Dia Istriku

Dia Istriku
Masalah Selesai


__ADS_3

Deon meraih kembali ponselnya yang tergeletak di sampingnya dan ia mencoba membaca membuka pesan masuk yang sempat ia baca awalnya.


"Mohon maaf mengganggu, jika anda membutuhkan dana atau modal silahkan hubungi nomor xxxxx"


Setelah membaca pesan itu Deon melihat pada nomor yang ternyata memang nomor tidak di kenal. Rupanya itu pesan dari layanan pinjaman. Rasanya Deon ingin sekali mengumpat dengan kasar pada si pengirim pesan.


Sungguh membuatnya murka, kenapa pesan itu masuk di saat ia tengah gundah. Kemudian ia kembali fokus untuk mencari Annisa kembali.


Masih di taman tempat ia duduk menenangkan diri. Annisa sudah merasa tenang dan berencana untuk kembali ke rumah. Karena pada dasarnya Annisa merupakan wanita yang penyabar. Ia hanya memerlukan beberapa waktu untuk meredakan emosi lalu ia akan kembali seperti tidak terjadi apa - apa.


Saat baru akan berjalan, tiba - tiba ada tubuh yang hangat sedang memeluknya erat.


"Sayang, maafkan aku." Ucapnya lirih.


Annisa tersenyum tipis dalam pelukan yang sudah ia hapal aroma tubuhnya itu.


"Maafkan aku juga, aku yang salah sudah membuat kamu marah." Annisa membalikkan tubuhnya dan berpaling menghadap ke arah Deon. Ia menatap dalam mata indah milik suaminya itu.


"Tidak sayang, aku yang salah. Aku terlalu egois sudah bertindak tidak wajar kepadamu. Sekarang, kita duduk dulu di sini. Mari kita bicarakan baik - baik apa yang kamu inginkan." Ajak Deon dan ia mendudukkan dirinya dan Annisa ke kursi taman tempat yang di duduki Annisa sebelumnya.


"Oke, sekarang katakan apa mau mu." Deon membuka pembicaraan.


"Aku mau ikut tes kuliah seperti yang lainnya."


"Kenapa harus ikut tes, kamu kan bisa ikut jalur khusus."


"Aku mau ikut jalur khusus asal tidak ada dorongan darimu."


"Tidak ada, kamu di terima murni kemampuanmu. Tadi Joni mengirimkan pengumumannya, bahkan nilaimu berada di posisi pertama. Dan nilainya tanpa manipulasi siapapun."


"Serius? Sepertinya aku sudah berpikiran negatif terlebih dahulu. Aku mengira kamu akan memperkenalkan aku sama paman kamu sekaligus mencari jalur mulus untuk ku."


"Hmmm, jadi kamu berpikir seperti itu. Makanya jangan suka larut dalam pikiranmu dahulu sebelum bertindak." Ucap Deon yang mendapat tanggapan meledek dari Annisa.


"Kamu kan juga sama. Tadi juga larut dalam pikiranmu sendiri sampe mikir aku ingin merahasiakan statusku."

__ADS_1


"Hehee, maaf. Oke, kita sama - sama salah. Kita sepakati untuk kedepannya kita harus diskusikan terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu."


"Iya, kita harus saling percaya dan jujur satu sama lain."


"Ada lagi yang ingin kamu inginkan sayang?"


"Aku sudah bilang kan hanya ingin seperti mahasiswa biasa. Jadi aku mau kamu tidak berlebihan."


"Iya sayang. Aku janji tidak akan berlebihan. Tapi jika aku kenalkan teman untuk menjagamu apa kamu mau?"


"Maksudnya? Apa kamu mencarikan seorang pengawal untuk menjagaku? Itu termasuk kategori berlebihan yang aku bilang tadi. Aku nggak mau."


"Tidak sayang, paman aku pemilik kampus itu punya anak alias adik sepupu aku. Ia juga baru masuk kuliah dan kebetulan satu jurusan sama kamu. Makanya aku ke tempat paman mau memperkenalkan dia sama kamu."


"Benarkah? Waaah, kalau seperti itu aku mau sayang."


"Hmmmm, sekarang masalah kita sudah selesai kan."


