Dia Istriku

Dia Istriku
Dia Istriku part 2


__ADS_3

"Apa kau tuli? Apa perkataan ku kurang jelas? DIA ISTRIKU!!!!" Deon menjawab dengan penuh penekanan pada kata dia istriku.


Sontak semua mata yang melihat adegan ini terkejut mendengar perkataan Deon. Termasuk Tara juga terlihat melemas mendengar itu. Tapi dia berusaha sedikit tertawa menghilangkan keterkejutannya.


"Hah, apa kamu pikir aku bisa percaya?" Perkataan Tara yang sebenarnya tidak ingin di lontarkannya.


"Memangnya sejak kapan kamu menikah? Bahkan orang tuamu pun tidak tau itu. Tiba - tiba menyatakan diri sudah menikah!! Lelucon ini sangat garing, Deon." Sambungnya.


"Percaya atau tidak bukan urusanku. Pendapatmu tidak penting untukku." Ucapan Deon yang langsung menarik tangan Annisa untuk menjadi meninggalkan tempat itu.


Tapi Tara tidak menyerah, ucapannya kali ini membuat Deon menghentikan langkahnya.


"Semua karyawanmu juga tidak tahukan? Bagaimana jika ternyata wanita itu hanya seorang simpanan? Itu akan mencoreng nama perusahaan mu." Ucap Tara sukses membuat Deon berpaling dan menghadapi nya.


Terlihat Deon merogoh saku jas miliknya untuk mengambil sesuatu. Kemudian dia menunjukkan kepada Tara dan semua karyawan nya yang ada di situ Akta nikah miliknya.


"Ini, tatap dan lihat baik - baik. Akta nikah ini baru selesai pagi ini dan lihat tanggal nikahnya sudah beberapa hari yang lalu. Apa sudah jelas?!" Deon menunjukkan akta itu kesekelilingnya dan berhenti lama tepat di depan wajah Tara.


Pernyataan itu sontak membuat seluruh karyawan Deon mengucapkan selamat kepadanya.


"Oh ya, masalah resepsi aku akan mengadakannya saat orang tuaku datang dan semua orang disini saya undang termasuk kau TARA" Dengan tatapan sinis Deon sengaja menekan nama Tara.


"Orang tuamu tidak akan setuju dengan pernikahan ini Deon. Mereka pasti akan membuat mu menyesal dengan keputusanmu." Tara masih berusaha membuat Deon terpuruk.


"Setuju ataupun tidak orang tua ku. Pernikahan ini tetap sah di mata hukum dan agama. Aku akan selalu mempertahankan pernikahanku. Ku harap kau lebih tau diri untuk tidak mengganggu rumah tanggaku!!" Ucapan Deon kali ini di sambut tepuk tangan kagum oleh semua karyawannya.


Ucapannya sukses membuat Tara bungkam dan terlihat mengepalkan tangannya.


'Aku tidak akan membuat semua ini berakhir begitu saja, Deon. Lihat saja nanti, kau justru akan bertekuk lutut atas tindakanmu kali ini.' Gumam Tara dalam hatinya.


Deon langsung menarik tangan Annisa saat dia melihat Tara sudah mati kutu saat itu. Deon mengajak Annisa untuk pergi ke kantin kantor.


Ini pertama kalinya Deon makan di kantin. Terlihat karyawan yang tengah menikmati makan siang terduduk kaku saat melihat sang pemimpin juga ada dalam kantin yang mereka ketahui ini pertama kalinya bos mereka itu ada di tempat itu.


Melihat kesekelilingnya, Deon memahami keadaan bahwa semua karyawan nya merasa tidak nyaman dengan keberadaannya di tempat itu. Kemudian Deon membuka suara untuk melerai ketegangan.


"Maaf semuanya, lanjutkan saja makan siang kalian. Anggap saja saya tidak ada di sini.


'Bagaimana kami bisa menganggap anda tidak ada di sini pak? Anda terlalu bersinar di sini!' semua karyawan membatin.

__ADS_1


Semua karyawan hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


Deon memandangi Annisa yang tampak murung atas kejadian tadi. Annisa hanya tertunduk di depannya.


Kemudian Deon mengambil tangan Annisa yang terletak di atas meja dan menariknya. Dengan lembut Deon berkata untuk membuat Annisa terhibur. Annisa langsung mengangkat kepalanya saat dia merasa genggaman tangan Deon.


"Hei, jangan murung begitu."


