Dia Istriku

Dia Istriku
Rumah Sakit


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, dokter yang sudah di beritahukan akan kedatangan mereka langsung dengan cepat memeriksa kondisi nyonya besar keluarga Gibran ini.


"Bagaimana keadaan mama saya dok?" Tanyanya antusias berharap mamanya baik - baik saja.


"Tekanan darahnya sangat tinggi, itu yang membuatnya kehilangan kesadaran. Kami sudah menyuntikkan berbagai obat untuk menetralkan tekanan darahnya. Setelah normal, mungkin beliau akan segera sadar. Tapi... kami tidak menjamin saat beliau sadar kondisinya tidak akan bisa kembali dengan cepat, karena tekanan yang sangat tinggi akan sangat beresiko. Untunglah kalian cepat membawanya, jika tidak akan lebih parah dari ini." Tutur dokter.


"Baiklah dok, terima kasih." Ucap Deon dan kemudian dokter meninggalkan ruangan.


Setelah kepergian dokter, hanya keheningan yang tersisa. Bau - bau obat khas rumah sakit bertebaran di udara. Deon terus mengutuki dirinya yang merasa bersalah. Bukan hanya Deon, Annisa pun merasa sangat bersalah. Ia menyalahkan kehadiran dirinya yang telah membuat semua kekacauan ini.


Dilihatnya Deon yang hanya termenung menatap sang mama. Ia merasa tidak baik jika masih berada di tempat itu. Perlahan ia bergerak berniat pergi dari Deon, sejenak mendinginkan hatinya yang mulai goyah.


Saat kakinya mulai melangkah, tangan kekar namun dengan sentuhan lembut menggenggam tangannya.


"Tetaplah di sini bersamaku, jika kamu juga pergi maka aku akan rapuh. Kamu adalah penyemangat ku saat ini. Jangan pergi!"


"Tapi, Deon..."


"Ssstt... Jangan larut dalam pemikiran mu sendiri. Jangan salahkan dirimu atas semua ini. Kamu tidak tau apa - apa, biar semua ini menjadi tanggunganku. Cukup kamu berada di sisiku itu sudah membuatku lebih kuat." Ucap Deon yang seperti nya mengetahui tentang kegundahan hati Annisa.


Deon menarik tangannya dan menuntunnya agar duduk di samping Deon. Ia masih menggenggam tangannya dengan kuat agar hatinya juga menjadi kuat.


Tidak berapa lama tuan besar Gibran datang dengan hati yang gundah setelah melihat istrinya terbaring kaku di kasur putih dengan alat - alat yang terpasang memenuhi tubuh istrinya.


"Apa yang terjadi Deon?"


"Maafkan Deon pa, semuanya terjadi karena Deon."


Kemudian Deon menceritakan dengan papanya dengan detail apa yang terjadi tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Papa terlihat terkejut mendengarnya setelah cerita Deon sampai pada penyebab mamanya pingsan.


Papa terlihat meraup wajahnya dengan gusar. Ia sebenarnya sudah melarang mama Deon untuk pergi karena baru sampai dan harus istirahat. Namun dengan rayuan maut dari Tara hingga mama Deon setuju untuk pergi dan memohon pada papa untuk membiarkannya pergi ke rumah Deon dengan Tara.


"Seharusnya papa melarangnya dengan tegas, wanita licik itu sudah papa duga bukan wanita baik."


Lalu papa menoleh ke arah Annisa yang tengah duduk di samping Deon.

__ADS_1


"Nak, maaf jika Deon telah membawamu di saat seperti ini." Ucap papa lirih kepada Annisa.


"Tidak apa om."


"Lho kok om sih, panggilan papa sma kayak Deon."


"Eh iya, pa." Jawab Annisa sedikit malu - malu karena belum terbiasa.


"Gemesin banget siiiiih, pake acara malu - malu segala." Kata Deon sambil mencubit kedua pipi Annisa.


Annisa menarik tangan Deon yang menempel di pipinya lalu memukulnya dengan pelan.


"Jangan mesra - mesraan di depan papa, papakan jadi baper." Papa berusaha mencairkan suasana agar Annisa tidak merasa terganggu.


"Ih papa bisa aja." Ucap Deon.


