Dia Istriku

Dia Istriku
Pertengkaran


__ADS_3

"Sayang, aku boleh tanya sesuatu nggak?" Tanya Annisa dengan manja.


"Silahkan!"


"Kita ke rumah paman buat apa?"


"Yaa buat kenalin kamu sama mereka dong, kan keluarga aku sudah pada tahu semua kalau aku sudah menikah, jadi ya mau aku kenalin kamu aja. Sekalian ada yang mau aku urus." Tutur Deon.


"Oh begitu."


"Ada apa sih? Kayanya ada yang mengganggu pikiran kamu."


"Hmm.... Begini.... Tapi kamu jangan marah."


"Ngomong aja, jangan di tahan."


"Tapi janji dulu jangan marah." Ucapnya dengan nada manja.


"Iya janji."


"Kalau aku kuliah nanti, boleh nggak aku merahasiakan hubungan kita." Pinta Annisa yang langsung mendapat tatapan tidak suka oleh Deon.


Deon langsung menghentikan mobil dan memarkirkan mobilnya. Karena saat ini mereka tengah berada di perjalanan menuju rumah pamannya Deon.


"Maksud kamu apa? Kamu nggak mau mengakui hubungan kita, begitu?" Dengan nada yang mulai meledak, membuat Annisa menjadi panik.


"Bukan begitu maksud ku." Belum sempat Annisa menjelaskan sudah di potong oleh Deon karena emosinya sudah tersulut sekarang.


"Kalau bukan begitu lalu apa? Oh, aku tahu. Kalau hubungan kita ini dirahasiakan. Orang - orang pasti bakalan mengira kalau kamu ini masih single. Terus kamu dengan bebas bergaul dengan siapa saja." Tuduh Deon yang langsung membuat Annisa menangis.

__ADS_1


"Bukan begitu!!" ucap Annisa dengan nada yang masih lembut karena ia mencoba mengatakannya tanpa emosi.


"Lalu apa?!"


"Bagaimana aku menjelaskan jika kamu terus memojokkan ku seperti itu. Padahal tadi sudah janji tidak akan marah." Ucap Annisa yang mulai meninggi karena Deon yang terus menyudutkan dirinya padahal ia belum selesai berbicara.


"Aku bukan mau kamu merahasiakan status ku yang sudah menikah denganmu. Aku hanya ingin diperlakukan sebagai mahasiswa biasa. Yang mana masuk dengan kemampuan ku sendiri bukan karena aku adalah istrimu." Annisa mengatakannya tanpa jeda dengan suara serak akibat sambil menangis.


"Aku masih sadar kalau aku sudah menikah. Dan aku sangat mencintaimu sebagai suamiku. Aku tidak pernah berpikir untuk menjadi wanita seperti yang kamu tuduhkan. Aku hanya tidak ingin di istimewakan. Itu saja apa aku salah." Napas Annisa sudah terasa sesak.


Ia jengkel dengan tuduhan Deon. Di sapunya air mata dengan kasar dan ia membuka pintu mobil lalu berlari tanpa arah.


Sedangkan Deon, ia masih termenung sesaat. Ia menelaah ucapan Annisa yang secepat kilat menghujam keras ke hatinya. Ia merutuki dirinya bahwa ia sangat lah bodoh. Kenapa terlalu mudah emosi padahal ia belum mendengar penjelasannya.


Seharusnya ia sadar bagaimana watak Annisa, istrinya itu memang tidak suka merepotkan orang. Ia wanita yang ingin mencapai segalanya dengan kemampuan dirinya sendiri.


Sedangkan jika kehidupan kita semudah menaiki lift. Tidak ada rasa lelah dan penat karena tidak merasakan perjuangannya. Semua yang di capai secara instan dapat tergapai. Tapi satu hal yang tidak disadari apa yang akan terjadi jika lift tersebut tiba - tiba macet. Perjuangan itu akan terhenti dan jika tidak terhenti maka lift tersebut akan terhempas dan jatuh kembali ke dasarnya. Dan Annisa bukan lah wanita yang ingin menggapai semuanya dengan cara instan.


