
Pasangan itu kini sudah berada di dalam mobil. Semenjak memasuki mobil hingga sudah berjalan tidak terdengar suara sedikitpun. Hanya suara mesin mobil dan decitan ban yang menyentuh jalan yang terdengar oleh indera pendengaran.
Annisa masih bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa Deon tiba - tiba mengajaknya berkencan. Sikapnya yang berubah - ubah bagai bunglon hari ini telah ia saksikan sendiri.
"Kenapa tiba - tiba.....?" Ucap Annisa sedikit ragu dan terhenti untuk berpikir apa pertanyaannya dilanjutkan atau tidak.
"Ya?" Sahut Deon.
"Kenapa tiba - tiba mau kencan?" Sambungnya.
"Tidak apa - apa, mumpung masih ada waktu dan kebetulan kamu juga ada di dekatku. Jadi sekalian aja kita kencan. Iya kan?"
"Oh iya." Jawaban itu membuat suasana hening kembali.
Hingga mobil yang mereka kendarai sampai di suatu tempat.
Taman yang indah dengan rumput hijau di seluruh tempat. Pohon - pohon rindang di hiasi bangku taman di bawahnya. Taman yang mencipta rasa damai untuk beristirahat. Di tengah - tengah taman ada Ikon kota itu.
"Waaaah, taman ini indah sekali." ucap Annisa kagum.
"Kamu suka?" Tanya Deon.
"Iya!!" Sambil menganggukkan kepala dengan riang.
"Ayo kita duduk di kursi itu!" Seru Deon sambil mengarahkan tangannya di kursi taman yang terletak di bawah pohon.
Kursi itu berbentuk Love, seolah mewakilkan perasaan Deon yang belum terungkap kepada Annisa. Di hiasi bunga - bunga cantik yang tengah bermekaran, seperti mengatakan bahwa yang tengah duduk di antara mereka juga tengah bersemi.
Sore itu sangat ramai, banyak remaja yang juga tengah memadu kasih. Ada pula cinta dari keluarga kecil dengan teriakan riang anak - anak mereka.
Deon tersenyum melihat beberapa anak kecil yang berlarian. Sekilas ia berangan jika ia akan melihat tawa dari anak mungilnya dengan cepat. Semoga Annisa cepat hamil, itu lah yang ia sematkan dalam doanya.
Tidak jauh dari tempat mereka duduk. Terlihat gerobak es krim. Deon yang melihat itu segera berdiri. Tangan Annisa yang menarik tangannya membuat langkahnya terhenti.
"Mau kemana?" Suara lembut Annisa membuatnya menoleh.
"Aku mau beli es krim. Kamu mau kan?"
"Tentu saja aku mau. Aku suka sekali es krim."
"Baiklah, kamu tunggu di sini saja ya."
"Bolehkah aku dapat dua es krim? Rasa coklat dan strawberry ya!"
__ADS_1
"Tentu, satu gerobak pun jika kamu mau akan aku belikan."
"Hahaa... Tidak perlu, aku tidak segila itu."
Deon hanya terkekeh mendengarnya dan kemudian berbalik menuju gerobak es krim.
"Beli es krim pak 3, rasa coklat 1, strawberry 1 dan vanilla 1."
Kemudian tidak berapa lama Deon sudah mendapatkan es krim yang mereka inginkan. Dan ia kembali menuju tempat Annisa duduk.
"Yeeeey, es krim nya sudah datang." Sorak gembira Annisa bak anak kecil yang riang.
"Sesenang itu hanya karena es krim." Deon terkekeh melihat tingkah Annisa yang seperti anak kecil.
Sambil mengambil es krim dari tangan Deon.
"Tentu saja, aku kan sudah sangat lama tidak makan es krim."
"Apa kamu bercanda? Katanya sangat menyukai es krim, tapi kenapa bisa tidak memakan es krim dengan waktu yang lama?"
Seketika Annisa menunduk dengan wajah sedikit murung.
"Ada apa? Ceritakan saja!" Deon memahami perubahan raut wajah Annisa.
Deon mendekat dan memeluknya dengan tangan sebelah kirinya.