Annisa hanya mengangguk menyetujui bahwa sekarang masalah mereka telah selesai.


"Iya, ayo!"


Deon menggandeng tangan Annisa menuju mobil dan kemudian mobil itu melaju ke tujuan.


_____________________


"Apa ini yang namanya Annisa? Pantaslah Deon mabuk kepayang. Orang cantik begini." Paman Alex menggoda Deon yang baru memasuki rumah mewahnya itu.


"Apa sih om. Baru juga Deon sampai sudah di ledek begini." Sambil menyalami pamannya dan ia juga menyuruh Annisa untuk bersalaman juga.


"Ayo masuk." Perintah paman kepada Deon dan Annisa.


"Siska mana om?" Tanya Deon yang baru saja mendudukkan dirinya.


"Kayak ada yang memanggil namaku." Si pemilik nama langsung menyahut.

__ADS_1


"Nah ini orangnya, panjang umur." Paman langsung menunjuk kearah anaknya.


"Ada apa sih ka?" Tanya Siska kepada Deon.


"Nggak kok, mau kenalin kamu aja sama istrinya kakak."


"Jadi ini istri kakak? Halo kakak ipar, salam kenal aku Siska Wijaya. Panggil saja Siska ya kakak ipar" Siska memang orang yang cepat beradaptasi. Baru pertama melihat Annisa ia sudah menjadi akrab.


Mendapat perlakuan baik, Annisa merasa senang dan ia juga memperkenalkan dirinya.


"Siska, kakak bisa minta tolong sama kamu?" Tanya Deon.


"Apapun yang mulia, asal anda tidak meminta saya untuk mati saja." Celetuk Siska yang langsung mendapat tawa dari semua orang.


Paman hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah anaknya yang selalu seperti itu. Tapi paman Alex selalu bangga kepada anak semata wayangnya itu.


Sebenarnya Siska menjadi anak kesayangan oleh keluarga Deon. Pasalnya ia cucu perempuan satu - satunya di keluarga besar Deon. Ia juga lahir setelah penantian panjang oleh Paman Alex. Itu lah kenapa usia Deon dan Siska sangat jauh padahal paman Alex lebih dulu menikah dibandingkan dengan papa Deon.


Meskipun ia dianggap istimewa di keluarga besar, namun siska tidak pernah manja dan justru bersikap dewasa dan ceria. Ia anak yang gampang bergaul.


"Kakak ipar kamu ini juga baru masuk kuliah, dia juga masuk di jurusan yang sama dengan kamu. Jadi aku minta, kamu bantu dia dan jaga dia karena kakak ipar kamu ini baru di sini dan tidak mengenal siapapun." Tutur Deon.


"Siap komandan! Kakak ipar tenang saja, aku akan membantu kakak ipar."


Annisa tersenyum melihat tingkah Siska, ia bersyukur dengan adanya Siska ia akan merasa aman tanpa harus di awasi secara berlebihan dengan pengawalan yang diperintahkan oleh Deon.


Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Annisa untuk beradaptasi dengan keluarga Deon. Pasalnya keluarga Deon dari sebelah papa memang sangat ramah.


Hingga tidak terasa sudah cukup lama mereka berada di rumah paman Alex. Siska saja sampai ketiduran di ruang tamu.


Kemudian Deon berpamitan untuk pulang karena Annisa juga terlihat sangat mengantuk. Belum sampai rumah Annisa juga sudah tertidur.


Sesekali ia memandang wajah Annisa yang terlihat sangat lelah itu. Ia merasa kasian kepada Annisa atas perlakuannya tadi.


Rasa cinta yang teramat dalam telah membutakan mata hatinya. Rasa cinta yang terlukis kuat membuatnya takut untuk kehilangan. Rasa cinta yang tertanam telah tumbuh kokoh tak ingin berpisah. Rasa cinta yang akan selalu ia jaga selamanya bahkan sampai ia mati.

__ADS_1


Dinginnya angin malam yang menusuk ke tulangnya tak berkutik akibat hati yang telah menghangat. Terpaan apapun takkan mampu merubuhkan kokohnya cinta mereka. Sebuah konflik akan menjadi pupuk yang akan mempererat cinta mereka.


__ADS_2