
"Kak, aku permisi ke toilet dulu ya." Siska berpamitan untuk pergi ke toilet dan mendapat anggukan oleh Indra.
Ini sebuah kesempatan bagi Indra untuk berbicara langsung dengan Annisa. Ia tidak membiarkan kesempatan ini sia - sia.
Indra menatap Siska hingga sudah tidak terlihat lagi. Lalu ia kembali menatap Annisa yang ada di hadapannya.
"Aku harap kamu tidak pernah mengungkit kembali masa lalu in." Annisa langsung mengatakan apa yang ingin ia sampaikan sebelum Indra berbicara.
"Sa, aku tahu kamu marah karena aku sudah ingkar kepadamu. Tapi aku punya alasan untuk itu. Jadi tolong, dengerin aku sekali ini saja." Indra memohon dengan penuh harapan agar Annisa dapat mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi Annisa sudah tidak perduli. Semua itu hanyalah masa lalu. Kalaupun ia mempercayai alasan itu tetap tidak akan merubah kenyataan yang ada. Bahwa kini hidupnya dan haluannya sudah pergi meninggalkan masa lalunya.
"Aku sudah menikah." Kalimat itu yang lolos dari mulut Annisa hanya mendapat senyuman sinis dari Indra.
"Berhenti menjadikan kalimat itu sebagai alasan sa."
"Itu bukan sebuah alasan in. Ini kenyataannya, aku telah menikah."
"Dengan kakaknya Siska? Hah?" Indra kembali menyunggingkan senyumnya.
"Siska anak tunggal, jadi kakaknya yang mana yang telah menikahimu?" Sambungnya.
"Tidak perlu ku jelaskan kakaknya yang mana. Aku tidak mau mengungkit privasi suamiku. Yang pasti aku sudah berkeluarga dan ku harap kamu bisa melupakan tentang masa lalu."
Indra melihat dari kejauhan bahwa Siska telah kembali dari toilet.
"Aku akan melupakan mu jika kamu bisa memberikan ku bukti bahwa kau memang telah berkeluarga. Dan jika tidak, aku akan terus berusaha mengejarmu." Ucap Indra mengakhiri percakapan mereka karena Siska yang sudah kembali.
"Ngomong apa sih kayak serius banget." Tanya Siska karena melihat ketegangan dari kedua orang yang tengah berhadapan itu.
"Nggak kok, cuma pengen kenalan aja. Karena dari pertama ketemu kayaknya kakak kamu pendiam." Kelakar Indra.
__ADS_1
Siska terkekeh tapi hatinya berkecambuk dengan kenyataan yang ia lihat. Ekspresi Annisa dan Indra seperti bukan sedang berkenalan tapi seperti sedang beradu argument.
"Sis, udah hampir sore nih. Kita pulang yuk?" Ajak Annisa, ia enggan berlama - lama berada di tempat ini.
"Oh, ok."
Kemudian Siska berpamitan dengan Indra dan Indra memberikan brownies yang ia janjikan dengan Siska. Betapa bahagianya Siska mendapatkan bingkisan dari Indra.
Sepanjang perjalanan pulang Siska hanya bersenandung riang karena hari ini adalah hari bahagia baginya. Di tambah lagi bingkisan berupa kue brownies yang di berikan Indra. Sepertinya ia akan memandangi brownies itu tanpa memakannya.
Dan bagaimana dengan Annisa? Jangan di tanya. Baginya hari ini adalah hari terjenuhnya. Ia mengurungkan niatnya untuk langsung kembali ke rumah, sepertinya ia akan mampir lagi ke kantor Deon terlebih dahulu. Karena hanya Deon lah obat dari segala kejenuhannya.
________________________________________________
Deon merapikan tempat kerjanya dan bergegas ingin pulang. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri tercintanya.
Beberapa waktu lalu orang suruhannya mengatakan semua yang ia lihat di cafe di mana tempat Annisa berada dan bertemu Indra. Lagi - lagi ucapan Annisa yang dengan jujur mengatakan hubungan mereka membuat Deon tidak henti - hentinya mengucap syukur.
Ia sangat bersyukur akan kejujuran istrinya. Dan saat ini ia sudah tidak sabar untuk berjumpa si pemilik hatinya itu. Karena ia mengetahui bahwa Annisa sudah pergi dari cafe tersebut.