Kemudian suasana benar - benar mencair. Annisa senang melihat kesan yang di berikan papa mertuanya ini terhadapnya meskipun ia menyadari bahwa papa mertuanya ini sedikit berlebihan. Namun ia tetap bahagia, seberkas harapan muncul pada benaknya semoga ibu mertuanya juga begitu saat ia sadar nanti.


________________________


Hari semakin cepat berlalu hingga fajar sudah menghilang di telan kegelapan. Annisa yang baru tersadar terkejut melihat ke arah jendela yang telah menampakkan kegelapan.


"Sayang, bangun!" Annisa menggoyang - goyangkan tubuh Deon yang masih terlelap.


"Ini sudah malam, ayo cepat bangun." Sambungnya.


"Malam?! Astaga... Kita tertidur sampai malam?"Deon kaget dan langsung terduduk mendengar jika hari sudah malam.


"Iya, ayo cepat mandi. Aku mau masak dulu."


Deon langsung pergi ke kamar mandi dan Annisa pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Setelah selesai masak, Annisa segera pergi untuk mandi agar mereka dapat menyantap makan malam bersama.


Hanya keheningan yang terdengar saat makan malam ini. Tidak ada canda gurauan seperti biasanya. Mereka memang ingin menghabiskan makan malam dengan cepat. Karena setelah ini mereka akan ke rumah sakit kembali untuk bergantian dengan papa.


"Sayang, kita beli makanan dulu yuk buat papa. Biar papa bisa langsung makan malam dulu sebelum pulang."

__ADS_1


"Ide bagus sayang." Jawab Deon lalu mencari restoran yang dekat dengan rumah sakit.


Sesampainya di restoran, Deon pergi sendiri memesan makanan untuk papa. Sedangkan Annisa hanya menunggu di mobil. Hingga sebuah penampakan yang menarik membuatnya keluar dari mobil.


'Waaaah, taman yang indah. Apa ini juga restoran miliknya?'


Semenjak mengenal Deon, ia sangat suka melihat taman - taman kecil di sekitaran restoran. Ia selalu menduga jika itu milik suaminya. Entahlah, ia tidak terlalu memikirkan itu. Sekaya apapun suaminya, ia tidak perduli karena ia mencintai orangnya bukan hartanya.


Tidak berapa lama, Deon datang dengan menenteng makanan yang ia pesan untuk papa. Tidak lupa, ia juga membelikan istrinya sedikit cemilan agar tidak jenuh saat di rumah sakit.


Deon masuk terlebih dulu ke dalam mobil, karena Annisa sudah berjalan menuju ke arahnya. Tidak jauh dari tempat itu, ada sepasang mata yang tengah menatap tajam ke arahnya.


"Annisa?! Ah, tidak mungkin dia ada di kota ini. Mungkin hanya mirip, cara pakainya juga beda apalagi wanita itu naik mobil." Ucap seorang laki - laki yang memperhatikan Annisa sampai ia masuk ke dalam mobil.


"Ada apa?" Seorang wanita menegurnya yang tengah berbicara sendiri.


"Tidak ada, aku hanya melihat seorang wanita yang mirip dengan Annisa." Jawabnya.


"Ouh..." Jawab wanita itu dengan bibir yang sedikit cemberut.


Dan kini malam semakin larut, Annisa dan Deon sudah berada di rumah sakit.


"Aku sudah memesan kamar sebelah untuk kita istirahat. Tidurlah, ini sudah larut malam." Ucap Deon dengan perhatian terhadap istrinya.


" Aku belum mengantuk."


"Berbaring saja dulu, nanti juga tertidur. Aku tidak mau kamu sakit nantinya."


"Kamu lupa, kita tidur hampir setengah hari. Bagaimana bisa tidur dengan cepat." Ucap Annisa sambil mengerucutkan bibirnya yang membuat Deon gemas.


"Ya sudah, sini." Deon menarik tangan Annisa dan menuntunnya agar berbaring di pangkuannya.


Ia membelai dengan lembut rambut Annisa. Hingga tidak terasa matanya terpejam dan larut ke alam mimpi.


Deon terkekeh melihat istrinya yang sudah terlelap di pangkuannya itu. Dengan gemas ia mencubit pipi istrinya dengan lembut.

__ADS_1


'Katanya tidak mengantuk, tapi dalam sekejap udah melayang ke alam mimpi.'


__ADS_2