Dia Istriku

Dia Istriku
Akhirnya #2


__ADS_3

"Mama sudah bangun?"


Mama mita mengangguk lemah, tenaganya masih lemah.


"Mbak Sri kenapa nggak bilang kalau mama sudah bangun?" Tanya Deon yang merasa masih terkejut dengan kondisi mamanya.


"Tadi saya mau bilang tapi telponnya sudah tuan muda matikan." Aku mbak Sri.


"Abisnya mbak ngagetin sih. Terus gimana ceritanya bisa ada penyerangan?"


"Tadi pas mbak dari toilet, saya dengar suara bell darurat yang kayaknya nggak sengaja tertekan sama seseorang yang menyamar jadi perawat tuan."


"Terus?"


"Ya saya kaget, pas saya keluar melihat nyonya sudah tidak memakai ventilator terus saya lihat perawat itu ketakutan pas lihat saya, dari situ saya curiga pas saya mau menangkapnya, dia kabur."


"Kamu ingat ciri - cirinya perawat itu?"


"Dia pakai masker tuan ya mana bisa lihat, tapi untungnya saya sempat pegang tangannya dan gelang yang ada di tangannya itu putus. Nah, ini dia gelangnya." Mbak Sri menyerahkan gelang yang sempat ia ambil dari perawat tersebut.


Deon memperhatikan gelang itu dengan cermat. Ia merasa pernah melihat gelang itu tapi ia lupa siapa pemilik dari gelang tersebut.


Tapi yang terpenting, gelang itu bisa dijadikan bukti untuk mencari siapa pelaku yang ingin menghabisi nyawa mamanya.


Mengenai kondisi mamanya, dokter telah menjelaskan apa yang terjadi. Mama Deon hanya perlu sedikit terapy saja untuk melancarkan peredaran darah agar mama Deon bisa menggerakkan seluruh tubuhnya kembali.


Untungnya sekarang mama Deon sudah siuman, sudah bisa menggerakkan bibir untuk berbicara meskipun masih terbata - bata.


Kemajuan yang besar menurut Deon dan ini keberuntungan yang luar biasa baginya.


_______________________________________________


Masih di pagi yang sama, Annisa terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya dan berusaha mengembalikan kesadarannya.


Saat ia menyadari bahwa ia masih di dalam mobil sendiri tanpa Deon yang ada di sampingnya. Ia segera bangkit dan keluar dari mobil. Sudah lebih dari satu jam setelah Deon meninggalkannya tidur di mobil.

__ADS_1


Ia berjalan meniti lorong rumah sakit sambil menggerutu kesal karena di tinggal sendiri. Hingga sampailah ia di ruangan mama mertuanya


dirawat.


Ia mengambil ganggang pintu dan memutarnya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah mama mertuanya. Ia takjub dengan pemandangan yang tak ia sangka.


Ia senang dan juga bahagia melihat mama mertuanya yang sudah siuman. Tapi ia juga takut jika mama mertuanya masih enggan menerima keberadaannya.


Deon menoleh ke arah pintu yang terbuka. Ia mendapati Annisa yang terlihat ragu untuk melangkah. Deon paham dan sangat mengerti akan kegelisahan sang istri.


Lalu ia mendekat, berusaha meyakinkan Annisa bahwa tidak ada yang perlu ia cemaskan. Ia mengambil tangan Annisa yang lembut kemudian menuntunnya menuju ke arah sang mama.


Annisa yang kini sudah menghadap sang mama mertua semakin kaku. Ia menunduk takut untuk menatap wajah yang kini terlihat tersenyum.


"Maa...ma. Min.. ta. Maa... af!" Ujar mama Deon dengan terbata - bata.


Annisa terkejut lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah yang mengatakan minta maaf kepadanya itu.


Ia terkejut kenapa mesti mama mertuanya ini yang meminta maaf. Sedangkan ia justru berpikir bahwa ia lah sumber dari segala masalah ini.


"Mama tidak salah, semuanya salah Annisa. Aku minta maaf ma, atas semua yang terjadi."


Mendengar apa yang di ucapkan Annisa, Deon mendekati Annisa yang menyapu air mata penyesalan yang telah mengalir di pipinya.


