Dia Istriku

Dia Istriku
Tertawa Bersama


__ADS_3

Annisa sedang duduk manis di taman rumah sakit. Deon sudah menelpon dirinya bahwa ia sudah di perjalanan menuju rumah sakit sekarang. Tak sabar menunggu dan merasa bosan berada di dalam ruangan mama mertuanya ia berjalan - jalan sebentar di taman rumah sakit.


Lagi pula mertuanya itu sudah ada yang menjaganya di tambah lagi baru saja papa mertuanya juga datang. Jadi ia bisa bersantai sekarang.


Tiba - tiba ada sepasang tangan menutupi kedua matanya dari belakang. Tapi karena aroma parfum dari pemilik tangan itu sudah sangat ia hafal, jadi ia hanya tertawa menanggapinya.


"Kenapa malah ketawa sih?" Tanya Deon yang tidak menerima tanggapan dari Annisa yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.


"Kamu kalau mau ngerjain aku belajar dulu dong." Guraunya sambil memutar tubuhnya menghadap Deon dan kemudian ia mencubit pipi Deon dengan gemas.


"Aku hafal bau parfum kamu tau!" Ucapnya karena Deon tidak menjawab.


"Ini kan bukan parfum limited edition, jadi selain aku pasti ada yang memakainya."


"Cincin kawin kita. Aku juga hafal bentuk dari cincin kawin kita." Ucap Annisa Bahar sambil tersenyum.


Deon memukulkan tangannya ke dahi karena menyadari kegagalannya. Annisa hanya terkekeh geli melihatnya.


"Udah lah, kita masuk dulu. Kamu mau lihat mama dulu kan?"


"Iya, barang - barang kamu juga masih di dalam kan?


Hanya dijawab dengan anggukan oleh Annisa. Kemudian Annisa langsung menggandeng tangan suaminya itu untuk masuk ke dalam ruangan tempat mama mertuanya dirawat.


"Selamat malam semuanya." Ucap Deon menyapa orang - orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Malam Deon. Bagaimana kerjaan kamu? Masalahnya sudah beres kan?" Jawab papa Deon yang langsung menyambarkan pertanyaan tentang pekerjaan.


"Masih belum sih pa. Masih ada yang belum di atasi. Tapi besok kayaknya sudah beres. Tadi aku sudah minta tolong sama Joni dengan Shinta buat menyelesaikan masalahnya." Tuturnya menjelaskan kepada papa.


"Kalau masih belum selesai, papa bisa bantu kamu. Jangan sungkan untuk minta bantuan papa."


"Tidak perlu pa Deon pasti bisa menyelesaikannya, terima kasih papa selalu peduli sama Deon."


"Ya sudah, tapi kalau ada masalah darurat yang tidak bisa kamu selesaikan. Papa selalu siap untuk digunakan membantu kamu."


"Oh ya pa, bagaimana keadaan mama?"Tanya Deon sambil memandangi wajah pucat mamanya yang masih terbaring dengan peralatan yang masih lengkap terpasang.


"Ya begini lah, masih belum ada perubahan lain. Hanya bisa menggerak - gerakkan jari saja."

__ADS_1


"Kita harus terus bersabar dan berdoa saja pa."


Beberapa saat hanya keheningan yang tercipta di ruangan itu setelah percakapan itu selesai.


"Tuan muda banyak berubahnya ya sekarang." Celetuk mbak Sri untuk mencairkan kembali keheningan yang terjadi.


"Apaan sih Sri, ngomong yang nggak - nggak aja deh." Jawab bi Mina.


"Ya bener kok bi, coba deh lihat baik - baik. Tuan muda makin ganteng aja kan?"


"Eh iya, bener. makin kinclong dan ganteng tuan. Kayak bercahaya gitu."


Deon hanya bengong melihat tingkah kedua pembantunya itu.


"Ya jelas lah Sri kan sekarang sudah ada yang ngurus." Ucap papa yang juga ikut menggoda Deon.


"Ini juga papa, ikut - ikutan nggak jelas."


"Nggak jelas gimana coba. Biasanya muka kamu itu selalu datar kayak papan seluncuran. Nggak ada ekspresi, bersikap dingin sama orang udah kayak gunung es batu yang di tabrak Titanic." Papa terkekeh menertawakan Deon yang sepertinya akan marah itu.


