
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kedua insan yang kini ada di dalam satu atap namun berbeda kamar itu masih terjaga.
Deon merasa aneh tentang dirinya. Jika sebelumnya setiap detik apa yang dilakukannya pasti rasa trauma itu akan muncul. Berbeda dengan dirinya malam ini.
Dia bahkan melakukan hal yang lebih dari biasanya. Bayang - bayang perselingkuhan kekasih dan sahabatnya tidak sedikitpun terpintas di benaknya saat ia menatap dan bahkan dia sangat sadar telah mencium gadis itu tanpa ada rasa canggung.
Jika sebelumnya dia telah menjamah tubuh gadis itu. Namun saat itu dia terpengaruh alkohol pikirnya. Tapi barusan, dia dengan sadar mencium bibirnya.
Deg deg deg
Jantungnya mulai tidak terkontrol. Bibirnya tanpa disadarinya selalu tersenyum tanpa sebab. Matanya mengawang - Awang entah kemana. Tubuhnya merasa melayang pergi ke nirwana.
'*Entah rasa apa yang kurasa saat ini. Sangat indah melebihi indahnya pelangi yang menari di pelupuk mata. Sangat menarik bagai mentari yang mulai menari indah menyingsing pagi.
Jika ini cinta.... Kenapa bisa secepat ini? Kenapa begitu mudahnya kau menari di setiap bayangan semu di benakku.
Jika ini cinta.... Kenapa kehadiran mu tak dapat ku terka.'
'Aku pernah jatuh cinta. Tapi tak begini. Akalku seketika menghilang. Logikaku tak dapat memahami. Pikiranku tak dapat ku mengerti.
Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?'
'Ya tuhan, aku bahagia.... Sangat bahagia jika aku telah jatuh cinta pada gadis itu. Aku juga sangat bahagia jika kehadirannya telah menghilangkan traumaku.'
'Bolehkah aku serakah pada perasaan ini? Aku telah merebut mahkotanya. Tapi aku akan bertanggung jawab untuk itu*'
Saat deon menyadari segalanya, dia benar - benar bahagia. Seakan tak percaya. Dia jatuh cinta hanya dengan waktu singkat.
Jika dipikir secara logika, dia tak dapat memahaminya. Annisa memang sangat cantik. Namun masih banyak wanita cantik diluar sana tapi Deon tidak pernah merasakan degupan yang sama saat ia menatap Annisa.
'Aku harus mempertahankannya bagaimanapun caranya.'
**************
Di kamar sebelah
__ADS_1
Gadis itu sama halnya dengan Deon. Masih bersender di bahu ranjang. Berpikir dengan keras namun tidak dapat dimengerti juga.
'Jantung ku.... Apa kau baik - baik saja? Kenapa berdegup kencang sekali.'
Sulit untuk di mengerti arti degupannya. Jika biasanya dia selalu marah bila ada seseorang yang menyentuhnya apa lagi berani menciumnya. Tapi tidak untuk saat ini, dia seperti menikmati ciuman singkat itu.
'Aaaarrrgh...... Aku bisa gila. Ciuman pertama ku.'
Annisa berusaha keras memejamkan matanya. Dan akhirnya ia pun larut dalam keheningan malam dengan degupan jantung yang masih terasa sangat mendebarkan.
Pagi mulai memanggil mentari keluar dari peraduannya. Suasana komplek masih terdengar hening tanpa suara ayam berkokok. Disini perumahan elite, tidak ada yang memelihara ayam disini. Semua orang akan sibuk dengan pekerjaan nya masing - masing jika waktunya bekerja.
Sepasang bola mata mulai terbuka. Dia mengangkat tubuhnya sambil merentangkan tangan ke atas dan merenggangkan otot - ototnya. Bibir mungilnya mulai tersenyum tanpa di sadarinya. Hatinya merasa bahagia.
Dia segera bangun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk menyegarkan mata nya.
Dia keluar dari kamarnya dan matanya mulai memburu. Tak ada seorang pun pikirnya. Di rumah besar ini dia mulai mencari - cari dimana letak dapur.
