Dia Istriku

Dia Istriku
Si Pengganggu


__ADS_3

Hari yang di tunggu - tunggu sudah datang. Deon dan Annisa masih tertidur nyenyak karena masih sangat pagi untuk bangun. Udara dingin di pagi hari ini juga membuat mereka berat untuk keluar dari hangatnya selimut yang menyelimuti mereka.


Annisa juga tidak perlu tergesa - gesa untuk membuat sarapan karena bi Ani juga sudah memasak pagi ini.


"Selamat Pagiiiiiiii......" Suara nyaring Siska menggelegar di sepenjuru ruang tamu tapi tidak terdengar di kamar Deon karena kamar mereka kedap suara.


"Selamat pagi nona, ada apa pagi - pagi sudah ke sini non?" Bi Ani langsung menghampiri pemilik suara terompet itu.


"Mau jemput kakak ipar, hari ini adalah hari pertama aku sama kakak ipar kuliah. Saking semangatnya mau kuliah aku sudah tidak sabar untuk berangkat. Bahkan aku melewatkan sarapan. Hehee." Jawabnya tanpa jeda dengan suara menggelegar khas Siska.


"Tapi nona, tuan sama nyonya belum bangun."


"Nggak apa - apa kok bi. Siska bisa tunggu kok."


"Karena nona muda ke sini belum sarapan, gimana kalau sarapan dulu. Bi Ani siapkan sekarang, mau?" Bi Ani dengan semangat mengajak Siska untuk sarapan lebih dulu.


"Waaah, ide bagus bi. Kebetulan banget."


Sambil sarapan Siska masih saja menggerutu, sebab Deon dan Annisa tak kunjung keluar.


"Nikmatnya rezeki di pagi hari, dapat sarapan gratis kan jadinya." Siska mengatakan seolah ia tidak pernah mendapat sarapan. Bi Ani hanya terkekeh mendengar gerutuan Siska yang memang sudah melekat sebagai ciri khas dari wanita itu.


"Kenapa nggak keluar - keluar ya kedua kakak tercinta ku itu." Siska masih menatap pintu kamar Deon yang tidak terlihat ada pergerakan.


"Woy kak Deon bangu! Sudah siang gini masih tidur aja. Entar rezekinya dipatok Siska lho!" Teriak Siska yang belum mendapat jawaban.


"Ih non Siska ada - ada aja deh. Emangnya non Siska ayam, mau matok rezekinya tuan muda."


"Ini sekarang rezekinya sudah Siska patok." Ujar Siska sambil menunjuk piring bekas ia sarapan. Bi Ani yang sedikit lambat dalam menanggapi ucapan Siska itu terlihat berpikir dengan keras.


"Ini lho bi, makanan itu kan rezeki. Dan sekarang Siska sedang menikmati rezeki makanan ini lebih dulu dari pada pemiliknya."


"Lah itu sih namanya makan non, bukan matok."


"Kan istilahnya bi. Ya udah ah, aku mau samperin mereka ke kamar aja."

__ADS_1


Siska langsung melenggangkan kakinya menuju kamar Deon. Seperti orang yang mengendap - endap. Ia menempelkan daun telinganya di pintu kamar mencari sebuah nada - nada suara dari pemilik kamar. Hening, tak ada suara.


Siska menggedor - gedor pintu yang langsung membuat Annisa yang baru keluar dari kamar mandi itu kaget.


"Yuhuuuuu.... Permisiiii...... Apa ada yang hidup?"


Annisa terheran - heran mendengar kalimat tak tepat itu. Tapi seketika ia menyadari ciri khas pemilik kalimat aneh itu. Pasalnya semalaman ia telponan dengan Siska yang langsung membuat Annisa terasa akrab dengan kalimatnya.


Ya, Annisa dan Siska semalaman bercerita tentang persiapan kuliah bahkan bercerita ke hal yang pribadi. Annisa dan Siska sudah sangat akrab dari hari pertama mereka bertemu.


Siska yang memang mudah berbaur itu cepat akrab dengan Annisa ditambah lagi Siska yang memang menginginkan memiliki saudara perempuan membuatnya sangat antusias terhadap apapun dari Annisa.


Begitu juga sebaliknya dengan Annisa. Ia yang juga merupakan anak tunggal sangat menginginkan memiliki saudara perempuan. Apalagi dengan sikap ceria Siska membuatnya senang sekaligus membuatnya merasa nyaman.


