Dia Istriku

Dia Istriku
Berdamai Dengan Masa lalu


__ADS_3

Rumor itu rupanya juga terdengar oleh Indra. Ia justru langsung menampar siapa saja yang mengatakan berita itu.


Ia tidak percaya bahwa Annisa akan menjadi wanita seperti yang di bicarakan. Annisa tidak serendah itu.


Sekarang ia memahami suatu hal. Mungkin benar apa yang di katakan Annisa bahwa dirinya telah memiliki suami.


Jika itu memang benar, mungkin sudah saatnya Indra berdamai dengan masa lalu. Bahwa Annisa benar - benar sudah berubah. Bukan lagi wanita yang mencintainya.


Ia berpikir keras mungkin Annisa punya alasan tersendiri untuk tidak mengatakan siapa suaminya. Karena itu memang sebuah privasi.


Sulit bagi Indra menerima kenyataan. Tapi pakaian yang di gunakan Annisa memang tidak mungkin bisa Annisa beli. Lagi pula, Annisa bukan wanita yang suka membeli barang - barang mahal kecuali barang itu di belikan. Mau tidak mau ia pasti akan memakainya.


Indra sangat memahami itu. Saat ini ia hanya ingin mencari Annisa untuk mengatakan bahwa sekarang ia telah melepaskan Annisa dan merelakan dirinya untuk orang lain yang tidak ia ketahui.


Yang pasti lelaki yang mencintai Annisa adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab untuk kebahagiaan Annisa.


Karena cinta sejati tidak harus memiliki. Cukup melihatnya bahagia sudah membuktikan bahwa cinta itu akan di teruskan oleh orang lain. Rasa ikhlas juga bukti ungkapan cinta yang tulus. Membiarkan cinta orang lain yang membahagiakannya. Mengalah bukan berarti kalah.


Hingga datang seorang teman Indra membuyarkan lamunannya yang membuatnya melankolis hari ini.


"Bro, di cariin sama pak Rama tuh." Ucap teman Indra yang langsung membuat Indra sadar.


"Eh, beneran! Dimana?"


"Melamun terus sih." Ejek temannya.


"Di ruangan dosen."


"Oke, aku ke sana dulu ya."


Indra terburu - buru menuju ruang dosen hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang.


"Eh maaf kak, nggak sengaja." Sambil membantu orang yang Indra tabrak itu.


Indra sedikit merasa tidak asing melihat pria yang baru saja ia tabrak itu. Pria tampan dengan baju stelan berwarna navy itu. Ia kemudian mengingat bahwa pria itu sering ia lihat di sampul majalah bisnis. Pria termuda yang mendapat predikat terkaya di usia mudanya itu. Dan pria itu menjadi panutannya.


"Pak Deon kan." Tanya Indra.


"Eh, Iya."

__ADS_1


"Wah kebetulan sekali bisa ketemu langsung. Saya ngefans banget lho sama bapak."


"Terima kasih."


"Bapak ada perlu apa ya kalau boleh tau."


"Saya mau jemput istri saya."


"Jadi bapak sudah punya istri? Kok nggak ada beritanya ya kalau bapak sudah menikah. Saya sering mengikuti berita tentang bapak lho padahal."


"Baru beberapa bulan sih. Seminggu lagi juga mau resepsi. Nanti datang ya, semua mahasiswa di sini juga di undang karena istri saya juga mahasiswa di sini."


"Oh, jadi istri bapak masih kuliah. Saya kira dosen."


"Nggak, istri saya malah masih mahasiswa baru."


"Oh begitu, kalau boleh tau siapa ya istrinya bapak?"


"Entah kamu kenal atau tidak. Namanya Annisa. Lengkapnya Annisa Pertiwi."


Deg


Sepertinya sudah tidak salah lagi. Memang pantas dengan penampilan Annisa karena suaminya kaya raya. Kini sepertinya ia memang harus mundur dan menerima kenyataan.


"Kamu kenal?" Tanya Deon yang sedikit menyunggingkan senyumnya setelah melihat ekspresi Indra.


"Oh, Annisa kakak iparnya Siska?"