"Terus sekarang malah sering senyum, ramah sama orang." Sambungnya.


"Berkat cinta dari nyonya muda. Hati beku milik tuan muda mencair. Senyum yang selalu mendung kini terpancar indah bak pelangi setelah hujan." Ucap mbak Sri sok puitis.


Deon terllihat menahan kesalnya. Tapi setelah melihat wajah menggemaskan milik istrinya yang sekarang tengah bersemu merah itu membuatnya malah ikut tertawa. Lalu ia memeluk Annisa dengan gemas.


"Tuh kan benar, main pelak peluk aja. Nggak lihat ada banyak orang di sini." Ledek papa lagi.


"Gimana Deon nggak meleleh coba pa, dia menggemaskan begini. Baru di goda begitu saja sudah merah begini dia." Ucap Deon mengakui semua tuduhan yang di tujukan kepadanya.


Annisa malah semakin malu dan memeluk erat Deon sambil menyembunyikan wajah merahnya itu.


"Hahaaa..." Papa tidak tahan menahan tawa hingga tawanya sangat lepas.


"Sudah pa, kasian Nisa." Ucap Deon agar papanya berhenti menggoda istrinya.


"Sudah sayang, lepasin dulu akunya."


Deon meraih kedua tangan Annisa yang melingkar di pinggangnya. Tapi Annisa malah semakin mempererat pelukannya dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada Deon.

__ADS_1


Papa benar - benar tidak tahan dan akhirnya tertawa lepas lagi. Hingga suara bi Mina membuat tawa mereka terhenti.


"Tuaaaaan lihat, Nyonya tuan!!"


"Kenapa bi?" Ucap mereka sambil menghampiri ranjang mama.


Sedangkan Annisa juga melepas pelukannya karena terkejut.


"Nyonya tersenyum."


Kemudian papa mendekatkan kepalanya ke telinga mama.


"Kamu dengarkan sayang? Cepatlah bangun agar kita bisa bercanda bersama." Ucap ayah sambil memegang erat tangan mama yang juga bergerak. Seolah ingin mengatakan bahwa ia akan segera bangun untuk ikut berbaur dengan canda tawa yang baru di dengarnya tadi.


"Iya ma, Deon juga sangat ingin mama bangun dan kita bercanda bersama." Tambah Deon.


Mama kembali menggerakkan jarinya dan tersenyum seolah mengatakan 'iya' untuk menjawab perkataan mereka.


Sungguh membuat Annisa terharu melihat pemandangan ini. Terlihat bahwa keluarga itu saling menguatkan satu sama lain.


"Sayang kemari!" Perintah Deon kepada Annisa agar ia mendekat ke arahnya.


Deon menarik tangan Annisa, lalu ia meletakkan tangan Annisa di atas tangan mama.


"Ma, ini lah tangan wanita yang kucintai. Kami tertawa karena tingkahnya. Jika mama melihatnya mungkin mama juga akan ikut tertawa. Cepatlah bangun dan kita akan tertawa bersama."


Mata Annisa mulai berkaca mendengarnya, sungguh ia sangat terharu atas perlakuan dari keluarga suaminya ini. Ia memandang wajah suaminya itu dan Deon tersenyum.


Tanpa sadar air mata yang ditahannya lolos dan terjatuh. Tapi Deon dengan cepat menyapu air mata itu. Deon menggelengkan kepalanya memberi isyarat agar Annisa tidak menangis. Ia hanya tidak ingin mamanya mendengar Isak tangis Annisa.


Deon hanya ingin mamanya mendengar tawa bahagia. Agar mamanya itu cepat bangun dari koma. Sesuai perintah dokter, jangan memberikan tekanan yang membebani pikiran pasien.


Annisa mengangguk paham, dan ia menarik napasnya dalam untuk mengontrol emosinya. Dan tarikan napas itu di akhiri dengan senyuman.


'Kenapa aku mudah sekali menangis, padahal aku sudah berjanji hanya ada senyum bahagia'


Annisa memeluk Deon dengan erat.


"Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2