Ia tau siapa pemilik tangan halus nan lembut itu. Dengan beraroma kan wangi yang sangat ia kenali.
"Hey, ada apa?"
Annisa tidak menjawab, ia hanya mempererat pelukannya. Mencium aroma tubuh yang selalu menenangkan hatinya.
"Sayang?"
"Nggak usah sok nggak tau deh." Sindir Annisa tepat sasaran.
Sebab ia sudah tau pasti suaminya itu tidak akan pernah membiarkan dirinya bebas berkeliaran apa lagi harus bertemu mantan.
__ADS_1
Deon terkekeh mendapati tuduhan yang telak itu. Ia mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang. Mengangkat kepalanya dengan lembut dan merapikan rambut yang menutupi wajah cantik Annisa.
"Tidak perlu di pikirkan berlebihan sayang. Kamu sudah melakukan hal yang terbaik. Yang penting hati kamu sudah menjadi milikku."
Annisa menatap suaminya dengan tatapan yang sangat dalam. Ia bahagia jika suaminya itu sangat percaya padanya. Annisa kembali memeluk Deon dengan erat. Benar - benar membuatnya nyaman dan tenang.
"Jadi mau terus pelukan di sini? Nggak pulang - pulang gitu? Padahal pelukan di rumah lebih enak lho." Celetuk Deon yang membuat Annisa tersenyum dalam pelukannya dan saat Annisa menatap Deon ia kembali tersenyum namun dengan bumbu - bumbu senyuman manja.
Sukses membuat Annisa tersenyum tapi ia juga mendapat cubitan di pinggangnya karena kalimat terakhir deon. Bukannya kesakitan Deon justru semakin tertawa geli. Sungguh ia merasa gemas melihat tingkah manja Annisa yang hanya ia lakukan kepada Deon.
Manjanya Annisa itu jauh melebihi manjanya Siska yang memang terlahir sebagai anak manja. Jadi Deon merasa sangat special jika hanya ia yang dapat menikmati kemanjaan sang istri.
"Makanya kita pulang aja yuk?"
"Kita ke mall!"
Deon mengernyitkan dahinya, tumben sekali istrinya ini ngajak ke mall. Tapi tak apa baginya, sepertinya Annisa memang perlu refreshing untuk menghilangkan pikiran yang tengah kusut itu.
"Mau apa ke mall?" Tanya Deon.
Saat ini mereka sudah berada di mobil dan menuju mall terdekat dan searah pada rumah mereka.
"Mau shopping baju. Tapi aku mau di butik terkenal dan beli baju yang paling mahal. Terus beli tas dan sepatu yang juga bermerk. Jangan lupa berlian juga."
Deon bingung mendengar ucapan Annisa yang baru keluar dari bibirnya itu. Seperti bukan Annisa yang biasanya. Tapi Deon enggan untuk bertanya, baginya apapun yang di lakukan Annisa pasti akan ia kabulkan demi kebahagiaan Annisa.
"Apapun yang kamu mau sayang. Atau mau kita beli sekalian tokonya?"
Annisa hanya terkekeh mendengarnya, lalu ia menyelipkan tangannya di sela lengan Deon. Dan Deon mencium puncak kepala Annisa. Tak pernah bosan ia melakukan itu kepada istri tercintanya.
Bukan tanpa maksud Annisa seperti itu. Ia sengaja membeli barang - barang bermerk untuk melancarkan rencananya. Ia sudah berpikir keras untuk membuktikan kepada Indra bahwa ia telah menikah tanpa harus mengumbar identitas Deon.
__ADS_1
Jika Indra mengenal ia sebagai wanita yang sederhana maka ia akan menjadi sebaliknya. Bukan hanya itu, karena Annisa yang dikenal sebagai gadis yang sudah tidak memiliki orang tua jadi tidak mungkinkan ia dapat membeli barang - barang mahal. Begitulah rencana Annisa yang telah ia rangkai.
Annisa sangat berharap jika Indra dapat melihat dan memahami apa yang Annisa lakukan. Bahwa semua itu adalah sebuah pembuktian bahwa Annisa benar - benar telah menikah.