Dia Istriku

Dia Istriku
Dia Istriku!!


__ADS_3

Beberapa saat lagi memasuki jam istirahat. Deon terlihat sudah tidak sabar melihat istrinya itu.


Tidak berapa lama kemudian, mobil Deon yang membawa Annisa sudah memasuki halaman kantor. Annisa terlihat takjub melihat bangunan kokoh itu.


'Tidak seperti yang ku pikirkan, kantor ini sangat besar. Pasti karyawannya ratusan.' Gumam Annisa yang kagum melihat gedung tinggi tempat suaminya itu bekerja.


Tepat di seberang kantor Deon, ada sebuah mobil yang sudah beberapa menit sebelum kedatangan Annisa bertengger di tempat itu.


Itu mobilnya Tara, ia sengaja menunggu Deon keluar untuk makan siang atau menunggu adanya celah agar dia bisa bertemu dengan Deon.


Tidak berapa lama sebuah mobil yang di kenal Tara adalah mobil Deon singgah. Terlihat senyum di bibirnya. Ia segera turun dari mobilnya.


Setelah mobil Deon yang di tumpangi Annisa singgah, Tara terkejut melihat yang keluar dari mobil bukanlah Deon melainkan seorang wanita cantik.


"Loh, kok wanita sih yang keluar. Itu benar mobil Deon kan." Tara memperhatikan mobil Deon dan melihat flat mobil tersebut.


"Benar mobil Deon. Lalu wanita itu siapa? Apa pembantunya. Nggak mungkin semuda dan secantik itu." Tara berdialog dengan pikirannya sendiri.


"Aku harus menghampirinya!" Tara langsung masuk menuju kantor Deon.


Sedangkan Annisa sudah masuk dan menghampiri resepsionis yang memang sudah menunggunya. Belum sempat ia bertanya, Riska sudah bertanya dengannya secara tiba - tiba.


"Benarkah anda Annisa?" Tanya Riska dengan sopan.


'Bagaimana dia tau namaku?'


"I_Iya benar." Jawab Annisa terbata - bata.


"Sudah saya duga, saya langsung mengenali anda setelah anda datang."


"Maaf, maksudnya apa ya?" Selidik Annisa.


"Oh Iya, bos Joni sudah menugaskan kami untuk menyambut Anda." Sahut Riska.


"Anda sangat cantik, saya pikir foto yang diberikan Joni itu sudah di edit atau menggunakan filter. Kami sempat takut jika kami tidak bisa mengenali anda." Celetuk Rini.


"Foto?!" Tanya Annisa lagi.


"Ini foto anda, pak Joni memberikan nya kepada kami agar kami dapat mengenali anda." Jawab Rini sambil memperlihatkan foto dirinya.


"Ouh, pantesan tadi sudah tau nama saya."


"Mari saya antar ke ruangan pak Deon." Riska langsung menghampiri Annisa dan membawanya.

__ADS_1


Baru beberapa langkah mereka pergi dari situ, terdengar suara Tara memanggil dengan sangat nyaring. Sehingga membuat Annisa dan Riska langsung menoleh ke sumber suara.


"Tunggu!!!" Suara Tara menggelegar di lobby kantor yang membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung menoleh ke arahnya.


Ini sudah memasuki jam istirahat, jadi jelas saja banyak karyawan yang keluyuran ingin istirahat dan makan siang.


"Astaga nenek lampir ini datang." Ucap Rini pelan tanpa di dengar oleh siapa pun.


Tara dengan angkuhnya menghampiri Annisa. Dia memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambut Annisa.


"Siapa kau?" Selidik Tara.


"Tidak usah diladeni, mari kita langsung ke atas." Riska berusaha membawa Annisa agar tidak terlibat dengan Tara.


Annisa masih mematung, dia masih bingung siapa wanita yang memanggilnya ini. Annisa memang tidak tahu siapa Tara, karena Deon belum pernah memperlihatkan foto Tara karena semua tentang Tara sampai semua foto Tara sudah dia musnahkan.


Dengan polos dan sopannya Annisa, dia malah meladeni Tara.


"Maaf, ada apa ya?" Tanya Annisa dengan suara sopan dan lembut.


"Apa kau tuli, aku tanya kau siapa?" Dengan suara ketus Tara bertanya.


"Sudah saya bilang kan nggak usah di ladenin. Ini cewek emang rada - rada." Bisik Riska.


"Malah bisik - bisik lagi." Suara Tara semakin meninggi.


