
Setelah drama panjang pertengkaran antara Tara dan Deon. Kini Tara masih terdiam kaku di tempat, meski Deon dan karyawan lain sudah meninggalkan tempat itu.
Tara masih tidak percaya dengan perkataan Deon bahwa dia telah menikah. Tara merasa sudah benar - benar kalah.
Tidak jauh dari Tara, Rini yang ada di meja resepsionis terlihat gelisah karena di tinggal sendiri oleh Riska yang kini tengah makan siang bergantian dengan dirinya.
"Aduh, drama FTV pelakor teraniaya ini membuatku sakit perut. Riska mana lagi, makan siang kok lama banget. Udah ah, tinggal dulu nggak apa - apa kali ya. Mungkin bentar lagi Riska udah datang." Gumamnya pelan karena sudah tidak tahan dengan kondisi perutnya.
Buru - buru dia pergi ke toilet, dan menyapa sinis Tara.
"Eh, pelakor!! Bengong aja, dramanya udah kelar. Mending pulang cuci muka. Kau sudah kehilangan muka di sini. Hahaa" Ledeknya sambil berlari cepat.
Mendengar ucapan itu Tara tersadar dari lamunannya. Ia kemudian berbalik ke arah pintu keluar. Tangannya terlihat menggenggam tidak terima dengan kekalahannya kali ini.
Entah kenapa kini matanya tertuju ke mejanya Riska dan Rini. Samar - samar terlihat selembar foto di sana. Tara mendekat dan mengambil foto tersebut. Kini muncul senyum jahat di ujung bibirnya.
'Sepertinya aku belum kalah, foto ini!! Aku akan mencari tahu tentang wanita itu. Tunggu pembalasanku Deon!!!'
Ya, foto itu adalah foto Annisa yang diberikan Joni kepada Riska dan Rini sebelumnya. Bahkan lengkap dengan nama lengkapnya.
'Annisa Pertiwi!! Kita lihat seberapa lama kau akan berada di sisi Deon.'
Tara keluar dengan tersenyum jahat. Segera dia masuk ke dalam mobilnya dan menghubungi seseorang.
'Halo, temui aku di cafe biasa sekarang.'
Tara langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju cafe yang ia janjikan dengan seseorang.
Tidak memerlukan waktu lama untuk Tara sampai di tujuannya. Dia turun dan memesan beberapa makanan dan minuman sembari menunggu orang yang di telponnya datang.
Saat makanan yang di pesan olehnya sudah datang. Saat itu pula orang yang ia tunggu datang.
"Sudah lama menunggu ya?" Tanya orang itu saat membuka suara dengan Tara.
"Tidak, baru beberapa menit yang lalu kok." Jawab Tara santai.
"Ada apa, tumben nelpon minta buru - buru."
"Aku mau minta tolong denganmu." Sambil meminum minumannya beberapa tegukan.
"Minta tolong? Hei, kau lupa aku tidak akan membantu secara gratis."
"Tentu saja aku tidak lupa. Kali ini aku akan membayar double."
"Oke, apa itu?"
"Ini, kau cari tau wanita ini. Kalau perlu kau cari tau tentang aib dan kelemahannya. Sekarang dia ada di kantor Deon." Sembari melempar selembar foto tepat di depan orang itu.
__ADS_1
"Waooww, mencari informasi tentang wanita ya. Itu tugas yang gampang. Percayakan saja padaku."
"Bagus, aku minta secepatnya kau temukan informasi tentang wanita ini. Mengerti?!"
"Siap."
*************
Di kantor Deon, Annisa terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan matanya yang masih dengan pandangan buram.
Di tempat itu sudah berdiri Deon yang memperhatikan gerik mata cantik milik wanitanya.
"Sudah bangun?" Tanyanya sambil berjalan dan duduk di pinggir ranjangnya.
"Ia, jam berapa sekarang." Jawabnya dengan suara yang sedikit serak.
"Hampir jam 3 sore."
"Aku tertidur lama sekali ya. Aku sangat lelah." Sambil memijit ringan pada tengkuk lehernya.
"Mandilah, setelah itu pakai baju yang baru ku beli ini. Baju yang tadi sudah kotor." Ucap Deon sambil menyodorkan paper bag yang berisi baju baru untuk Annisa.
