Dia Istriku

Dia Istriku
Di Kantor


__ADS_3

Tak ada duka di hati, hanya rasa bahagia. Tak ada lagi rasa kecewa, hanya rasa bahagia. Tak ada rasa terpuruk, hanya ada bahagia. Cinta.... Sungguh obat yang mujarab untuk sebuah kebahagiaan.


Tatapan lembut terpancar di setiap sudut matanya. Senyum bahagia terlukis indah di bibir manisnya. Tak pernah dia rasakan hidupnya seindah ini. Bak terbang tinggi ke langit ke tujuh.


"Ehem....."


Annisa menyadarkan Deon dari lamunan indahnya. Entah sejak kapan dia menyadari tatapan lembut Deon yang memperhatikannya menghidangkan makanan.


"Apa yang kamu pikirkan?" Annisa membuka suara.


"Dirimu."


"Kenapa memikirkan ku? Aku kan ada di sini."


"Dirimu juga bersarang di pikiranku."


"Ih gombal, sudahlah cepat makan."


Annisa pun duduk berhadapan dengan Deon. Dia juga ikut makan, karena dia juga belum makan siang. Annisa menyendokkan makanan di piring nya dan memberikan suapan pertama untuk Deon.


"Aaaaaa..." Perintah Annisa agar Deon membuka mulutnya.


Deon hanya mengikuti perintahnya membuka mulut. Tapi matanya terlihat memikirkan sesuatu. Mungkin Deon sedikit terkejut dengan perlakuan romantis ini.


"Hei, kenapa bengong?"


"Ah tidak, aku hanya terkejut atas inisiatif kamu menyuapi ku." Ucapan jujur Deon.


"Aku kan sedang bekerja sekarang. Lihatlah semua karyawan mu memperhatikan kita." Annisa menggerakkan dagunya ke arah karyawan yang memperhatikan mereka.


Mendengar penjelasan itu membuat hati Deon terkikis. Deon langsung lemas mendengarnya. Deon bertingkah menggemaskan seolah sedang merajuk sambil memonyongkan bibirnya.


Seolah teringat dengan perkataannya sendiri bahwa pernikahan yang mereka jalani hanya sebuah tugas penebusan hutang oleh Annisa.


"Ih, kenapa menggemaskan sekali." Annisa mencubit pipi Deon yang saat itu masih merajuk.


Tingkah mereka menjadikan tontonan romantis di kala itu.


"Sudah, jangan kau buat aku melayang tinggi ke angkasa lalu menghempaskan ku ke dalam jurang."


"Kenapa sih?" Tanya Annisa yang kebingungan akan tingkah Deon.


"Padahal aku berharap semua ini inisiatif darimu tulus dari hati. Bukan karena tugas mu."


Deon langsung menyantap makanannya tanpa henti sampai makanan yang ada di piringnya habis tak bersisa karena memang sudah sangat kelaparan.

__ADS_1


Annisa yang memperhatikan tingkahnya itu malah semakin bingung. Sepanjang memakan makanannya, dia terlihat hanya berpikir.


'Sebenarnya ini memang inisiatif dariku. Tapi maafkan aku Deon, aku masih meragu. Jika tidak memikirkan hutangku padamu, mungkin aku melakukannya dengan senang hati.'


Selesai makan siang, Deon menarik tangan Annisa untuk membawanya pergi ke ruangannya.


"Kita mau kemana?" Tanya Annisa hati - hati karena melihat Deon yang masih terlihat marah.


"Keruangan ku."


"Bukankah tugas ku sudah selesai."


"Kamu masih punya satu tugas penting. Jadi ikuti saja aku."


Annisa lalu mengikuti Deon keruangannya. Sampai di depan ruangan, sudah ada Shinta yang menyambut kedatangannya.


"Selamat siang Bu Deon."


"Maaf, nama saya Annisa bukan Bu Deon." Jawab polos Annisa.


Shinta hanya tersenyum mendengarnya, sedangkan Deon geleng - geleng kepala melihat tingkah polos Annisa.


"Oh ya Shin, apa jadwal saya siang ini?"


"Sepertinya untuk dua jam kedepan kosong pak. Nanti sore baru ada jadwal anda."


"Siap pak!!"


Deon dan Annisa pun kini telah masuk di ruangan Deon. Annisa takjub melihat ruangan luas dan mewah itu.


Tapi Deon tidak berhenti di situ, dia kembali menarik tangan Annisa dan menuntunnya menuju kamar pribadinya.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Annisa yang tiba - tiba menjadi gugup karena melihat ada kasur di kamar itu.


