
"Siska mencintainya!"
"Apa?!"
Deon terkejut, ia tidak menyangka bahwa adik kesayangannya kini telah dewasa dan memiliki rasa cinta terhadap lawan jenisnya.
Tapi yang membuat Deon tambah kaget adalah kenapa harus dengannya? Kenapa harus lelaki yang sama dengan lelaki yang harus dia jauhkan dari Annisa.
Jangan salahkan Siska terhadap rasa cintanya yang ia rasakan. Ini semua mengalir begitu saja. Toh Siska juga tidak tahu semua kebenarannya. Tentang masa lalu lelaki yang ia cintai.
"Siska bilang semuanya?"
"Iya, ia bicara semuanya tentang rasa cinta yang ia rasakan. Bahkan rasa cinta itu lah yang menjadi landasan untuknya kuliah dan bertahan di sini." Tutur Annisa kepada Deon.
Deon hanya terdiam, ia masih bingung caranya agar semua baik - baik saja tanpa ada yang tersakiti. Ia tau Siska akan tersakiti jika ia egois karena rasa cemburu terhadap lelaki yang pernah mengisi relung hati sang istri.
Haaaah
Deon membuang nafasnya dengan kasar, ia masih bingung.
"Lalu, bagaimana dengan Indra? Apa dia tau bahwa Siska menyukainya dan apakah ia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Siska?"
"Sepertinya tidak. Kemarin waktu Siska curhat di telpon, ia mengatakan bahwa pria yang ia sukai sangat sulit untuk di dekati. Hatinya telah beku untuk orang lainn. Ia mengatakan bahwa hatinya sudah dimiliki. Kurasa maksudnya itu aku."
"Sayang, ceritakan yang sejujurnya kisah kalian." Deon masih merasa bingung, kalaupun mereka sudah putus kenapa Indra seperti menganggap mereka masih saling mencintai.
"Waktu itu kami hanya memutuskan untuk break sementara saat kondisi ayah yang semakin memburuk. Aku hanya ingin fokus merawat beliau."
Break
Itu memang bukan suatu keputusan bahwa mereka sudah berpisah.
"Lalu saat ia pergi untuk kuliah, ia berjanji akan kembali untuk memastikan hubungan kami akan berlanjut atau tidak. Tapi sekian lama aku menanti jawabannya ia tak kunjung datang. Bahkan saat aku memerlukan bahu untuk menangis ia juga tidak datang."
Annisa terlihat menarik nafasnya dengan berat. Sepertinya ia enggan mengingat masa lalu yang menyakitkan baginya itu.
"Tapi, apa hubungannya dengan teman wanita kamu yang kamu lihat di mall kemarin?"
Pertanyaan Deon kali ini malah membuat Annisa terkejut. Ia mengerutkan dahinya karena bingung. Pasalnya ia belum menceritakan keterlibatan Fera dalam hubungan mereka.
"Dari mana kamu tau?"
Annisa lalu celingukan melihat ke seluruh pakaiannya. Mungkinkah ada penyadapan suara hingga Deon mendengar pembicaraannya dengan Fera saat Siska di toilet.
Menyadari kesalahannya, Deon langsung menjelaskannya.
"Sayang, maafkan aku. Bukannya aku tidak mempercayaimu. Tapi aku hanya ingin menjagamu dari siapapun yang akan mengganggumu. Aku menyuruh seseorang mengikuti kalian di kampus."
__ADS_1
Hahh, benar kata Siska bahwa suaminya ini tidak akan tinggal diam membiarkannya berkeliaran tanpa penjagaan.
"Tidak apa sayang, aku mengerti. Terima kasih sudah menjagaku."
"Lanjutkan cerita tadi!"
"Setelah beberapa hari pemakaman ayah, Fera datang dan mengatakan bahwa Indra tidak akan pernah datang. Saat itu lah kurasa hubungan kami benar - benar berakhir."
"Itu artinya hanya Indra yang tidak ingin melepaskanmu. Kalau begitu aku akan datang ke kampus dan memberi pengertian kepadanya."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Biar aku saja. Aku ingin mengakhiri semuanya dengan baik - baik. Tapi masalahnya, bagaimana dengan Siska?"
"Perlahan saja sayang, selesaikan saja urusan kamu dengan Indra terlebih dahulu."
________________________________________________
Di tempat lain, di waktu yang sama.