"Maafkan aku, seharusnya aku mendengarkan kata - kata resepsionis mu agar tidak menghiraukannya. Tapi gara - gara aku...." Belum sempat Annisa menyelesaikan ucapannya tangisnya pun pecah.


"Hiks.... Hiks.... Hiks.... maaf!!" sambungnya dengan air mata yang mulai membentuk jalur di pipinya.


"Tidak apa - apa sayang. Dia memang kasar seperti itu. Aku yang salah, aku belum memberitahukan kepadamu tentang dia."


"Tidak, semua salah ku. Kamu pasti sudah sangat kelaparan kan? Tapi karena kecerobohan ku, semua makanannya tumpaaaaaah... hiks."


"Sudah, sudah sayang. Jangan dibahas lagi. Aku belum lapar kok." Rayu Deon sambil mengelus punggung tangan Annisa.


"Tapi bagaimana kamu bisa makan, kata bi Ani kamu kan tidak pernah makan di kantin kantor. Selalu minta dikirim makanan dari rumah."


Deon tersenyum melihat ketulusan Annisa.


"Hei, bagaimana jika kamu memasak untukku sekarang?"


"Tidak, memasak di dapur kantin ini saja. Aku akan menemanimu."


"Benarkah bisa begitu? Apa tidak apa - apa?"


"Tidak apa - apa. Ayo!!" Deon menarik tangan Annisa dan membawanya ke dapur kantin.


Melihat kehadiran Deon di dapur, membuat semua koki terkejut. Mereka takut jika mereka telah berbuat kesalahan yang membuat kehadiran Deon di tempat itu.


Deon sangat memahami keadaan. Seharian ini ia memang membuat gempar di kantor nya sendiri.


"Maaf mengganggu pekerjaan kalian. Saya dan istri saya akan memasak di sini. Bisa tinggalkan kami berdua."


"Tidak apa - apa pak." Jawab salah satu koki.


Kemudian semua koki beranjak dari dapur. Dan Deon pun memulai acara memasak mereka.

__ADS_1


"Bisakah kamu duduk manis saja di situ!" Seru Annisa saat melihat Deon yang juga repot menyiapkan masakan.


"Kenapa? Aku hanya ingin membantumu!"


"Tidak perlu."


"Baiklah, aku akan melihat mu di sini saja." Deon menunjuk kursi yang ada di samping Annisa.


Beberapa saat Deon memperhatikan ketelatenan Annisa dalam memasak. Tidak henti-hentinya ia merasa bersyukur memiliki bidadari cantik yang bisa membuat hidupnya berubah.


Tidak tahan hanya melihat saja. Deon mendekati Annisa dan memeluknya dari belakang. Annisa yang merasa kehangatan tangan kekar yang memeluknya membuat Annisa bersuara.


"Jangan seperti ini, aku malu."


"Kenapa malu? Tidak ada orang di sini."


Deon melanjutkan aksinya dan mulai mencium ceruk leher wanitanya itu.


"Hei, jangan mesum begini. Nanti ada yang melihat."


"Tidak akan, aku akan memecat mereka jika mereka berani mengganggu."


Annisa benar - benar merasa tidak nyaman dengan kelakuan Deon. Dia berusaha menggerakkan tubuhnya agar pelukan Deon terlepas. Namun itu justru menyulut hasrat Deon.


"Kamu membangunkan hasratku sayang. Kalau seperti ini, aku tidak hanya memakan masakanmu tapi juga akan memakanmu."


Ucapan Deon membuat pipi Annisa merona merah bak kepiting rebus.


"Wah wah, kamu bahkan sudah setengah matang." Goda Deon saat melihat figme wajah Annisa yang sudah merona.


Tak tahan dengan godaan sang suami. Annisa menyikut perut Deon.


"Dasar bos mesum!!"


"Tidak apa - apa kan dengan istri sendiri." Ucap Deon sambil terkekeh geli melihat raut wajah malu Annisa.


"Aku tidak mau melanjutkan masakannya!" Annisa memberanikan diri agar Deon tidak melanjutkan kelakuan anehnya.


Mendengar ancaman itu, membuat Deon mengalah dan membiarkan Annisa melanjutkan masakannya.

__ADS_1


"Baiklah - baik! aku akan memakanmu di rumah saja ya." Ucap Deon sambil mengecup singkat bibir Annisa.


Akhirnya Annisa dapat melanjutkan masakannya dan menyelesaikan masakan dengan cepat karena setelah itu Deon hanya duduk manis sambil menatap dirinya.


__ADS_2