Dia Istriku

Dia Istriku
Kebenarannya


__ADS_3

Wanita itu menghampiri mama Deon dengan angkuhnya dan ia menyerahkan beberapa foto dan data Annisa ke tangan mama Deon.


"Jadi wanita iblis ini dalangnya?"Ucap Deon setelah melihat kedatangan Tara.


"Diam Deon, berhenti menghina Tara."


"Jadi mama percaya begitu saja dengan apa yang di dapat wanita ini?"


"Dia calon istrimu! Tentu saja mama lebih percaya dengan bukti yang di berikan Tara. Dan setelah ini, mama minta kamu ceraikan wanita itu dan menikahlah dengan Tara."


Senyum Tara mengembang dengan sempurna mendengar pembelaan dari mama Deon.


"Aku tidak mau ma, sampai matipun Deon tidak akan pernah Sudi menikah dengan wanita itu." Ucap Deon kesal bahkan menyebut nama Tara pun ia enggan.


"Tutup mulutmu Deon, kau lebih memilih wanita murahan yang tidak jelas ini di banding wanita dari keluarga terhormat seperti Tara."


"Dia bukan wanita murahan ma, Deon bisa jelaskan semuanya tentang Annisa."


"Tidak ada yang perlu di jelaskan, karena memang sudah jelas ia wanita yang seperti apa."


"Dengarkan Deon dulu ma! Deon akui, Deon memang bertemu dengannya di club malam."


Lalu Deon menjelaskan secara rinci bagaimana keadaan Annisa kala itu dan masalah yang di hadapi Annisa hingga ia bisa bertemu dengan Deon.


Satu kunci terbuka di hati mama Deon kala itu, tapi tetap saja itu masih belum cukup untuk membuatnya percaya sepenuhnya dengan ucapan anaknya itu.


"Dan kau percaya semudah itu lalu menjadikannya istri? Bukankah dengan hanya menolongnya saja sudah cukup, kenapa harus kau nikahi?"


"Deon mencintainya ma, itu lah sebabnya Deon menikahinya."


"Omong kosong!"


"Tidak ma, Deon sudah menyelidiki kebenaran tentangnya. Ini mungkin terdengar seperti lelucon, tapi Deon sungguh - sungguh mencintainya ma. Tolong restui kami!" Pintanya kepada mamanya.


Terlihat jelas kata - kata Deon yang tulus tanpa kebohongan. Seorang ibu akan sangat memahami bagaimana perasaan anaknya walau hanya dengan tatapan mata.


Ucapan anaknya membuat hatinya luluh, tapi ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa anaknya telah menikahi wanita lain bukan wanita pilihannya. Ia masih berusaha untuk menyatukan anaknya dengan Tara.

__ADS_1


"Kalau begitu, menikahlah lagi dengan Tara. Dengan begitu, mama akan bisa merestui pernikahanmu itu."


"Tidak akan ma."


"Kenapa tidak? Mama tidak mau cucu mama lahir dari rahim seorang wanita yang tidak jelas itu."


"Ma.... Annisa memang dari keluarga biasa tapi dia wanita baik dan tulus dengan Deon."


"Apa kamu pikir Tara tidak tulus terhadapmu? Ia juga sangat mencintaimu Deon!"


"Dia tidak mencintai Deon ma. Dia memang dari keluarga terpandang tapi ia hanya menginginkan kedudukan dan kekuasaan keluarga kita ma."


"Itu bohong mi, Tara sangat mencintai Deon." Tara berusaha membela dirinya sendiri agar mama Deon tetap membelanya.


"Benarkah? Sepertinya aku harus mengikuti alur rencanamu."


"Apa maksudmu Deon? Aku bahkan masih memperjuangkanmu meski kau terus menyakitiku."


"Memperjuangkanku atau memperjuangkan harta dan kekuasaan keluarga ku?"


"Sudah lah Deon, berhenti menjelekkan Tara."


"Stoooop!" Mama Deon melerai perdebatan yang mulai memanas.


"Ok ma, sepertinya Deon harus menunjukkan kebenarannya ke mama."


Kemudian Deon bergegas pergi ke kamarnya, di tapakinya setiap anak tangga dengan kasar. Amarahnya kian memuncak dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.


