
Usahanya memang akan berhasil sepertinya. Bukan hanya berhasil terhadap Indra tapi usahanya itu juga berhasil membuat dirinya menjadi bahan pembicaraan anak - anak kampus.
Sebuah rumor yang buruk mulai muncul di sekitar kampus tentang Annisa.
Siska sedang berada di toilet sekarang. Setelah mendapat telpon dari Annisa pagi tadi ia berangkat sendiri ke kampus. Siska jadi santai - santai hingga ketiduran. Karena terburu - buru pergi ke kampus dia tidak sempat menunaikan amalannya di pagi hari. Hingga pagi ini ia sudah berada di toilet kampus.
Beberapa wanita masuk ke dalam toilet. Dengan suara berisik yang mengganggu konsentrasi Siska. Kemudian Siska meraih tasnya dan mengambil headset. Berniat memasang headset itu agar kegiatannya tidak terganggu oleh suara berisik.
"Kalian tau maba yang namanya Annisa nggak?" Ucap salah satu dari wanita itu.
Mendengar nama Kakak iparnya di sebut, Siska yang hampir menutup lubang telinganya jadi mengurungkan niatnya. Ia justru memperlebar pendengarannya.
"Oh, cewek yang sok kecantikan itu."
"Iya. Padahal biasa aja ya tapi kok cowok - cowok kaya terbelalak gitu matanya liatin Annisa."
"Aku dengar dari teman - temannya, katanya dia itu anak yatim piatu."
"Iya, aku juga dengar. Kok dia bisa pakai pakaian yang branded gitu ya. Semingguan ini aku lihat dia pakai baju - baju mahal. Dapat dari mana coba."
"Jual diri kali."
Tiba - tiba ada satu wanita lagi datang.
"Sorry telat guys, ngomongin apa sih?"
"Ngomong maba yang namanya Annisa." Sahut salah satu wanita itu dengan nada tidak suka.
"Oh yang itu. Eh, kalian mau tau nggak apa yang aku lihat tadi tentang Maba yang namanya Annisa itu."
"Apa?!" Jawab teman - temannya serempak.
"Tadi aku liat Annisa diantar sama om om. Pake acara lambai - lambaian tangan lagi. Ih, aku jadi jijik liatnya."
"Seriusan??"
"Ya iyalah, aku liat dengan mata kepalaku sendiri kok."
Mendengar pembicaraan itu membuat Siska naik pitam. Rasanya ia sangat ingin merobek mulut wanita - wanita itu.
Tapi ia urungkan, emosi tidak akan menyelesaikan masalah.
__ADS_1
'Tapi kalau di pikir - pikir emang bener sih semingguan ini pakaian kakak ipar agak aneh.'
Siska berpikir keras bagaimana menyelesaikan masalah ini. Karena di sisi lain Annisa tidak ingin identitasnya di ketahui oleh orang - orang.
Tapi jika ia tidak ingin di ketahui oleh orang kenapa Annisa sepertinya malah ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah menantu dari keluarga kaya.
Ini sedikit aneh menurut Siska. Sepertinya ada yang aneh atau mungkin ada yang sedang dirahasiakan oleh Annisa.
Ia akan mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ya mungkin saja ia bisa membantu.
Saat ini nama Deon menjadi tujuannya untuk ditelpon. Sepertinya ia harus memberi tahu kakak sepupunya itu tentang apa yang ia dengar.
"Iya princess." Jawab Deon di sebrang sana.
"Kakak ipar sudah berangkat apa belum?"
"Sudah, mungkin sekarang sudah sampai."
"Sama siapa?." Tanyanya lagi.
"Sama papa."
"Jadi sama om. Hah, pantesan." Siska menarik nafas lega.
"Ada apa?" Tanya Deon yang sepertinya memahami bahwa adik sepupunya ini tidak mungkin menelpon begitu saja jika tidak ada yang terjadi.
"Sepertinya kakak ipar dalam masalah."
"Masalah?!" Deon mengernyitkan keningnya mendengar sang istri pun dalam masalah.
Kemudian Siska menceritakan semua yang ia dengar di toilet tadi. Tentang Annisa yang di katai sebagai wanita yang tidak baik.
