
Sampai lah mereka di sebuah butik ternama di mall itu. Annisa melihat - lihat seisi butik dan mencoba beberapa pakaian.
Sebenarnya tidak ada satu pun baju yang sesuai seleranya di butik tersebut. Tapi karena ia harus melakukan rencananya. Jadilah ia meminta kepada Deon untuk memilihkannya.
"Kamu yakin mau baju - baju ini?" Tanya Deon.
Ia tau kalau baju yang ia pilihkan tidak ada yang sesuai dengan baju - baju yang di sukai Annisa. Mengingat beberapa Minggu yang lalu saat Deon memilihkan baju untuk Annisa kuliah. Wanita itu terus menolak baju yang di nilainya terlalu mencolok.
Di tambah lagi saat ini baju - baju yang di pilihkan Deon adalah baju yang limited edition. Tapi kali ini Annisa tidak menolaknya.
"Iya." Jawab Annisa sambil mengangguk dengan senyuman tanda ia tidak salah.
Melihat baju - baju yang di pilih Deon rata - rata baju yang limited edition. Kemudian pelayan mendekati mereka yang tengah memilih baju itu.
"Permisi pak, saat ini di butik kami ada baju edisi spesial pak. Baju yang di buat oleh perancang ternama dunia yang lengkap dengan aksesoris dan perhiasan yang terbuat dari berlian." Tawarnya, kesempatan bagi pelayan tersebut untuk menjual baju edisi spesial itu.
"Oh ya, boleh kami lihat?"
"Boleh, sebelah sini pak." Pelayan itu menuntun Deon dan Annisa ke arah baju yang di tawarkan.
Sampai lah mereka ke sebuah tempat baju itu. Baju yang di pakaikan pada manekin yang berada dalam etalase itu memang sangat indah dan mewah.
Baju yang di buat dari perpaduan bahan wol vikuna dan bulu leopard itu sudah tidak di ragukan lagi bahkan hanya kainnya saja sudah bernilai ratusan juta per meternya.
Ditambah perhiasan yang didominasi oleh red diamond itu menambah kesan menawan untuk si pemakai.
Mata Annisa terbelalak melihat bandrol harga dari baju tersebut. Baju yang dibandrol dengan harga sepuluh miliar itu sungguh membuat jantungnya hampir copot dari tempatnya.
Annisa menggelengkan kepalanya kepada Deon. Memberi kode bahwa ia tidak perlu membelinya.
Deon tersenyum miring melihatnya. Sepertinya ia. ingin mengerjai istri lugunya tersebut.
'Tadi sok - sok an katanya mau baju - baju mahal.'
"Baiklah saya ambil bajunya."
Sukses membuat si pelayan tersenyum senang dan dengan cepat mereka membungkus semua baju yang di beli oleh Deon.
Annisa mengerutkan bibirnya. Ia tidak suka Deon boros seperti itu. Dan Deon pun tau itu.
Deon menangkup wajah Annisa yang cemberut itu.
__ADS_1
"Sesekali punya satu baju yang seperti itu nggak apa - apa kan sayang?"
Annisa masih diam tanpa kata.
"Kayaknya tadi ada yang sok - sok an mau beli baju - baju mahal." Sindir Deon yang langsung membuat Annisa pias.
"Tapi kan nggak semahal itu juga kali. Kalau baju seharga itu bisa buka toko perhiasan. Pakai baju itu berasa jadi toko perhiasan berjalan dong aku."
Deon terkekeh mendengarnya.
"Aku kerja keras untuk siapa kalau bukan untuk kamu. Baju itu edisi spesial jadi spesial dari ku untuk mu."
"Tapi...."
"Ssssttt.... Jangan banyak protes!! Aku tau kamu wanita baik yang sederhana. Tapi kali ini izinkan aku membahagiakanmu dengan cara ku. Hmm?"
Annisa mengangguk, sesekali tidak apa biarkan saja suaminya melakukan kehendaknya.
"Senyum dulu dong." Rayu Deon agar Annisa tersenyum. Ia tidak tahan jika harus melihat wajah kecut sang istri.
Annisa menarik nafasnya lalu tersenyum dengan senyuman cerah.