"Sudah sayang. Semua bukan salah kamu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri."


Deon memeluk istrinya dengan rasa bersalah. Karena sesungguhnya Annisa tidak ada hubungannya dengan masalahnya. Justru Annisa adalah pengobat dirinya yang terbelenggu oleh masalah itu.


Pelukan yang menenangkan itu berubah semakin menghangat saat sepasang tangan ikut melingkari pelukan mereka.


Deon tersentak mendapati tangan yang melingkari pelukan mereka itu adalah tangan milik mamanya.


"Mamaa?!"


Entah sebuah keajaiban akan kasih sayang atau atas kebesaran cinta yang tulus. Tangan yang awalnya kaku itu bisa bergerak dan kini memeluk kedua orang yang selalu menyayanginya.

__ADS_1


Kemudian mereka saling memeluk satu sama lain. Mengungkapkan rasa sayang secara tersirat. Menyampaikan rasa syukur yang tak terkira.


Mama Deon masih belum bisa lancar berbicara tapi pelukkan yang ia berikan seolah mengatakan dengan sepasang suami itu bahwa ia bersyukur akan kehadiran Annisa dalam hidup Deon. Ia seperti menyiratkan bahwa ia telah merestui pernikahan mereka.


Deon mengerti semua itu meski tak di sampaikan secara lisan. Ia paham akan rasa syukur dari mamanya. Ia juga mengerti bahwa mereka telah mendapatkan lampu hijau dari sang mama.


Tujuan berikutnya tinggal sedikit usaha lagi agar mamanya sembuh total. Dan juga mencari tahu siapa dalang dari penyerangan mamanya.


Sebenarnya Deon tidak ingin ambil pusing tentang penyerang tersebut. Justru karena penyerangan itu mamanya malah siuman dari tidur panjangnya. Ia kini bahkan bisa saling memeluk dan mendapat apa yang ia harapkan.


Tapi yang Deon takutkan bahwa penyerang itu akan kembali dan berhasil melukai mamanya. Ia sungguh tidak ingin itu terjadi makanya ia menyewa detektif handal untuk menyelidiki kasus penyerangan ini.


"Terima kasih ma sudah percaya dengan Deon."


Mama hanya mengangguk tapi jawaban itu sudah membuat Deon bahagia.


"Mama istirahat lagi ya, Deon mau konsultasi sama dokter dulu agar mama bisa sembuh total dengan cepat."


Deon membaringkan mamanya, ia sangat berharap jika mamanya cepat sembuh dan kembali ke tengah keluarga yang terasa hampa setelah mamanya tak sadarkan diri itu.


Ia memiliki banyak rencana untuk kebahagiaan masa depan keluarganya. Sebuah rencana yang selama ini ia impikan jika mamanya sadar dan sehat kembali.


Sedangkan Annisa, ia duduk di samping ranjang mama mertuanya sepeninggal Deon yang tengah menemui dokter di ruangannya. Ia bahagia atas respon mama mertuanya ini. Karena sebelumnya ia takut jika mertuanya masih tidak menerimanya sebagai menantu.


"Terima kasih ma." Ucapnya lirih sambil menatap mertuanya yang terbaring itu.


"Saa... maa.. Saa... ma." Jawab mama Deon.


"Mama istirahat aja, jangan memaksakan diri untuk berbicara."


Mama Deon tersenyum dan kemudian tangannya terulur untuk mengambil tangan Annisa. Ia mengusap perlahan punggung tangan menantunya itu.


Ia bahagia memiliki menantu seperti Annisa. Ia bersyukur jika Deon bisa bertemu dengan wanita sebaik Annisa. Meski pertemuan itu berasal dari sebuah kesalahan. Tapi ia tetap bersyukur atas pertemuan yang tidak di inginkan itu.


Kebaikan hati Annisa telah membawa dampak positif bagi mama Deon, ia mengutuk dirinya yang dulu pernah termakan hasutan Tara. Ia membenci dirinya yang menilai seseorang tanpa fakta yang sebenarnya.

__ADS_1


Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki kesalahannya. Ia akan menebus kesalahannya yang mungkin telah membuat Annisa merasa dirinya sebagai penyebab masalahnya.


__ADS_2