'Rumah sebesar ini tak ada pembantu kah? Sepertinya aku mendapat lowongan kerja di sini. Aku akan mulai mencicil hutangku tuan deon.'
Tidak memerlukan waktu lama, Annisa langsung menemukan dapur yang di carinya. Langsung menyambar mencari bahan untuk memasak.
Masakan Annisa membuat tuan rumah terbangun dari tidurnya. Bau masakan yang sangat menggugah membuyarkan mimpi indahnya pagi itu. Seketika Deon teringat sesuatu. Dia ingat bahwa hari ini akhir pekan. Dan dia mengistirahatkan semua pekerja nya saat akhir pekan.
Deon pun langsung bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kemudian ia langsung pergi ke dapur.
Belum sampai ke dapur sudah mulai nampak bayangan seorang gadis yang dengan lincahnya menyajikan masakan. Deon memandangi sosok itu dengan kagum.
Kecantikannya bertambah berkali - kali lipat saat ini. Gerakan tangan yang lincah membuat Deon semakin terpesona.
Merasa ada yang mengamatinya, Annisa pun langsung menemukan sosok pria tampan yang kini menatapnya. Mata mereka saling beradu dalam pikiran masing - masing. Seketika Annisa menyadarkan dirinya.
"Maaf, apa aku mengganggu tidurmu?" Tanya Annisa serius.
"Iya, bau masakan mu membuatku terbangun."
"Ah maaf ya, aku hanya ingin memasak untukmu sebagai ucupan terima kasih. Aku merasa tidak enak karena selalu dibantu."
__ADS_1
"Tidak apa, kelihatannya enak. Apa sudah masak? Baunya membuatku lapar."
"Sebentar lagi. Sekali lagi aku minta maaf sudah lancang. Oh ya, kulihat tidak ada pembantu di sini. Apa aku boleh bekerja disini? Aku akan mulai mencicil hutangku dengan bekerja dengan mu." Ucap Annisa langsung pada poin utama keinginan nya.
"Aku sudah punya pembantu. Aku meliburkan mereka pada akhir pekan."
"Benarkah, bagaimana jika aku jadi tukang kebun atau yang lainnya uang penting aku bisa bekerja."
"Aku juga sudah punya semua pekerja di rumah ini. Kamu tidak perlu memikirkan masalah itu. Aku sudah punya pekerjaan untuk mu."
"Benarkah? Bekerja apa?"
"Nanti ku jelaskan. Sekarang jika masakan mu sudah masak lebih baik kita makan. Aku sudah sangat lapar."
"Baiklah."
Annisa pun segera menyiapkan dan menyajikan semua masakannya ke meja makan. Dengan telaten bagai seorang istri yang melayani suami nya. Annisa memasukkan nasi ke piring Deon.
Deon tertegun dengan perlakuan Annisa pagi ini. Senyum manis tertata rapi di bibirnya. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia merasa seperti seorang suami yang di layani dengan baik oleh sang istri.
'Aku harap bisa mewujudkan ini menjadi kenyataan.'
"Cobalah.... Bagaimana rasanya?"
Deon mematung pada suapan pertama. Masakan ini benar - benar nikmat dan sangat cocok dilidahnya.
"Sangat enak. Kau pandai memasak rupanya. Aku tidak bisa berhenti memakannya."
Benar saja, Deon melahap makanan di piringnya dengan lahap. Hingga tak ada yang tersisa sampai sebutir nasi pun tak nampak oleh mata.
"Benarkah? Aku sangat senang jika masakan ku cocok di lidahmu."
"Bibirmu juga cocok di bibirku." Ledek deon yang membuat Annisa segera memakan makanan di piringnya tanpa menoleh ke arahnya.
Senyuman melebar di ujung bibirnya. Deon mulai mulai suka menggoda Annisa. Dia suka melihat ekspresi Annisa saat digoda.
'Entah aku senang menggoda mu atau aku memang menyukai semua yang ada pada dirimu.'
__ADS_1
Acara memasak dan sarapan pagi ini menambah poin rasa suka ataupun cinta pada Annisa. Dia tambah yakin akan kehadiran gadis ini. Anugerah baginya yang telah lama tersakiti.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