Namun dengan cepat tangan Tara menarik rambut Annisa yang tergerai panjang. Hingga membuat Annisa terpental mundur dan rantang makanan yang di bawa Annisa terjatuh.


PRAAAAANKKK


Semua isi dalam rantang itu terhambur berceceran di lantai lobby. Annisa hanya meratapi rantang yang sudah berserakan. Melihat itu Riska merasa bersalah karena kurang cepat membawa Annisa dari tempat itu.


'Matilah aku, kenapa aku teledor begini. pak Deon pasti akan memecat ku.' Gumam Riska.


'Sudah ku duga, nenek sihir ini membawa masalah.' Rini langsung mengirimkan pesan darurat kepada Joni.


Setelah menerima pesan dari Rini, Joni langsung menghampiri Deon.


"Gawat bos. Ada masalah di bawah." Ucap Joni yang membuat Deon mengerti maksud Joni.


Deon langsung bergegas keluar ruangannya. Dengan terburu - buru Deon berlari menuju lift.


Setelah sampai di lantai bawah, pandangan Deon langsung tertuju pada Annisa yang terlihat mematung memandang ke lantai. Deon mengikuti arah tatapan Annisa. Betapa terkejutnya dia setelah menemukan makanan yang di nanti - nantinya sudah berhamburan di lantai lobby kantornya.

__ADS_1


Di lihatnya ada Tara di tempat itu. Dia langsung menerka bahwa Tara lah penyebab kekacauan ini.


"Ada apa ini?" Suara Deon memecah keheningan.


Annisa yang melihat kedatangan Deon langsung tertunduk karena ia takut jika Deon akan kecewa.


'Apa dia akan marah padaku? Dia pasti sudah kelaparan sekarang, tapi makanannya sudah berhamburan. Seharusnya aku mendengarkan kata resepsionis ini tadi.'


Berbeda dengan Annisa, Tara sangat kegirangan melihat kedatangan Deon yang memang di inginkannya dari kemarin.


"Sayang, akhirnya aku melihatmu. Kamu tau, aku sangat merindukanmu." Ucap Tara tanpa rasa malu karena di tonton puluhan pasang mata di sana.


Tapi Deon sama sekali tidak menghiraukan ucapan Tara sama sekali. Deon justru menghampiri Annisa, dengan seketika tangan Deon menggapai pinggang ramping Annisa.


"Kamu tidak apa - apa sayang?" Tanya Deon dengan lembut yang di jawab dengan anggukan oleh Annisa.


"Tidak apa - apa, maafkan aku." Ucap Annisa lirih.


"Apa ini ulahmu?" Tanya Deon dengan tatapan tajam ke arah Tara.


"Tidak, dia jatuh sendiri." Kelakar Tara.


"Dia bohong pak, dia menarik rambut Bu Annisa hingga Bu Annisa menjatuhkan rantang makanannya." Jawab Riska yang membuat kebohongan Tara terbantahkan.


Dengan mata berapi - api Deon berusaha meredam amarahnya dengan memeluk dan menyembunyikan kepala Annisa ke dada bidangnya.


Melihat tingkah tidak biasa Deon yang memanggil Annisa, ditambah melihat pemandangan yang dilakukan Deon yang memang dia sengaja di hadapan Tara. Membuat Tara sedikit meradang dengan tatapan penuh selidik.


"Apa dia wanita yang ada di media sosialmu?"


"Iya." Deon menjawab dengan ketus.


"Siapa dia sayang? Kenapa kamu memanggil nya dengan kata sayang? Ada hubungan apa kamu dengan wanita ini?"


"Apa yang ingin kamu ketahui?"


"Semuanya, katakan semuanya siapa wanita ini."


"Siapa dia? Dia Istriku. Kenapa aku memanggilnya dengan panggilan sayang?? Karena dia istriku. Ada hubungan apa antara kami? Tentu saja suami istri." Tutur Deon dengan mempererat pelukannya kepada Annisa.


Sedangkan Annisa hanya terdiam. Ia masih bingung dengan pertemuan mendadak dengan Tara. Dan pastinya saat seperti ini diam adalah hal yang terbaik.


"Apa maksudmu?" Tanya Tara yang masih tidak percaya.

__ADS_1


"Apa kau tuli? Apa perkataan ku kurang jelas? DIA ISTRIKU!!!!" Deon menjawab dengan penuh penekanan pada kata dia istriku.


Perkataan itu membuat semua yang ada di situ terkejut termasuk Tara.


__ADS_2