Dia Istriku

Dia Istriku
Akhirnya


__ADS_3

Pagi hari di rumah sakit. Masih di ruangan yang sama dan kondisi yang sama pula. Mama Deon masih belum terbangun.


Pagi itu giliran mbak Sri yang berjaga. Papa Deon sedang ada kesibukan di luar negeri yang tidak bisa di tinggalkan.


"Duh, ini perut kenapa mules banget ya." Sambil memegangi perutnya yang membesar sakit..


Mbak Sri langsung saja pergi ke toilet karena itu sudah tidak bisa lagi menahan sakit perut yang melilit itu.


Saat mbak Sri tengah berada di dalam toilet, seorang perawat masuk ke dalam ruang perawatan mama Deon.


'Untung nggak ada orang.' Ia membatin.


Perawat itu menuju ranjang mama Deon dan berdiri di samping ranjang tersebut. Ia memandang benci dengan wanita yang tengah terbujur kaku itu.


Ia mencoba meraih ventilator yang membantu wanita itu bernafas. Dalam beberapa detik ventilator itu pun terlepas. Perawat itu tersenyum puas dan ia segera akan pergi karena takut jika ada yang melihat aksinya.


"Selamat tinggal...."


Tepat saat ia mengakhiri kalimatnya. Mata mama Deon tiba - tiba terbuka sempurna. Perawat itu terkejut dan tanpa sadar ia menyentuh bell darurat yang ada di samping ranjang.


Perawat itu seketika panik. Mendengar bunyi bell mbak Sri bergegas kembali ke kamar mama Deon dan mendapati mama Deon sudah tidak terpasang lagi ventilator di hidungnya dan melihat ada perawat yang terlihat mencurigakan.


"Hey siapa kamu, apa yang kamu lakukan?!"


Merasa sudah kepergok dan suasananya menjadi menegang membuat perawat itu bergegas pergi. Namun, karena kecepatan tangan mbak Sri. Ia dapat meraih tangan perawat itu lalu terjadi perlawanan antara perawat dan mbak Sri.


Kekuatan perawat itu meningkat saat semakin takutnya ia akan ketahuan. Tangannya yang di pegang mbak Sri itu terlepas dan ia pun lolos. Namun menyisakan sebuah gelang di tangan mbak Sri.


Tidak lama kemudian dokter dan beberapa perawat datang.


"Ada apa ini?" Tanya dokter.


Lalu ia melihat ke arah ranjang, mendapati kondisi mama Deon dan langsung mendekat sambil mendengarkan penjelasan dari mbak Sri. Ia bergegas memeriksa kondisi mama Deon dan ia menghela nafas lega.


"Kenapa dok?" Tanya mbak Sri khawatir.


"Ini keajaiban, sepertinya kondisi beliau semakin membaik. Perubahan tekanan oksigen yang masuk ke paru - paru beliau membuat jantungnya bekerja ekstra memompa darah sehingga aliran darah menjadi lancar dan membuat beliau sadar."


"Hah syukur lah." Mbak Sri menghela nafas lega.


"Segera hubungi keluarga beliau, kami akan melakukan tindakan terhadap pasien agar pasien benar - benar sembuh."

__ADS_1


________________________________________________


Pagi indah bagi Deon yang telah terbangun dari mimpi indahnya. Ia memandangi wajah cantik sang istri yang masih terlelap itu.


Tanpa ia sadari tangannya terulur untuk membelai wajah mulus nan cantik itu dengan lembut. Ia tersenyum melihat sang istri menggeliat kecil karena gangguan dari tangan jahilnya.


Bukannya berhenti mengganggu sang istri. Tangannya itu malah semakin gencar mengerjai wanita yang masih terlelap itu.


Annisa terbangun, ia terganggu oleh tangan yang jahil mencubit hidung dan pipinya itu.


"Emm.." Annisa menggeram karena gangguan itu.


Matanya perlahan terbuka dan ia menemukan sang suami yang tengah tersenyum di hadapannya.


"Selamat pagi sayang..." Deon mengecup kening Annisa yang masih mengumpulkan nyawa setelah hibernasinya.