Annisa hanya mengangguk dan menarik selimut putih sampai ke lehernya untuk menutupi tubuhnya yang sudah tidak menggunakan pakaian itu.
"Kamu mandi saja dulu, tunggu aku jika sudah selesai. Jangan kemana - mana kamu siap - siap saja dulu, aku ada pertemuan sebentar." Yang kembali di jawab dengan anggukan oleh Annisa.
Dan kemudian Annisa menuju kamar mandi. Dia mandi sambil berendam dengan air hangat karena sangat kelelahan.
'Astaga, kenapa bayangan itu bermain - main di kepala ku? Ku mohon pergilah dari pikiran ku! Aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri. Aaaaargh, kenapa aku malah seperti sangat menikmatinya.'
Beberapa kali Annisa memukul kepalanya agar bayangan itu pergi. Dia benar - benar merasa sangat malu saat ini.
'Itu memang nikmat kan?' π
'Tapi ini masih siang, tidak seharusnya mereka melakukannya apalagi ini di kantor' πΌπ»
'Gapapa kali, kan kantor suaminya juga. Bebas dong.' π
'Nggak bisa gitu dong. Tahan dikit napa, nunggu malam di rumah.' πΌπ»
'Tapi kan dia tadi juga menikmati banget. Yang penting tidak ada pemaksaan.' π
'Iya ya, sama - sama enak juga. hehe'πΌπ»
'Eh kok kalian jadi kompak?! Pergi - pergi sana. Jauh - jauh kalian dari otakku!'
Racau pikiran Annisa yang berdialog sendiri.
__ADS_1
'Ya tuhan, aku malu sekali. Ingin rasanya ku tenggelamkan saja diriku. Huhuuu'
Tidak berapa lama, ia menyelesaikan mandinya. Ia mengambil paper bag berisi baju yang tadi di berikan oleh Deon.
Terlihat sebuah mini dress berwarna hitam bercorak bunga - bunga dengan lengan panjang lalu ia memakainya. Baju itu terlihat pas dan cocok di pakai olehnya. Annisa terlihat mengambil ponselnya dan kemudian ia selfie dengan baju itu.
Annisa terlihat sangat manis menggunakan baju itu. Di tambah senyum manis khas miliknya membuat auranya terlihat sangat cantik saat ini.
Tidak berapa lama, terdengar suara langkah kaki yang kemudian membuka pintu kamar. Deon melangkahkan kakinya mendekati Annisa. Ia tersenyum melihat wajah cantik wanitanya.
"Sudah selesai?" Tanya Deon yang sebenarnya tidak perlu di pertanyakan.
"Iya sudah."
"Baiklah, ayo kita berangkat." Seru Deon sambil menggandeng tangan Annisa.
"Tunggu, kita mau kemana?" Tanyanya setelah menghentikan langkah Deon.
"Kencan." Jawab singkat Deon.
"Kencan?! Kenapa mendadak sekali?"
"Tidak ada istilah mendadak, tadi kan sudah ku bilang siap - siap."
"Ya mana ku tau kita mau kencan, aku kira siap - siap pulang ke rumah."
"Ya sudah, maaf kalau perkataan ku kurang jelas. Ayo kita berangkat."
"Kita mau kemana?" Tanya Annisa penasaran.
"Kamu maunya kemana?"
"Ih nyebelin, di tanya malah balik tanya."
"Aku mau ngikutin selera kamu aja, mau kemana? Nonton, karaoke, atau jalan - jalan keliling aja?"
"Serius mau ngikutin selera aku aja?"
"Iya, katakan mau kemana?"
"Kita jalan - jalan aja dulu, abis itu kita makan dan terakhir nonton."
"Ok deh kalau gitu ayo berangkat." Ujar Deon sambil menggandeng tangan Annisa dan membawanya keluar dari ruangannya.
Suasana hati Deon sangat berubah setelah melihat Annisa. Dia seolah - olah telah lupa dengan kejadian siang tadi yang di sebabkan oleh Tara.
__ADS_1
Suasana itu juga berimbas kepada semua karyawannya. Melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah tampan Deon, membuat mereka ikut merasakan kebahagiaan.
Di tambah lagi, hari ini Deon juga memulangkan lebih awal dari jam pulang di kantornya. Dan itu di sambut dengan sorak bahagia oleh semua karyawannya.