
Diam lebih baik dari pada dusta dan kejujuran lisan itu awal dari sebuah kebahagiaan.
Kopi saja sudah tidak nikmat lagi setelah di diamkan, terlalu dingin untuk di nikmati. Apalagi masalah? Jika masalah di diamkan maka masalah itu akan terus berlarut dan akan menjadi lebih besar jika di biarkan terlalu lama.
Maka berbicara adalah jalan yang tepat untuk sebuah masalah.
Di sini di ruangan yang masih serba putih Annisa yang di bantu Deon duduk di samping ranjang Siska.
Siska minta tolong pada Deon untuk membawa Annisa ke ruangannya karena dia masih belum bisa bergerak karena tubuhnya masih sangat sulit di gerakan.
Annisa tentu saja sangat senang karena ia memang sangat ingin berbicara dengan Siska karena sikap Siska yang mendiamkannya.
Tidak lupa Annisa terlebih dahulu bercerita dengan Deon tentang masalah yang mereka hadapi dan itu yang membuat Deon memilih untuk ikut membantu permasalahan yang tidak selesai akibat diamnya Siska.
"Kakak ipar, maafkan aku." Ucap Siska setelah mereka bertatap muka dan di biarkan bicara empat mata oleh Deon.
"Tidak apa Siska, sebenarnya apa yang membuat kamu marah pada kakak?" Tanya Annisa yang sebenarnya masih belum tau tentang penyebab diamnya Siska.
"Maaf kak, aku yang terlalu berlebihan. Itu juga karena kakak yang tidak jujur padaku dan juga pada ka Deon." Annisa bingung karena ia merasa selalu jujur kepada mereka berdua.
Hingga beberapa menit kemudian Annisa teringat tentang apa yang belum ingin ia katakan. Sambil menarik nafas menyiapkan diri untuk berucap.
"Aku hanya ingin mengubur itu tanpa harus mengungkitnya. Dia hanya masa lalu dan itu tidak perlu ku bawa ke masa depan ku kan. Aku sudah merasa bahagia dengan Deon sekarang dan tidak perlu lagi melibatkan masa lalu."
Annisa menuturkan alasan yang ia punya karena sesungguhnya ia hanya merasa bersalah pada masa lalu dan belum siap untuk mengatakan yang sesungguhnya kepada Deon maupun Siska.
"Ia kak, aku yang terlalu kekanak-kanakan. Seharusnya aku sadar jika kakak sangat mencintai kakak ku dan aku yang tidak tau diri malah cemburu padahal aku bukan siapa-siapa bagi Indra."
__ADS_1
Annisa langsung memeluk hangat Siska, perselisihan ini telah berakhir. Tapi tiba-tiba saja Annisa teringat akan kunci utama pembuat perselisihan itu terjadi.
"Kalau boleh tau, siapa yang mengatakan denganmu bahwa Indra adalah masa lalu ku?" Annisa mulai penasaran tentang siapa itu.
"Aku juga nggak tau kak, malam itu tiba-tiba saja ada yang ngirim paket tanpa nama pengirim. Setelah aku membuka paket itu ternyata isinya foto-foto lama kakak."
Annisa terkejut mendengarnya, ia merasa mungkin kah Indra yang sudah mengirimkan paket itu. Tapi rasanya tidak mungkin lelaki yang ia kenal baik itu melakukan hal yang tidak baik.
Annisa baru menyadari bahwa urusannya dengan Indra memang belum selesai. Ia akan menyelesaikan urusannya dengan Indra terlebih dahulu agar kehidupannya di masa yang akan datang akan damai dan tidak akan ada lagi kesalahan pahaman.
"Boleh kakak lihat foto-foto itu?" Tanya Annisa dan Siska langsung menunjuk ke atas meja dimana ada tasnya di situ.
"Kakak bisa ambil fotonya ada di dalam tas ku itu."
"Sayang, masuk!!" Annisa yang juga masih belum kuat berdiri, ia memanggil Deon yang ternyata masih setia duduk di depan ruangan.
"Iya, sayang. Ada apa?" Tanya Deon.
"Tolong ambilkan tasnya Siska."
Dengan cepat Deon mengambilkan apa yang di inginkan istri tercintanya itu.
"Memang ada apa di dalam tas Siska?" Tanya Deon yang penasaran dengan isi tas Siska.
"Ada foto aku." Jawab Annisa yang langsung membuat Deon semakin penasaran.
Kemudian Deon langsung membuka tas itu sebelum menyerahkan tas tersebut kepada Annisa.
__ADS_1
Deon langsung mematung di tempatnya, dadanya seketika sesak dan terasa panas. Deon tengah cemburu. Meskipun itu hanya sebuah foto lama, bohong jika Deon tidak merasa cemburu.
"Sayang!!" Annisa yang melihat suaminya yang terlihat diam di tempat membuat Annisa sedikit khawatir.
Deon menarik nafasnya dan kemudian memberikan foto itu dengan tersenyum. Deon berusaha menyingkirkan ego yang sering menyulut rasa cemburu itu hadir.
"Maaf!" Ucap Annisa setelah menerima foto yang di berikan Deon.
"Kenapa harus minta maaf, tidak apa-apa sayang."
Deon sudah belajar menerima kekurangan bahkan kelebihan dari Annisa, kenapa dia harus marah hanya karena masa lalu.
Merasa sudah tidak ada masalah dengan Deon, Annisa mengambil foto itu dan memperhatikannya.
Annisa terlihat berpikir keras dan mengingat-ingat. Ia merasa tidak pernah mengambil foto itu. Melihat kebingungan Annisa membuat Deon dan Siska ikut penasaran.
"Kenapa kak?" Ucap Siska.
"Ada apa sayang?" Ucap Deon menimpali.
"Aku ingat foto ini kayaknya waktu kelulusan. Tapi aku maupun Indra tidak pernah punya foto ini." Lalu Annisa kembali mengingat.
"Fera!!" Ucap Annisa yang membuat Siska maupun Deon terkejut.
Ya, tentu saja Fera sangat mungkin berada di balik semua ini. Tapi yang membuat Annisa semakin bertanya-tanya adalah. Kenapa Fera melakukan semua ini. Apa motifnya mengadu domba Siska dan Annisa seperti ini.
Dan yang membuat Siska juga bingung adalah dari mana Fera tahu jika dia menyukai Indra.
__ADS_1
Sungguh Annisa tidak mengerti bahwa Fera yang melakukan hal itu. Bukan kah mereka sudah tidak ada urusan lagi.