"Ah iya, kamu kenal sama Siska ya. Oh iya, kan dia sering main ke kampus ini." Ucap Deon meyakinkan bahwa Indra tidak salah menyebutkan nama orang yang ia maksud.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya. Mau cari istri saya, kami mau makan siang bareng soalnya." Deon berpamitan dengan Indra yang sudah tidak fokus lagi dengan ucapan Deon.


Di balik Indra, Deon tersenyum puas. Semudah itu ternyata menyelesaikan masalah Annisa.


'Maafkan aku yang ikut campur dengan urusanmu sayang. Kamu terlalu lambat'


Deon langsung kembali ke mobilnya. Ia tidak ingin Annisa tau tentang rencana yang telah ia lakukan. Kemudian ia menelpon Annisa dan mengajaknya untuk pulang.


"Sayang, aku sudah ada di depan kampus." Ucap Deon melalui telpon. Terdengar suara tersedak di sebrang sana.

__ADS_1


Annisa tergesa - gesa masuk ke dalam mobil. Ia tidak ingin orang lain melihatnya memasuki mobil mewah itu.


"Mau makan dulu?" Tawaran Deon untuk Annisa.


"Boleh, tapi jangan disini. Kita makan di tempat biasa aja."


Annisa benar - benar tidak ingin identitasnya di ketahui orang lain. Maka ia dan Deon makan siang di tempat yang sering mereka kunjungi. Dengan fasilitas ruang privat untuk mereka menyantap makan siang dengan tenang.


Kini mereka sudah sampai di restoran yang sering mereka kunjungi itu. Saat ini mereka tengah menunggu pesanan mereka datang sambil bercerita tentang apa saja.


"Habis ini kita langsung ke rumah sakit ya." Ucap Deon setelah mereka menyelesaikan makanannya.


"Iya."


"Kata mama, ada yang mau mama bicarakan."


"Bicara apa?"


"Ya nggak tau, nanti kita dengerin sama - sama." Dan Annisa mengangguk mengiyakan.


Sedangkan di tempat lain Indra menatap makanannya tanpa nafsu. Ia sudah tidak bernafsu lagi untuk makan siang ini. Setelah bertemu langsung dengan suami yang di rahasiakan Annisa.


Sebenarnya ia masih tidak terima semua ini. Annisa sudah bahagia dengan lelaki yang ia cintai. Sedangkan dirinya masih terbelenggu oleh cinta lama yang tak pernah kembali itu.


Berulang kali Indra menarik nafasnya dengan berat. Ia mensugesti dirinya untuk ikhlas dan memulai hidup baru. Mungkin bisa memulai percintaan baru jika memungkinkan.


Masih banyak gadis lain yang ingin bersama dirinya. Hingga seketika ia mengingat Siska. Yang ia ketahui dari gelagatnya menyukai dirinya itu. Lalu muncullah sebuah pemikiran aneh.


Ia ingin mendekati Siska. Agar ia bisa dekat dengan Annisa. Tapi seketika ia menepis pemikiran jahat itu. Annisa pasti akan sangat membencinya jika ia melakukan itu.


Dia tidak boleh mempermainkan perasaan orang lain hanya karena egonya yang tidak bisa melupakan Annisa.


'Ayolah Indra, kamu pasti bisa melupakan Annisa. Biarkan dia bahagia dengan cintanya. Itu sudah jalan takdir, dia memang bukan jodohmu.'


Pemikiran itu sering ia sugestikan agar pemikiran yang menyimpang tidak menghampiri dirinya.


Bagaimana tentang Siska? Indra juga mewanti - wanti dirinya untuk tidak lagi dekat dengan Siska meskipun gadis itu sangat menyukainya.


Ia sudah bertekad jika ia ingin melepaskan dirinya dari masa lalu. Maka ia juga harus menghindari apa saja yang dekat dengan masa lalunya itu. Memaksakan diri hanya akan menyakiti dirinya lebih dalam lagi.

__ADS_1


Cukuplah cinta itu menjadi kenangan manis yang akan menjadi kenangan indah di masa lalu. Untuk masa depan, ia akan mencari cinta sejatinya sendiri yang sudah di siapkan tuhan untuk dirinya.


__ADS_2