Dia Istriku

Dia Istriku
Senyuman


__ADS_3

Kadang kita harus menangis dahulu sebelum tertawa. Agar rasa yang tersisa hanyalah senyum bahagia.


Tidak selamanya hujan itu gelap disertai petir. Kadang akan muncul pelangi setelahnya.


Kebahagiaan yang diidam idamkan Annisa dan Deon mungkin penuh hambatan yang berliku-liku sebelum mencapainya. Tapi Annisa akan terus bersabar dan bersabar.


'Aku masih beruntung bertemu suami seperti Deon. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika aku tidak bertemu dengannya. Terima kasih Tuhan, engkau telah membuatku bertemu dengannya walau dengan cara yang salah. Aku akan menjalani skenario hidupku ini dengan baik.'


Pagi ini Annisa memiliki berbagai macam pikiran yang bertumpuk di kepalanya. Ada rasa bersalah yang amat dalam namun ditepisnya dengan rasa syukur. Ini sudah skenario tuhan batinnya membantu menyingkirkan semua pikiran negatif yang menghampirinya.


Setelah sekian lama ia memasak untuk makan siang, akhirnya masakan itu selesai dan ia memasukkan semua masakannya ke dalam wadah.


Rencananya ia akan mampir dulu ke kantor Deon untuk makan siang dan setelah itu baru ia pergi ke rumah sakit untuk memantau keadaan mama mertuanya.


Ia memulai langkahnya dengan senyuman, ia percaya bahwa senyuman akan membawa hal positif. Sepanjang perjalanan ke kantor Deon, ia terus menarik nafas yang diakhiri dengan senyuman. Ia mewanti - wanti dirinya sendiri untuk selalu tersenyum agar kesedihan lenyap.


Disaat sedih, jika kita tersenyum maka kesedihan itu dapat berkurang meskipun hati terasa tersayat sayat. Senyum di balik kesedihan itu akan memudarkan rasa sakit dari rasa sedih.


Hingga tak terasa, mobil yang ia tumpangi sampai dan singgah tepat di depan kantor Deon. Ia turun dan kembali tersenyum cerah secerah mentari yang menghangatkan bumi.


Saat ia masuk ke dalam kantor. Masih teringat bayangan yang terjadi di lobby kantor suaminya itu. Tapi ia berusaha menepis nya. Ia bersumpah hanya akan ada senyum bahagia setelah ini. Tidak akan ada lagi tangis dan air mata.


Senyum manis yang cerah itu selalu mengembang di bibirnya Annisa tatkala ia berpapasan dengan beberapa karyawan dan kini ia sudah sampai di depan ruangan kerja suami tercintanya. Senyuman manis itu kembali mengembang di saat ia melihat Shinta sekretaris Deon berdiri dan menyapanya.


"Siang Bu, mau makan siang sama pak Deon ya?" Sapa Shinta sambil melirik tentengan yang di bawa Annisa. Tanpa bertanya pun ia tau bahwa yang di bawa Annisa adalah kotak makan siang.


"Siang juga, Deon masih sibuk nggak?" Tanyanya.


"Sudah enggak sibuk Bu, silahkan masuk!"


"Jangan panggil ibu dong, saya jadi merasa sangat tua. Panggil Nisa aja ya!" Ucap Annisa sambil tersenyum lebar menampilkan barisan giginya.


Shinta terkekeh melihat tingkah lucu dan polos istri dari bosnya itu.


"Mana boleh, andakan istri dari bos saya. Jadi nggak sopan kalau saya panggil nama."


"Ya nggak apa-apalah, kan saya yang minta. Panggil Nisa aja ya. Lagian umur saya kan belum 20. Heheee"


Annisa langsung pergi masuk ke dalam ruangan suaminya tanpa rasa bersalah. Sedangkan Shinta langsung merasa dirinya sangat lah tua jika dibandingkan dengan istri dari bosnya itu. Emang bener tua dari Annisa sih, tapi kan nggak harus di perjelas begitu.

__ADS_1


Joni yang melihat raut wajah Shinta yang sedikit berubah setelah Annisa pergi. Membuat Joni jadi ingin sedikit menjahilinya. Pasalnya Joni sudah menyaksikan percakapan kedua wanita itu semenjak Annisa sampai di depan Shinta.


"Kalau tua ya terima aja, nggak usah sok nggak terima begitu." Ledek Joni.


