Dia Istriku

Dia Istriku
Brownies Kenangan


__ADS_3

Annisa uring - uringan di ruang tamu, ia tengah menunggu Siska untuk menjemputnya. Semenjak pertemuannya dengan Indra, semangatnya untuk pergi ke kampus telah hilang.


Bukan karena rasa itu masih ada, bukan. Tapi karena Siska yang selalu minta ditemani untuk melihat pangeran pujaannya yang merupakan mantan kekasih Annisa.


Bertatapan langsung dengan sang mantan yang menatapnya dengan intens membuatnya tidak nyaman. Ia juga merasa tidak enak hati terhadap Siska yang penuh harapan akan pujaan hatinya. Tapi yang diharapkan justru melirik gadis lain. Untungnya Siska tidak menyadari itu.


Cinta memang membutakan seseorang. Bahkan orang yang tengah mabuk kepayang itu sampai terlihat begitu bodoh. Annisa sampai geram dibuatnya.


Dengan apa yang terjadi saat ini. Indra memanfaatkan situasi, dengan kebodohan Siska yang dibutakan oleh cinta.


Indra mengajaknya pergi makan siang di sebuah cafe. Siska yang diajak tentu saja dengan senang hati mengangguk mau untuk makan siang bersama. Tapi dengan syarat bahwa Annisa juga harus ikut.


Seperti telah memegang sebuah kunci rahasia sebuah berangkas berlian. Keterlibatan Siska menjadi kunci bagi Indra agar ia dapat bersama dengan Annisa. Siska merengek memaksa Annisa yang awalnya menolak bergabung jadi terpaksa ikut makan bersama.


Bukannya Indra tidak tau tentang perasaan Siska terhadapnya, ia sangat tau tentang perangai Siska yang tanpa di tebak pun jelas terlihat bahwa ia menyukai Indra. Tapi kehadiran Annisa telah merubah pandangannya. Hanya Annisa yang ia lihat saat ini.


Tibalah mereka di sebuah cafe yang terkenal sebagai tempat tongkrongan remaja yang tengah hits saat ini.


"Siang mas Indra! Duuuh, mas Indra sekali bawa cewek ke sini langsung dua lho."


Ledek seorang pelayan kepadanya, Indra hanya terkekeh geli melihat racauan pelayan itu.


"Kalian mau pesan apa?" Tanya Indra kepada Annisa dan Siska.


"Makanan apa yang lagi hits di sini?" Tanya Siska antusias.


"Yang paling disukai di sini brownies, special resepnya dari mama aku."


"Hah?! Jadi cafe ini punya keluarga kakak?" Hanya Siska yang kepo dengan apa yang dikatakan Indra.


"Iya, setelah papa pensiun kami memutuskan membuka usaha. Mama memilih membuka cafe karena mama suka bikin kue. Sedangkan papa membuka minimarket tepatnya minimarket yang ada disebelah cafe ini." Tutur Indra yang mendapat anggukan oleh Siska.


Perpindahan Indra saat berpisah dengan Annisa karena papanya yang saat itu merupakan kepala sekolah di SMA Annisa pensiun. Demi mewujudkan impian Indra yang ingin berkuliah di universitas impiannya, keluarganya menetap di kota itu dan membuka usaha.

__ADS_1


"Wooow, pasti brownies buatan mama Kaka enak banget." Siska berbinar ingin sekali memakan kue yang di buat oleh calon mama mertua baginya itu.


"Tentu saja, brownies itu juga sangat di sukai oleh seseorang." Ucap Indra sambil melirik kearah Annisa.


Seolah mengerti, Annisa merasa seseorang yang Indra maksud adalah dirinya. Sedangkan Siska juga memahami bahwa seseorang itu adalah orang yang spesial bagi Indra tapi ia tidak tau bahwa orang itu tengah berada di sampingnya.


"Aku mau coba kak." Ujar Siska mengalihkan perhatian karena setelah mendengar perkataan Indra suasana menjadi sedikit rancu.


"Kamu juga?" Tanya Indra kepada Annisa.


Ia sangat berharap Annisa mengatakan iya. Agar Annisa dapat mengingat berbagai kenangan yang telah terukir dalam sepotong brownies.


Karena saat mereka bersama, brownies adalah kue kesukaan Annisa dan Indra dengan sengaja selalu membawa beberapa potong brownies di saat - saat kebersamaan mereka..