Menyadari kedatangan tamu membuat Annisa segera membuka pintu kamarnya.


"Halo kakak ipar." Ucap Siska sesaat setelah Annisa membuka pintu.


"Siapa sayang?" Tanya Deon yang baru keluar dari kamar mandi.


"Halo halo! Pagi - pagi sudah ganggu kesejahteraan dan ketentraman rumah tangga orang aja kamu." Ucap Deon dengan ketus.


Tapi ucapan Deon hanya mendapat kekehan dari Siska yang sudah hapal bahwa Deon hanya bercanda dengan ucapannya itu.


"Sayang kok ngomong gitu sih?" Tanya Annisa yang tidak tahu bahwa begitu lah cara kedua kakak beradik itu berkomunikasi.


Deon hanya tersenyum menampilkan barisan giginya kepada Annisa.


"Kalian sih dari tadi di tunggu nggak keluar - keluar. Jadi aku samperin deh."


"Lagian kamu pagi - pagi ke sini buat apa coba?" Tanya Deon lagi.


"Ya jemput kakak ipar buat berangkat kuliah bareng dong."


"Tapi sis, kan kita masuknya jam 10. Ini masih jam 6.30 pagi lho."

__ADS_1


"Soalnya aku sudah nggak sabar kak, mau ngobrol bareng kakak ipar lagi. Soalnya ngomong sama kakak tu seru banget."


"Seru sih seru, tapi jangan sampe lupa waktu juga Siska. Kan kakak ipar kamu sampe bangun kesiangan gara - gara kamu." Deon menasehati Siska yang membuat Annisa harus meladeni telpon Siska hingga tengah malam.


"Iya deh, mohon maafkan hamba yang mulia." Sesal Siska yang langsung bersimpuh di kaki Deon.


'Hadeeeeh, ini anak lebay nya kebangetan.' Ucap Deon membatin.


"Iya kak Deon maafin. Lain kali jangan ajak kakak ipar kamu bergadang ya. Entar baby kakak nggak jadi - jadi." Ucap Deon dengan membisikan kalimat terakhirnya di telinga Siska namun masih terdengar oleh Annisa.


"Iiiiih sayang jangan ngomong gitu sama Siska." Ucap Annisa dengan semburat kemerahan di pipinya.


"Jangan risau sayang, ini anak juga menantikan keponakan lucu. Iya kan sis?"


"Tentu, buatkan yang paling lucu ya." Ucap Siska yang langsung membuat Annisa tambah memerah karena malu.


Deon lagi - lagi merasa gemas dengan istrinya itu. Sungguh membuatnya selalu ingin menjahilinya. Menjahili Annisa sudah menjadi hobi barunya sekarang.


Deon yang tidak tahan melihat rona indah dipipi Annisa itu langsung saja mengarahkan bibirnya untuk mencium pipi istrinya itu. Dan langsung mendapat balasan tamparan di bahu Deon.


"Mesum!!" Ucap Annisa yang tambah malu karena ada Siska yang menyaksikannya.


Sedangkan Siska hanya menyunggingkan senyum miring pada keduanya. Dan berbalik meninggalkan sepasang suami istri itu.


"Iiiiuuuh BUCIN!!" Ucap Siska yang rupanya masih terdengar oleh Deon.


"Dari pada kamu JOMBLO ABADI!" Ledek Deon yang mendapat juluran lidah oleh Siska.


"BODO AMAT."


Kemudian mereka menuju ke meja makan untuk sarapan. Karena Deon juga akan berangkat untuk kerja. Ia merasa tenang dengan adanya Siska yang bisa menjaga istri tercintanya itu.


Meskipun Siska dan Deon terkadang seperti kucing dan anjing kalau berdebat. Tapi ikatan mereka sangat kuat dan mereka saling membantu satu sama lain.


Di saat Siska ada masalah pun, Deon lah yang selalu sedia 24 jam untuk membantu Siska menghadapi masalahnya. Deon juga sangat percaya dengan adik sepupunya itu hingga ia juga mempercayakan istri tercintanya dengan Siska.

__ADS_1


Karena Annisa menolak untuk di perlakukan berlebihan. Siska menjadi solusi yang tepat bagi Deon untuk menjaga Annisa.


__ADS_2