"Apa sudah siang?" Tanya Annisa dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.


"Sudah pagi sayang."


"Aku masih ngantuk."


"Ya sudah, tidur aja lagi." Deon kasihan melihat Annisa yang memang terlihat bahwa ia masih sangat mengantuk.


"Jangan ganggu."


Lagi - lagi tangan jahil itu mengganggu tidurnya dan Deon hanya terkekeh mendengarnya.


Tiba - tiba terdengar suara handphone Deon berbunyi. Ia segera mengambil benda pipih itu yang ada di atas nakas dan pergi ke luar kamar takut suaranya mengganggu tidur sang istri.


"Iya halo mbak? Ada apa?" Tanyanya saat ia mengetahui bahwa yang menelponnya adalah mbak Sri.


Ini sudah pasti tentang mamanya dan Deon sedikit takut jika hal yang tidak - tidak terjadi.


"Tuan muda bisa ke rumah sakit sekarang? Tuan besar baru bisa sampai satu jam lagi."


"Ada apa mbak?"


"Nyonya tuan, ada seseorang yang menyerang nyonya dan kondisi nyonya..."


Terkejut mendengar penyerangan kepada mamanya Deon lantas mematikan telpon sebelum mbak Sri mengakhiri pembicaraannya.

__ADS_1


Dengan tergesa - gesa Deon kembali ke kamarnya dengan mendorong pintu kamar dengan kasar hingga menimbulkan suara gaduh hingga Annisa jadi terbangun.


"Sayang kenapa?" Tanya Annisa dengan suara paraunya.


"Aku mau ke rumah sakit sayang, ada yang menyerang mama." Deon langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan terburu - buru.


Begitu pula dengan Annisa, ia juga langsung ikut masuk ke kamar mandi.


"Lho kok kamu juga ikut mandi?" Tanya Deon saat ia melihat Annisa yang ada di kamar mandi bersamanya.


"Mau ikut ke rumah sakit."


"Katanya tadi udah ngantuk?"


"Udah enggak ngantuk lagi."


Sekarang mereka sudah di dalam mobil, mereka berangkat terburu - buru bahkan tanpa sarapan.


"Kamu tidur aja ya sayang, nanti kalau sudah sampai rumah sakit aku bangunin." Deon membenarkan posisi Annisa agar ia nyaman saat tidur.


Sedangkan Annisa menurut saja karena sesungguhnya ia memang sangat mengantuk.


Kini mereka telah melaju ke rumah sakit dimana tempat mama Deon di rawat. Deon mengemudi dengan kecepatan rendah karena ia takut jika tidur Annisa terganggu.


Meskipun dalam hatinya ia sangat ingin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia cepat sampai dan menjumpai sang mama tercinta. Tapi karena Annisa, ia urungkan niatnya itu.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil yang Deon kemudi sudah sampai ke rumah sakit tujuan mereka.


Saking senangnya ia sudah sampai, ia bergegas keluar mobil tanpa membangunkan Annisa. Karena Annisa masih terlelap dan Deon tidak tega untuk membangunkannya.


Sesampainya ia di kamar mamanya, ia langsung memutar ganggang pintu dengan jantung berdetak tidak beraturan.


Deon terkejut mendapati mama yang ia khawatirkan sedari pagi karena mendengar penyerangan terhadap mamanya justru sekarang wanita itu tengah bersandar di bahu ranjang pasien dengan mata terbuka.


Deon mengerjapkan matanya sekali lagi untuk memastikan bahwa yang ia lihat nyata. Ini benar - benar kenyataan bahwa mamanya sudah terbangun dari komanya.


Perlahan Deon mendekat dan ia masih memandangi wajah wanita yang telah sedikit keriput namun masih terlihat cantik itu.


Semakin dekat ia melangkah, matanya masih tak berkedip melihat kenyataan itu.


"Mamaa..."

__ADS_1


Deon memeluk erat tubuh mamanya. Tubuh wanita yang sangat ia rindukan itu. Mengendus aroma yang tak pernah berubah dari saat ia kecil itu. Deon bahagia, kebahagiaan itu akhirnya tiba.


__ADS_2