"Nah gitu dong. Kan cantik." Annisa terkekeh mendengarnya.
"Makan es krim."
_________________________________________________
"Pelan - pelan makannya sayang." Deon membersihkan sisa es krim yang menempel di sudut bibir Annisa.
Kalau saja sekarang bukan di tempat umum. Mungkin ia sudah membersihkan sisa es krim itu dengan bibirnya. Ia sangat gemas dengan tingkah istrinya hari ini.
"Wanita tajir yang memborong baju - baju mahal malah makan es krim belepotan kaya bayi begini." Ledek Deon pada Annisa.
Bukannya marah dengan ledekan itu, Annisa malah ikut bercanda.
"Biarin aja priaku tajir kok, kan baju - baju itu sengaja ku beli buat ngelap bekas es krim ini."
Hahahaaa
Mereka tertawa bersama saling bercanda tawa.
__ADS_1
"Baiklah wanita tajir, setelah ini kita mau kemana lagi."
Memegang tangan sang istri dengan lembut penuh perhatian. Ia memandangi wajah cantik yang selalu mengisi hari - harinya itu.
Annisa terlihat berpikir masih ada yang ingin ia kunjungi saat ini.
"Ah iya, kemarin baru launching handphone merk ABC sayang. Beliin dong pria tajir."
"Oke, Aku juga belum punya. Kita beli sama - sama."
Mereka menuju ke gerai handphone yang terkenal dengan merk handphone yang termahal itu.
Semua pelayan langsung melayani mereka setelah memasuki pintu gerai tersebut.
Annisa melirik ke arah sepasang suami istri yang telah masuk lebih dulu tapi malah mereka yang di layani lebih utama.
Setelah memperhatikan dengan teliti. Annisa menyadari bahwa perbedaan penampilan antara mereka dengan sepasang suami istri tersebut sangat berbeda dengan jauh.
Sungguh penampilan memang berpengaruh terhadap penilaian dari orang lain. Dunia ini tidak adil bagi orang yang tidak beruntung.
Di tambah lagi etalase yang mereka tuju berbeda. Jika Deon dan Annisa menuju etalase yang dipenuhi dengan handphone termahal sedangkan sepasang suami istri itu memilih ke etalase handphone bekas yang harganya lebih murah.
"Saya mau beli 4 buah handphone ini ya." Ucap Annisa yang membuat Deon terheran.
Sepasang kekasih itu juga ikut melihat kearah mereka. Saat tatapan Annisa mengarah ke arah pasangan itu mereka hanya tersenyum. Dan dengan sabar menunggu di layani setelah Annisa dan Deon.
Semua pelayan langsung sigap melayani apalagi saat itu ia sudah memegang black card nya.
Annisa langsung membayar semua handphone itu dengan black card pemberian Deon. Sedangkan Deon hanya tersenyum melihat kelakuan wanita tajirnya itu.
Setelah itu, Deon mengajak Annisa keluar namun Annisa malah berbelok dan menuju kearah pasangan itu. Sedangkan pasangan itu juga kaget saat Annisa sampai dan langsung menarik tangan sang wanita.
Annisa memberikan dua buah handphone yang baru ia beli kepada pasangan itu. Sedangkan sang wanita malah bingung dengan perlakuan Annisa.
"Hadiah anniversary, langgeng terus ya. Tetap semangat mengarungi bahtera rumah tangga." Ucapnya..
"Terima kasih nyonya." Jawabnya.
Pada saat di kedai es krim, pasangan itu tengah merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke 10. Annisa sempat mendengar pembicaraan mereka yang bernostalgia tentang pertemuan dan perjuangan mereka berumah tangga dan Annisa sangat terharu.
Sang suami juga rela mencari pekerjaan tambahan dan menabungnya demi untuk membelikan hadiah berupa handphone dengan merk yang di impikan sang istri. Meskipun handphone bekas sang istri terlihat berbinar saat mendengar sang suami akan membelikannya. Sungguh hal tersebut membuat Annisa terharu.
__ADS_1
Deon tidak henti - hentinya mengucap syukur karena Tuhan telah memberikannya bidadari cantik dan baik hati itu ke dalam hidupnya.