Deon mengepalkan tangannya merasa tidak senang akan tuduhan yang tertuju untuk diri istrinya itu. Ia sangat geram, merasa tidak mampu melindungi istrinya.
Melihat amarah Deon yang sangat jelas terlihat itu justru membuat sang mama menjadi cemas. Ada masalah apa lagi ini pikirnya. Padahal baru beberapa hari mereka merasa bahagia. Kenapa begitu cepat kacau.
"Sayang, ada apa nak?" Tanya mama kepada Deon yang sedang mengepalkan tangannya itu.
"Tidak ada ma." Kelakar Deon yang tidak ingin menambah beban pikiran mamanya.
"Jangan bohong, aku ini mamamu Deon. Mama tentu akan tau bagaimana wajahmu menahan amarah."
__ADS_1
"Ini tentang Annisa ma."
Kemudian ia menceritakan semua yang dikatakan oleh Siska kepadanya. Sebenarnya ia juga ingin menceritakan tentang Indra, tapi ia urungkan. Urusan yang satu itu biar Annisa yang selesaikan.
"Itu lah sebabnya mama ingin segera sembuh. Mama ingin mengadakan resepsi pernikahan untuk kalian."
"Serius ma."
"Iya, mama ingin semua orang tahu bahwa Annisa adalah menantu kesayangan mama."
Sepertinya keinginan mamanya ini akan menjadi solusi untuk rumor yang beredar. Tinggal urusan dengan Indra saja lagi, sepertinya Annisa bergerak lambat menurut Deon.
"Pokoknya mama ingin secepatnya mengadakan resepsi pernikahan kalian. Bagaimana jika Minggu depan?"
"Duh ma, itu kayaknya terlalu cepat deh."
"Lebih cepat kan lebih baik sayang. Kasian istri kamu nanti rumor itu malah semakin besar."
"Tapi aku belum kasih tau Annisa ma. Gimana persiapannya segala macam - macam rupa keperluan pernikahan Deon nggak tau."
"Itu gampang, mama punya teman yang memiliki usaha WO. Dia pasti mau jika mama minta cepat tanpa harus menunggu jadwal yang lain."
"Oke sih ma, tinggal Annisa aja lagi. Dia kan wanita dengan sejuta kesederhanaan. Bisa di restui mama aja dia udah senang.
"Itu urusan mama yang akan bujuk dia. Lagi pula, resepsi ini memang harus segera di laksanakan sebelum Annisa hamil. Kamu tau sendiri lah, kalau ada yang nikah cepat kadang ada yang mendadak jadi ahli matematika. Menghitung tanggal nikah sampai lahiran, kalau ada yang nggak sesuai pastilah di kira hamil duluan." Tutur mama yang tidak ingin menantunya semakin mendapatkan rumor buruk.
"Ya oke deh ma. Mama memang yang terbaik." Deon memeluk mamanya dengan erat.
Mama yang selalu ingin kebahagiaan anaknya itu akan melakukan apapun demi kelancaran dan kebahagiaan Deon.
Deon bahagia mendapatkan dukungan penuh dari mamanya. Tinggal satu masalah lagi, sepertinya Deon sudah tidak sabar untuk mengakhiri hubungan Indra yang masih tidak ingin lepas dari Annisa itu.
Ia lalu mengambil HP-nya dan menelpon papa. Ia hanya sekedar ingin tau apakah urusan papanya sudah selesai apa belum. Jika sudah, maka ia ingin segera menyusul Annisa ke kampusnya.
Ternyata urusan papa juga sudah selesai, Deon dengan sabar menanti kedatangan papa ke rumah sakit untuk bergantian menjaga mamanya.
"Kenapa terburu - buru?" Tanya papa penasaran karena melihat Deon yang tergesa - gesa ingin menjemput Annisa.
"Nggak kok pa, lagi pengen cepat ketemu Annisa aja." Kelakarnya.
"Kalau punya masalah jangan pakai emosi, menyelesaikannya harus dengan kepala dingin. Biar masalahnya tidak semakin runyam." Nasehat papa.
__ADS_1
Sepertinya reaksi wajah Deon mudah di tebak. Ucapan papa langsung tepat sasaran.