Dia Istriku

Dia Istriku
Kepulangan mama


__ADS_3

Tidak perlu permata untuk membuat mata berbinar. Cukup pembuktian cinta yang tulus akan mewakilkan segalanya.


Rumah sepi yang selama ini di tinggalkan pun kini menjadi ramai. Kepulangan mama Deon ke rumahnya di sambut hangat oleh semua pekerja.


Kehadiran Annisa juga menambah tebaran senyum di setiap sudut rumah. Kebahagiaan terpancar dari semuanya. Bahagia akan kehadiran keluarga baru yang akan menjadi sumber penerus keluarga besar Deon.


Hari ini mama memaksa Deon dan Annisa untuk menginap. Ia masih tidak ingin berpisah dengan menantu kesayangannya. Ya, sudah sesayang itu mama dengan Annisa.


Deon sangat senang melihat interaksi mama dan istrinya yang kini kian akrab. Tapi juga merasa kesal, Annisa jadi lebih dikuasai oleh mamanya.


Seperti saat ini, baru saja Deon ingin bercerita - cerita tentang masa kecil dan remajanya yang ia habiskan di kamar Deon yang saat ini mereka tempati untuk istirahat. Suara mama mengacaukan segalanya. Dengan sigap Annisa langsung pergi menghampiri mamanya.


Kesal yang tidak terkira kini dirasakan oleh Deon. Baru saja ia dengan gembira bercerita kemudian langsung rusak hanya dengan suara mama. Ia pun mengikuti langkah Annisa yang kini menghampiri mamanya dengan raut yang sudah tidak sedap untuk dipandang.


Kedua wanita itu sedang sibuk menyiapkan makan malam. Deon hanya bisa memantau istrinya itu dari ruang keluarga. Hanya sesekali terlihat bayangan Annisa yang lalu lalang dengan kesibukannya.


Hingga waktu makan malam tiba. Mereka semua sudah siap untuk menyantap makan malam. Papa memulai acara makan malam tersebut. Hingga suaranya menjadi pusat perhatian.


"Waaaaah, ini makan malam terenak bagi papa. Makanan di restoran kita juga kalah enaknya"


Puji papa yang langsung mendapat anggukan setuju oleh mama.


"Dia jago banget lho pa masak. Mama aja banyak belajar dari dia tadi."


"Seriusan ma, kok jadi kebalik malah mama yang belajar masak?"Tanya Deon.


"Kayak nggak tau aja kamu. Pokoknya mama mau kalian nginap di sini selama satu bulan. Mama masih mau belajar menu - menu lainnya." Celoteh mama penuh semangat.

__ADS_1


"Nggak bisa! Deon nggak setuju!" Protes Deon.


"Kok kamu jadi pelit gitu sih sama mama!"


Pertengkaran antara ibu dan anak itu pun tidak bisa di lerai dengan mudah. Ini juga pertama kalinya mama dan Deon bertengkar untuk memperebutkan sesuatu.


Papa hanya menggeleng - gelengkan kepala saja melihat tingkah istri dan anaknya kemudian melahap makanan tanpa memperdulikan pertengkaran di depannya itu.


Sedangkan Annisa, orang yang menjadi sumber pertengkaran itu tidak bisa berbuat apa - apa. Sehingga ia juga mengikuti papa mertuanya untuk melanjutkan makan malamnya.


Kehadiran Annisa yang sempat di tolak oleh mama kini justru berbanding terbalik. Annisa malah jadi kesayangan mama. Deon yang anak kandung saja malah kalah oleh Annisa.


Hingga beberapa saat kemudian. Pertengkaran itu terhenti oleh suara sendawa papa.


"Aaaaagh!"


"Papaaaaaa!" Teriak mama setelah melihat apa yang di lakukan papa.


Tapi papa hanya terkekeh geli menanggapi tatapan tajam istrinya.


"Papa kira kalian sudah kenyang, makanan sampai dianggurin begitu."


"Ih papa nyebelin."


"Makanya, jangan berantem di depan makanan."


Akhirnya mama dan Deon terpaksa memakan makanan yang tersisa.

__ADS_1


Malam semakin larut, namun masih terdengar canda tawa di ruang keluarga itu.


"Ma, Deon sama Annisa pamit mau tidur."


"Berapa umurmu jam segini sudah tidur? Biasanya juga sering begadang."


"Duh mama kayak nggak paham deh."


"Nggak bisa, mama sudah mengalah kalau kalian tidak jadi menginap selama satu bulan. Pokoknya Annisa temani mama sebentar lagi ya!"


Deon memberikan kode kepada Annisa untuk menguap. Untung sang istri paham maksudnya. Kemudian Annisa berpura - pura menguap. Padahal kenyataannya Annisa memang sudah mengantuk.


"Lihat mah, Annisa juga sudah mengantuk." Bujuk Deon kepada mamanya.


Karena Annisa terlihat memang sangat mengantuk, akhirnya mama mengangguk setuju.


"Tapi ingat, besok habis kuliah langsung ke rumah mama ya. Mama mau minta ajarin bikin kue tapi sebelum itu kita belanja bahannya dulu."


"Ia ma." Jawab Annisa.


"Ok ma, kita ke kamar dulu ya!"


"Awas ya nggak langsung tidur!" Ancam mama yang rupanya masih tidak rela di tinggalkan.


Akan ada pelangi setelah hujan itu benar. Memang benar kebahagiaan itu nyata adanya jika kita menghadapi rintangan dengan penuh kesabaran. Tidak hanya cukup untuk di syukuri jika derita terlewatkan. Tetap di jaga agar terus teralirkan tanpa rintangan.


Namun tetap siaga. Jangan terlena saat kau terambung di atas angin. Tapi kau melupakan sakitnya saat terhempas.

__ADS_1


__ADS_2