'Astaga, hanya melihat kasur saja dada ku jadi deg - degan gini ya.'


"Tentu saja menyuruhmu melakukan tugasmu. Bukankah kamu sangat menyukai pekerjaan ini?" Senyum jahil Deon terlukis di sudut bibirnya.


"Tugas apa yang harus di lakukan di tempat ini?"


"Aku kira kamu sudah memahaminya sayang. Tadi saja hanya melihat karyawan, kamu sudah punya segudang inisiatif."


'Aku tidak menyangka, dia pendendam sekali.'


Setelah pikiran dan tempatnya nyambung di otak Annisa. Dia berusaha menghindari Deon. Tapi dengan gerak cepat Deon menarik tangan Annisa.

__ADS_1


Kini Annisa sudah berada di dekapan Deon. Dia memandangi wajah cantik wanitanya itu. Lalu ia menyatukan kedua bibir mereka. Menciumnya dengan lembut.


"Manis." Ucapnya dengan tatapan penuh makna.


Ciuman manis itu kemudian berubah menjadi ciuman panas dan liar. Seolah - olah tidak ingin lepas. Deon ******* habis bibir istrinya. Annisa dengan napas tersendat berusaha mengimbangi Deon.


Tidak dapat ia pungkiri, Deon sangat ganas saat ini. Ia hanya membiarkan waktu satu detik untuk Annisa untuk mengambil napas. Tapi tidak lama, ciuman Deon itu justru membuat tenaga Annisa ikut tersedot habis.


Kakinya melemas dan tidak dapat menampung bobot tubuhnya saat ini. Beruntung Deon menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh. Lalu Deon menuntunnya berbaring ke atas ranjang.


Deon membuka kemejanya yang sudah basah oleh keringatnya sendiri. Dada bidang yang sixpack itu ia perlihatkan, membuat jantung Annisa berdegup sangat kencang.


Deon kembali ******* bibir Annisa, kemudian turun ke leher mulus Annisa. Benar - benar tidak ada perlawanan dari Annisa, dia sudah sangat pasrah saat ini.


Desahan halus terdengar oleh Deon saat bibirnya menyentuk dua gundukan dadanya. Annisa menggeliatkan tubuhnya tanpa ia sadari itu justru menyulut birahi Deon.


Deon masih terus menjelajahi setiap jengkal tubuh istrinya dengan bibirnya. Annisa mendesah hebat sambil meremas kuat rambut Deon. Permainan bibir Deon mampu membuat Annisa mencapai klimaksnya.


Cairan hangat sudah keluar dari pusat tubuh Annisa. Membuat Deon sudah sangat tidak sabar untuk meneruskan aksinya karena senjatanya sudah sangat mengeras.


Hanya dengan satu hentakan, kini tubuh mereka telah menjadi satu. Deon memainkan permainannya dengan sangat lembut. Keringat membasahi kedua tubuh mereka.


Annisa sudah tidak tertahankan lagi untuk mengeluarkan desahan hebat dari bibirnya. Dia sangat menikmati permainan Deon. Melihat ekspresi Annisa membuat Deon berhenti sejenak. Ia pandangi wanita yang berada dibawahnya itu. Sudah sangat berantakan namun tetap terlihat cantik.


"Jangan berhenti, teruskan!!" Racau Annisa dengan mata tertutup namun tidak tidur.


Mendengar suara serak nan seksi itu ditambah perintah panas membuat semangat Deon membara. Ia mempercepat gerakannya karena ia juga akan mencapai klimaksnya.


Semakin cepat gerakan itu semakin meracau pula bibir Annisa. Dan di saat yang bersamaan mereka mencapai klimaksnya.


"Aaaah...." Akhir permainan mereka.


Deon memeluk tubuh Annisa yang masih mengatur napasnya.


"Bagaimana? Nikmat?" Tanya Deon pada Annisa.


Annisa sudah kehabisan tenaga dan hanya menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan.


"Makanya jangan membuatku marah, ini lah hukuman untukmu."


"Aku akan terus membuatmu marah jika hukumannya senikmat ini." Annisa masih meracau tanpa ia sadari dengan sisa tenaga dan suara seraknya.


Deon terkekeh mendengarnya, lalu mengeratkan pelukannya. Kini Annisa terlelap karena sudah sangat kelelahan.


"Selamat tidur siang sayang." Ucap Deon sambil mengecup alis Annisa.

__ADS_1


Ia lalu berdiri dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Annisa. Deon langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa percintaan dan keringatnya.


__ADS_2