Setelah sampai di kamarnya, ia mengambil sebuah ponsel di dalam lemari yang tertata rapi. Ponsel yang sudah retak layarnya namun masih bagus kondisi dalamnya. Itu ponsel lama Deon, ponsel yang menjadi saksi penghianatan Tara terhadap dirinya.


Ia menekan tombol power ponsel lamanya itu. Masih berfungsi dengan baik dan video itu pun masih ada. Dengan tergesa - gesa ia turun menghampiri mamanya yang masih berada di ruang tamu itu.


Ia menyerahkan ponselnya dengan video yang siap untuk di putar itu ke tangan mamanya.


"Inilah sesungguhnya wanita terhormat yang mama banggakan itu." Ucapnya dengan seringai senyum di salah satu sudut bibirnya.


Mama Deon memutar video yang sudah di siapkan Deon itu. Alangkah terkejutnya ia melihat adegan tanpa sensor dan tanpa manipulasi itu. Tak berkedip mama Deon melihatnya, ia berusaha memperhatikan wajah wanita yang tengah beradu gairah. Dan itu memang benar - benar Tara.

__ADS_1


Belum sempat habis video itu di putar, ponselnya jatuh dengan posisi terbuka bahkan Tara sendiripun melihat dari jauh bahwa itu adalah video dirinya. Tara lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tidak percaya bahwa saat itu Deon telah merekam semuanya.


Tara menoleh ke arah mama Deon yang sudah menatapnya dengan tajam.


"Maaaa...miiii." Ucap Tara terbata - bata.


"Apa?! Kau ingin mengatakan itu bukan dirimu atau video itu palsu?" Mama Deon berkata dengan nada tinggi yang menggelegar di seluruh ruangan.


Tara hanya menggelengkan kepalanya, ia pun sudah kehabisan ide untuk membela dirinya.


Dengan amarah yang tak tertahankan lagi, satu tamparan berhasil mendarat di pipi Tara oleh mama Deon.


"Pergi kau dari sini bahkan dari hidupku dan keluargaku!"


Tara pun pergi tanpa membela dirinya lagi, ia benar - benar telah tamat. Di peganginya pipinya yang telah berbekas itu menjauhi rumah Deon.


Air matapun lolos dari kedua mata mama Deon. Ia sungguh tidak percaya semua ini. Tara bukan hanya menghianati Deon tapi juga menghianati kepercayaan darinya. Ia merasa telah dibodohi dan tertipu. Ia bahkan merasa bersalah terhadap anaknya sendiri yang selama ini justru tidak ia percayai.


"Maafkan mama Deon."


Kalimat itu yang berhasil lolos dari bibirnya. Lalu setelah itu pandangan nya buram, ia tak dapat mengontrol lagi pandangannya. Sekejap saja ia pun langsung jatuh pingsan.


"Mamaaaaaaaa!" Teriak Deon sambil menangkap tubuh mamanya yang kini telah tersungkur.


Isak tangisnya mulai pecah, Annisa pun ikut panik dan berusaha mencari pertolongan. Beruntung di luar rumah masih ada supir yang mengantarkan mama Deon ke rumahnya.


"Inilah sebabnya kenapa aku tidak memberitahu mama dari dulu." Ucapnya sambil memeluk tubuh mamanya itu.


Supir masuk dan membantu Deon mengangkat tubuh mamanya lalu membawanya ke dalam mobil. Deon menarik Annisa yang hendak kembali lagi ke dalam rumah.


"Ikutlah denganku ke rumah sakit."


"Tidak, aku tidak berani."


"Percayalah dengan ku."


Lalu Annisa pun juga ikut bersama dengan Deon untuk membawa mamanya ke rumah sakit. Supir membawanya ke rumah sakit terdekat, setidaknya agar mama Deon cepat di tangani.

__ADS_1


Kemudian Deon menghubungi papanya bahwa mamanya pingsan dan kini di bawa ke rumah sakit.


Sepanjang jalan Deon menggenggam tangan mamanya yang mulai dingin itu. Sesekali ia mengecup kening mamanya, ia merasa sangat bersalah. Seharusnya ia mengingat kondisi ibunya terlebih dulu sebelum memberitahu kebenarannya. Namun, emosinya mengalahkan akal sehatnya kala itu dan itu benar - benar membuatnya sangat bersalah.


__ADS_2