Itu lah dua pemikiran yang berbeda dari dua insan yang telah di satukan oleh takdir. Harus ada yang mengalah dari perbedaan tersebut. Harus ada pengertian dari setiap permasalahan. Dan emosi akan mudah membelah sebuah perbedaan dengan mudah dan akan cepat remuk tak berupa.


Deon menyadari bahwa dirinya lah yang salah. Ia terlalu mencintai wanitanya itu. Hingga cemburu sangat mudah menyulut emosinya. Namun, saat ia menyadari kesalahannya. Wanita itu telah menghilang dibalik kegelapan.


Deon turun dari mobilnya. Berusaha mencari ke arah mana istrinya itu melangkah. Namun usahanya sia - sia, Annisa sudah tidak terlihat lagi dari sudut manapun.


"Sayang maafkan aku. Kamu kemana? Ya Tuhan, kenapa aku bodoh sekali. Dasar bodoh bodoh bodoh." Ucapnya merutuki dirinya sendiri.


Deon kembali ke dalam mobilnya. Di raihnya ponsel dan ia segera menghubungi Annisa. Tidak ada jawaban dari Annisa. Annisa mendiamkan ponselnya yang ada di dalam tas.


Kini Annisa hanya termenung di kursi taman yang tidak jauh dari tempat mobil Deon berhenti. Tapi karena di taman itu sepi dan Annisa juga duduk di tempat gelap sehingga Deon tidak melihatnya padahal Deon tau bahwa ada taman di dekatnya.

__ADS_1


Annisa marah kepada Deon, ia merasa Deon terlalu posesif terhadap dirinya. Wajar sih sebenarnya jika Deon posesif atas dirinya karena dia adalah istrinya. Tapi kali ini Deon sudah keterlaluan menurut Annisa.


Entah sudah berapa kali Deon menghubunginya, Annisa hanya ingin menenangkan dirinya saat ini sehingga ia tidak menyadari ada panggilan dari Deon karena ponselnya silent.


"Sayang, please angkat telponnya." Deon berulang - ulang kali mencoba menghubungi Annisa tapi masih belum di angkat.


Kemudian Deon mulai berjalan mencoba menyusuri jalan dengan berjalan kaki. Tapi sayangnya, jalan yang di tuju Deon berlainan arah dari tempat Annisa berada.


Mata Deon tidak berhenti menyusuri jalan yang ia lewati. Sambil sesekali ia melirik ponselnya tapi panggilannya belum juga di angkat oleh Annisa.


Ini pertengkaran pertama mereka, tapi Deon sudah serapuh ini dan tidak henti - hentinya ia mengatakan bahwa dirinya bodoh. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia akan menyakiti wanita yang sudah ia janjikan akan ia bahagiakan selamanya itu.


Hanya karena hal sepele saja ia sudah menyakiti wanitanya. Hanya karena kebodohannya ia sudah mengingkari janjinya. Sungguh Deon sangat menyesal.


Pikirannya mulai kacau. Bayang - bayang Annisa yang akan meninggalkannya sudah mengawang - awang di benaknya. Dia tidak sanggup jika harus kehilangan istri tercintanya itu.


"Kenapa kamu nggak angkat - angkat telponnya sih sayang. Maafkan aku sudah egois."


Deon semakin khawatir karena telponnya tak kunjung ada jawaban. Ia juga takut terjadi sesuatu karena Annisa masih belum mengetahui daerah tersebut.


Deon sudah sangat jauh melangkah tapi tidak ada tanda - tanda adanya Annisa. Lalu Deon kembali ke tempat di mana ia memarkirkan mobilnya dan mencari Annisa lagi ke arah lain.


Pikirannya sudah mulai kacau saat ini. Entah sudah berapa puluh panggilan yang keluar belum mendapatkan jawaban. Hingga pikirkan yang aneh - aneh semakin melintasi pikirannya.


Tiba - tiba ada sebuah notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Deon belum membuka pesan itu tapi masih bisa terlihat tulisannya di layar kunci.


"Mohon maaf....."


Dan kaki Deon seketika melemah dan ia tersungkur di tempat.

__ADS_1


__ADS_2