"Tidak, aku mau cheese cake aja."


Indra tersenyum kecut mendengarnya. Harapannya untuk mengingatkan kenangan masa lalu kepada Annisa sirna.


'Ada apa ini? Tatapan kak Indra sedikit berbeda kepada kak annisa.'


Ia segera menepis pikirannya. Tidak mungkin!


"Kak Annisa lebih suka cheese cake kak." Ujar Siska menepis kekecewaan Indra.


"Tapi nanti kak Annisa bakalan mencicipi brownies nya kok. Iya kan kak?" Siska mengedipkan matanya minta di setujui.


"Iya."


Tidak berapa lama pesanan mereka datang. Siska sangat antusias terhadap brownies itu. Ia sudah tidak sabar untuk mencicipinya.


"Eeemm, ini beneran enak banget. Kak Annisa coba deh." Siska menyodorkan sesendok penuh brownies kepada Annisa dengan harapan Annisa memakannya.


Awalnya Annisa ingin menolak, tapi ia urungkan karena melihat tatapan penuh harapan dari Siska.

__ADS_1


"Hmm, iya enak." Ucap Annisa mengomentari rasa dari brownies tersebut.


Rasanya sangat enak tidak berubah saat pertama kali ia memakannya dulu yang membuatnya jadi sangat menyukai brownies itu.


Sekarang pun masih suka, terlebih rasa yang sama dengan pembuat yang sama dan makan di hadapan orang yang sama. Sungguh membawanya kembali pada sebuah kenangan.


Indra tersenyum saat melihat Annisa memakan brownies tersebut. Ia merasa berhasil membawa kenangan itu dengan harapan bahwa hati Annisa kembali melunak terhadapnya.


Perlahan saja, sedikit demi sedikit Indra akan merebut kembali hati Annisa. Ia sanggup bersabar hanya untuk cintanya.


Mulai dari mengingatkan Annisa tentang brownies yang menjadi kenangan manis mereka. Indra juga sudah merancang - rancang hal - hal yang akan mengingatkan Annisa pada semua kenangan mereka.


"Kak Indra, aku suka banget lho sama brownies nya. Ini brownies terenak yang pernah Siska makan." Siska berusaha mencari perhatian.


Indra terkekeh mendengarnya, kalau saja Siska tidak berbicara mungkin ia telah melupakan kehadiran gadis ini karena terlalu hanyut dalam kenangannya bersama Annisa.


"Kalau suka borong dong." Indra berusaha mengembalikan suasana yang sempat hanyut dalam kenangan.


"Bercanda Sis." Sambungnya karena mendapati ekspresi bingung dari Siska.


"Hahahaha... Kak Indra bisa aja. Nggak apa - apa kok kak aku memang pengen borong kayaknya. Buat stok cemilan di rumah."


"Aku kasih free aja kok sis buat kamu. Tapi janji, harus sering - sering ke sini ya setelah ini."


"Serius kak? Waaah, makasih banyak kak. Aku bakalan ke sini terus kok, abis enak banget brownies nya."


Indra terkekeh geli melihat tingkah lucu dari Siska. Rasanya ia merasa dirinya sangat jahat terhadap Siska. Ia tau gadis itu menyukainya tapi ia malah menjadikan gadis tersebut sebagai batu loncatannya untuk mendekati Annisa.


Seandainya Annisa tidak pernah muncul lagi di hadapannya, mungkin ia akan mempertimbangkan Siska untuk ia miliki. Tapi rasa cinta yang masih lekat terasa di hatinya untuk Annisa membuatnya mengesampingkan hal lain yang sebenarnya pantas untuk dirinya.


Ia masih mengharapkan Annisa untuk ia miliki. Ia belum bisa menerima hati lain untuk dirinya. Hanya Annisa dan tetap Annisa. Sampai kapanpun.


Ia juga melupakan ucapan Annisa yang mengatakan bahwa ia telah menikah. Ia menepis segalanya apapun yang Annisa lakukan, ia hanya menganggap bahwa Annisa hanya sedang marah kepadanya. Dan sekarang ia akan berusaha meredakan amarah Annisa dan membawanya kembali ke relung hati yang selama ini kosong.

__ADS_1


__ADS_2