"Sudahlah, jangan di pikirkan lagi. Ayahmu sudah bahagia di sana. Dan kamu juga harus bahagia di sini, agar ayah bisa lebih bahagia lagi." Tutur Deon.
"Mulai sekarang dan seterusnya, aku akan selalu membuat hidupmu manis dan bahagia." Sambungnya.
"Iya, terima kasih." Balas Annisa dengan anggukan.
Mereka melanjutkan makan es krimnya. Sesekali kejahilan Deon ia berikan pada Annisa. Saat Annisa mengarahkan es krim ke mulutnya, tangan jahil Deon mendorong tangan Annisa. Hingga es krim yang akan masuk ke mulut malah menyentuh hidung mancung Annisa.
Bukannya marah, Annisa justru membalas Deon dengan mengarahkan hidungnya yang ada noda es krim ke pipi Deon. Mereka saling berbalas jahil dan tersemat tawa bahagia diantara mereka berdua.
"Bajumu jadi kotor sayang." Ucap Deon.
Dan entah kenapa sekarang kata sayang yang di katakan Deon sudah tidak asing lagi di indera pendengaran Annisa. Ia sudah merasa nyaman dengan kehadiran Deon di hidupnya. Di tambah lagi setiap ucapan Deon yang selalu mengukuhkan dirinya untuk percaya pada prianya itu.
"Tidak apa - apa, baju hitam juga nggak kelihatan." Jawab Annisa.
"Tapi itu kelihatan basah, pasti lengket."
__ADS_1
"Tidak apa - apa kok. Biarkan saja."
"Tidak bisa, kamu harus ganti baju. Kebetulan baju yang ku beli tadi lebih dari satu kan. Ayo cepat ganti bajumu, aku ingin memotret mu di taman ini."
"Baiklah." Annisa menurut dan tidak ingin berdebat dengan Deon karena ia sudah pasti akan kalah.
Kemudian Annisa mengambil baju di mobil dan mengganti bajunya. Deon merasa senang melihat Annisa yang selalu menurut dengan ucapannya.
Baju yang dipakai Annisa ini terlihat lebih santai dengan yang dia pakai tadi. Seperti biasa, wanita ini selalu manis menggunakan baju apapun.
Deon menarik tangan Annisa dan membawanya ke tengah lapangan luas dimana banyak orang yang juga duduk santai di lapangan itu.
"Ayo ku foto!" Seru Deon setelah Annisa baru saja mendudukkan dirinya di tengah lapangan itu.
Hasil foto yang luar biasa bagi Deon. Wanitanya ini benar - benar sangat cantik dan manis pikirnya.
"Kamu cantik." Ucapnya.
"Apaan sih, bikin malu aja." Jawab Annisa sedikit malu dengan wajah merona bak senja yang kini mulai menampakkan ronanya di pelupuk awan putih.
Mereka menikmati sore dengan hati yang damai. Sembari menanti mentari kembali ke peraduan. Burung - burung mulai bertebaran yang juga kembali pada sangkarnya.
"Lihat itu, indah sekali." Ucap Annisa saat melihat matahari terbenam.
"Tapi kamu jauh lebih indah." Rayu Deon yang sedari tadi hanya melihat Annisa.
Annisa meletakkan punggung tangannya ke dahi Deon.
"Tidak panas." Ujarnya.
"Kenapa hari ini kamu aneh sekali." Sambungnya.
'Kenapa kamu tidak peka sih Annisa, ini caraku untuk menampakkan rasa cintaku. Sepertinya aku harus mengatakannya secara langsung, gadis ini memang tidak bisa peka dengan tindakan.'
"Hei, aku memang tidak sakit. Aku berkata jujur, kamu lebih indah dari matahari terbenam. Lihatlah baju yang kamu pakai saja sama warnanya dengan senja."
"Ih gombal!" Annisa langsung memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.
Namun Deon sudah menyadari wajah itu.
"Wajah merona itu juga tidak kalah indahnya dari rona senja yang menyelimuti awan" Tambah Deon semakin membuat Annisa kehabisan kata - kata.
__ADS_1
Deon hanya terkekeh melihat Annisa yang malu kini menyembunyikan wajahnya di balik lututnya.