyematkan sebuah kecupan di bibir Deon sebelum beranjak keluar dari mobil.


Deon tersenyum, hal kecil yang di lakukan Annisa akan memberikan energi positif yang cukup besar bagi Deon.


Deon belum beranjak dari tempat mobilnya terparkir. Hingga bayangan Annisa tertutup oleh gerbang yang berdiri kokoh di kampus tempat Annisa kuliah.


Hari ini Siska mengatakan tidak bisa menjemput Kakak iparnya itu karena ada urusan. Jadi, Deon sendiri yang mengantar istri tercintanya itu.


Terasa berat berpisah walaupun hanya sebentar. Deon menarik nafasnya untuk menenangkan perasaan rindu yang masih tersisa.


Kemudian melajukan mobil perlahan yang berangsur melaju dengan cepat hingga tidak berapa lama ia sampai ke kantornya dan memulai pekerjaan dengan fokus karena keprofesionalan Deon dalam bekerja.


Di sisi lain, setelah masuk ke halaman kampus. Annisa merasa suasana yang berbeda. Tatapan dari mahasiswa dan mahasiswi yang ia lewati begitu intens. Seolah ada kotoran yang menempel di permukaan kulitnya.


Dirabanya sekitar tubuhnya, ia takut jika memang ada sesuatu yang menempel padanya. Nihil, tidak ada apapun yang ia cari. Tapi kenapa? Untuk memastikan lebih detail lagi, ia pun berjalan ke arah toilet.


Melihat diri pada kaca besar di dalam kamar mandi. Juga tidak ada yang aneh. Hingga sebelum ia keluar dari toilet, ia mendengar suara beberapa mahasiswi yang sekilas menyebut namanya.


Merasa penasaran dengan yang ia dengar. Annisa kemudian bersembunyi ke dalam toilet.

__ADS_1


"Iya, hari ini dia terlihat berbeda. Pakaiannya sederhana. Mungkin dia sudah di buang oleh om - om yang mengantarkannya kemarin." Kata salah satu mahasiswi itu saat melanjutkan pembicaraan mereka sebelum masuk.


'Siapa yang mereka maksud sih? Aku? Om-om siapa?'


"Aku yakin ia sudah di buang."


"Kasihan sekali, wajah polosnya tidak sepolos sikapnya. Wanita seperti Annisa itu doyannya sama om-om."


"Tapi aku kok penasaran sama om-om yang mengantarkannya kemarin, seperti tidak asing." Ujar wanita yang melihat Annisa yang diantar oleh papa mertuanya.


"Mungkin salah satu pejabat di kota kita, kan sering muncul di tv lokal. Kamu kan baru di kota ini, memang belum hafal sama pejabat - pejabat."


"Iya ya. Mungkin! Mahasiswa kita tidak level kalau mainannya pejabat."


Tidak lama kemudian mereka meninggalkan toilet dan Annisa terduduk kaku mendengar percakapan itu.


Dengan langkah gontai Annisa pergi ke kelasnya. Rasanya kepalanya sudah seperti mau pecah memikirkan masalah - masalah yang hadir.


'Ya, resepsi pernikahan itu memang kunci dari semua masalahnya. Aku harus sabar. Tetap fokus.'


Annisa melihat ke sekeliling ruangan. Tidak terlihat ada tanda-tanda adanya Siska. Ia ingin mengurangi beban pikirannya. Bercerita dengan Siska sepertinya bisa membantunya.


Tapi nyatanya Siska masuk berbarengan dengan dosen yang mengajar di kelasnya. Sehingga rencana untuk curhat pun tertunda sejenak.


Annisa sama sekali tidak fokus mengikuti perkuliahan kali ini. Akibat masalah yang ia hadapi. Ditambah lagi Siska yang juga terlihat aneh.

__ADS_1


Dari awal masuk kelas, Siska benar - benar membuang muka. Tidak menatapnya juga dan duduk jauh dari Annisa. Biasanya Siska akan menempel terus dengannya. Tapi hari ini berbeda.


Hingga sampai waktu perkuliahan habis. Siska tidak mau mendekat kepadanya. Tidak juga melihat ke arahnya. Dan itu membuat Annisa semakin pusing dibuatnya.


Waktu pergantian jam pun Siska juga enggan menemuinya hingga Annisa berusaha menghubungi nomor Siska agar ia bisa meminta penjelasan sebenarnya apa yang terjadi. Tapi nomor Annisa pun sudah di blok oleh Siska.


'Apa lagi sih ini? Apa Siska sudah termakan gosip yang beredar? Tapi kan Siska tidak mungkin percaya, dia kan tau segalanya tentang ku. Sepertinya aku harus cerita dengan Deon sekarang. Tidak ada jalan keluar lagi.'


Annisa pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi Deon.


Mendengar ponselnya berdering dan melihat nama yang tertera di layarnya. Deon tersenyum senang. Seketika menghilangkan rasa letih karena terlalu lama duduk berkutat dengan laptop.


"Iya sayang, ada apa?" Tanyanya dengan lembut.


"Bisa jemput sekarang? Aku merasa tidak enak badan. Dan ada sedikit masalah yang ingin aku ceritakan."


"Bukankah masih ada satu mata kuliah lagi?"


"Iya, tapi aku sepertinya ingin izin saja. Aku benar - benar merasa pusing."


"Baiklah sayang, ku jemput sekarang."


Setelah telpon terputus, tidak menunggu waktu lama Deon langsung menyambar jas dan memakainya. Ia segera berangkat untuk menemui istri tercintanya.


Dengan senyum yang terpancar, Deon melajukan mobilnya. Rasa rindu yang teramat dalam pada Annisa membuatnya tidak sabar dalam berkendara.

__ADS_1


Padahal hanya beberapa jam ia terpisah dari Annisa. Cintanya memang sedalam itu dan tidak bisa di gugat lagi.


__ADS_2