Niatnya Joni hanya bercanda, namun ditanggapi serius oleh Shinta.


"Kamu lupa kalau kita seumuran, jadi situ juga tua dong!" Ucapnya dengan ketus.


"Aku kan cuma bercanda Shin, kenapa jawabnya ngegas gitu sih?"


"Tau ah, nyebelin!" Ucap Shinta yang langsung pergi meninggalkan Joni yang masih bingung atas respon Shinta terhadap omongannya.


______________


Deon tersentak setelah mendengar suara pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Biasanya dia akan marah jika ada yang masuk ruangan kerjanya tanpa harus permisi.


Namun setelah melihat senyum manis dari istrinya itu, hati Deon serasa meleleh dan ia pun menyambut istrinya itu dengan senyum lebar yang tidak kalah manisnya dari senyum sang istri.


"Kenapa nggak bilang mau kesini hemm?" Ucap Deon sambil berjalan dan memeluk istrinya.


"Surprise!!" Annisa melebarkan senyumnya dengan tangan terbuka saat mengatakannya.


"Oh astaga, aku terkejut." Jawab Deon sambil memperagakan bahwa dirinya sedang terkejut.


Deon hanya terkekeh melihat tingkah istrinya yang sedikit cemberut itu.


"Jangan cemberut gitu dong, kan manisnya hilang." Rayu Deon.


"Iya, kita makan dulu yuk."


"Oke, siap honey!"


Kemudian Annisa menyiapkan makan siang mereka berdua. Makan siang berjalan dengan khidmat dengan sesekali Deon menyuapi Annisa dan sebaliknya hingga makanan itu tandas tak tersisa.


"Dari tadi senyum terus, ada apa sih?" Tanya Deon.


"Nggak ada apa - apa sih, hanya ingin tersenyum aja. Siapa tau kan dengan tersenyum bisa menarik kebahagiaan cepat datang." Ucapnya dengan penuh harapan.


"Terserahlah, jadi dari tadi kamu tersenyum seperti itu sepanjang jalan?"

__ADS_1


"Iya."


Padahal Deon hanya menerka nerka saja, ia tidak mengira bahwa istrinya itu memang melakukannya.


"Di kantor juga?"


Dijawab dengan anggukan oleh Annisa.


"Sama karyawan ku juga? semua karyawan? karyawan laki - laki?"


"Iya, kenapa sih?" Tanya Annisa dengan polos.


"Kenapa senyum semanis itu sama laki - laki juga sih, kalau ada yang baper gimana?"


Annisa hanya tersenyum menanggapi perkataan yang terucap dari bibir suaminya itu. Sepertinya ia menyadari bahwa suaminya itu mulai posesif terhadap apapun.


"Iya sayang, nggak lagi deh. Termasuk kamu juga berarti ya, kan kamu juga laki - laki."


Sekarang Annisa mulai bercanda kepada Deon.


"Jangan dong, tetap senyum sama aku. Kan aku suami kamu."


"Ya nggak boleh gitu dong, harus adil dong."


"Ya sudah, senyum aja terus. Kalau perlu jalan kaki aja ke rumah sakit sambil tersenyum sepanjang jalan."


"Malah dikira gila dong aku kalau senyum sepanjang jalan gitu. Kesandung batu lalu jatuh tetap tersenyum dong. Hehee."


"Biarin!"


Annisa terkekeh mendengarnya, giliran Deon yang cemberut sekarang. Ia lalu mendekati suaminya itu dan memeluknya hangat.


"Aku hanya bercanda kok, aku nggak akan pernah tersenyum lebih lebar dari ini kepada lelaki manapun kecuali denganmu suamiku. Karena kamu lah sumber pemicu senyum ku. Aku hanya akan tersenyum manis untukmu." Ucap Annisa tulus dari hatinya dan terpancar jelas dari tatapan hangatnya untuk suaminya itu.


"Dan senyuman mu adalah sumber kekuatan ku.."


Kemudian mereka tersenyum bersama. Candaan itu membuat kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Hanya dengan hal sekecil itu membuat senyum mereka membuncah tak terkira.


Deon kembali memeluk hangat tubuh istrinya. Sesekali ia mengecup puncak kepala Annisa dengan sayang. Ia berharap kebahagiaan ini akan terus terjaga sampai kapan pun.

__ADS_1


Senyuman mu membuat hatiku bahagia.


Senyuman mu membuat hari - hari ku ceria.


__ADS_2