"Kenapa kamu seperti ini sih in?"
Fera menangis tersedu saat tangan Indra terlepas dari genggamannya.
Indra yang sudah menjauh beberapa langkah dari Fera itu langsung berbalik saat ia mendengar nama wanita yang amat ia cintai disebut.
"Kamu sudah tau?"
"Iya, aku sudah tau ia kuliah di kampus kita dan bahkan kami sudah berbicara."
"Kenapa kamu nggak bilang?"
"Untuk apa?! Supaya kamu bisa menyambutnya begitu? Dengar in, dia sudah tidak cinta lagi sama kamu."
"Tidak, ia tidak pernah berubah. Perasaannya tidak pernah berubah. Perasaannya tetap sama seperti dulu. Ia masih mencintai ku."
"Sadar lah in, dia bahkan sudah menikah."
"Tidak, dia berbohong. Dia hanya sedang marah padaku. Dan itu semua karena kamu." Indra menunjukkan jarinya tepat di hadapan Fera.
"Jika saja kamu tidak menghasut mama ku. Maka waktu itu aku bisa menemuinya dan dia tidak akan bersikap seperti ini kepada ku." Sambungnya.
Fera menggelengkan kepalanya, mengatakan bahwa ini bukan salahnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya itu.
"Aku melakukan semua ini karena aku cinta sama kamu in. Bahkan orang tuamu lebih menyukai ku dari pada Annisa. Dan hubungan kalian akan sia - sia juga tanpa restu orang tua mu."
__ADS_1
"Dan itu semua karena kamu!"
"Apa?!"
"Jangan kira aku tidak tau semua kebusukan kamu fer. Kamu sungguh wanita yang licik."
Wajah Fera seketika memucat. Indra tau semuanya? Benarkah itu.
Seolah mengerti dengan melihat ekspresi dari Fera. Indra mengatakan semuanya, semua kebusukan Fera.
Bagaimana ia menghasut mama Indra agar mamanya membenci Annisa. Bagaimana ia membuat sandiwara agar ia tak bisa lagi bertemu dengan Annisa.
Indra tau, ia tau semuanya. Tapi kenapa ia tidak melawan? Bukan apa - apa, ia hanya mengumpulkan semua bukti - bukti tentang semua kebusukan Fera. Agar dengan telak ia menjatuhkan Fera dan menjauh pergi dari kehidupannya selamanya.
Fera terkulai lemah mendengar tuturan dari Indra. Ia tidak menyangka bahwa sesuatu yang ia sembunyikan dengan rapat - rapat telah diketahui oleh Indra.
Sudah tidak ada harapan lagi bagi Fera untuk menggapai cintanya. Bahkan setitik harapan pun tak ada. Semuanya telah berakhir. Usahanya yang selama ini ia lakukan untuk mengejar cintanya Indra kini telah hancur.
Indra kemudian pergi meninggalkan Fera yang tertunduk dengan deraian air mata yang mengalir menelusuri pipi dan jatuh ke tanah.
Apakah ia sedang menyesali perbuatannya?
Tidak
Dia bukan wanita sesuci itu. Fera tidak mudah putus asa dengan apa yang ingin di raihnya. Jika ia gagal, maka orang lain pun juga harus gagal.
Ia mengepalkan tangannya. Bersumpah kepada dirinya.
'Jika aku tidak bisa memilikimu, maka orang lain pun tidak bisa memilikimu. Kamu akan menyesal memperlakukan ku seperti ini. Aku akan membuatmu merasakan sakitnya hati lebih dari ini.'
Cinta yang tak terbalas membuatnya terpuruk. Menimbulkan rasa dendam yang membara. Membuatnya melupakan norma kemanusiaan. Segala jalan dalam keburukan terasa jalan menuju surga.
Ketahuilah....
Cinta tak dapat dipaksakan.
Cinta juga tak dapat dituntun bagaimana ia harus melangkah.
Cinta itu ibarat air yang mengalir begitu saja saat jatuh dari ketinggian.
Memenuhi ruang hati bagaimanapun bentuk tempat yang akan menampungnya.
Cinta juga ibarat mata air yang jernih.
Maka sedikit kesalahan saja yang menodainya, maka cinta itu tak lagi sama seperti semula.
Noda itu telah berbaur dan merubah warnanya.
__ADS_1