
Hari yang di tunggu telah tiba. Hari dimana semua orang akan melihat kesungguhan cinta dari seorang Deon dan keberuntungan seorang Annisa bak Cinderella.
Rumah mewah yang sudah dihiasi bunga-bunga khas pelaminan itu berjejer indah di setiap sudut rumah. Seolah menari dengan ceria menyampaikan betapa indahnya cinta yang mereka miliki. Betapa indahnya hari ini.
Derap langkah pengantin wanita menuruni anak tangga mengalihkan semua mata dan tertuju padanya tanpa terkecuali. Gaun putih nan indah seolah bersinar menghipnotis semua insan yang menatapnya.
Cantik dan anggun komentar setiap orang namun tak dapat mengungkapkannya. Semua orang hanya takjub melihat betapa cantiknya Annisa hari ini.
Annisa sedikit gugup dengan tatapan semua orang kepadanya. Ini harinya dan ia tidak ingin mengacaukan hari bahagianya ini dengan kegugupannya.
Tepat di pijakan tangga terakhir. Tangan Deon menjulur meminta di sambut. Tanpa ragu, Annisa menyambut tangan itu. Tangan lelaki yang sangat ia cintai.
Sebelum melangkah menuju singgasana mereka hari ini, mata mereka bertemu. Saling menatap dengan penuh cinta. Menyiratkan perasaan cinta yang semakin dalam.
Raja dan ratu itu kini bersanding dengan senyum indah tanpa henti. Menulari rasa bahagia untuk setiap orang yang melihat pasangan ini.
Keluarga Deon mengadakan pesta besar-besaran, sehingga tamu undangan pun membludak memenuhi rumah yang besar orang tua Deon.
Bahkan sampai di hadiri beberapa wartawan, pejabat negara, petinggi-petinggi perusahaan dan rekan bisnis.
Selain itu, papa Deon juga mengundang beberapa artis ternama untuk memeriahkan acara pernikahan anaknya itu.
"Bagaimana sayang, kau bahagia?" Tanya Deon.
__ADS_1
Padahal tanpa ditanyakan pun sudah terlihat jelas bahwa Annisa sangat bahagia. Dengan tersenyum tanpa paksaan di sepanjang acara.
"Tentu saja aku sangat bahagia." Jawabannya dengan mata yang berbinar bahagia bercampur haru.
"Maafkan aku karena sempat menolak acara ini. Aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Aku tidak tau tingkat kebahagiaan orang itu berbeda. Bahagianya orang tuamu seperti ini." Tambahnya.
"Tidak apa sayang, kedepannya jangan pernah menolak apa yang mereka berikan." Ucap Deon yang di balas anggukan oleh Annisa.
Deon tampak senyum menawan mendengar kepatuhan Annisa. Sungguh atmosfer yang mereka suguhkan hari ini membuat semua orang bahagia.
Tidak berapa lama akhirnya Siska datang sesuai janjinya kepada Annisa. Benar, Siska masih duduk di kursi roda saat menghadiri pernikahan Deon dan Annisa.
"Aku sudah bilang kan kalau aku pasti datang." Ucap Siska.
Annisa kembali teringat apa yang membuat mereka menjadi renggang kemarin. Ia sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Dia merasa sangat tidak pantas memiliki keluarga yang membahagiakan ini. Tapi apa yang di rencanakan Tuhan memang selalu di luar logika manusia.
"Astaga kakaaaaaaak! Kenapa menangis, hmm? Make up mu akan luntur dan kau akan jadi pengantin paling jelek sejagat raya." Celoteh Siska untuk membuat suasana yang hampir berubah menjadi kesedihan itu.
Annisa kembali ke posisinya segera dan Deon dengan sigap memeluk pinggangnya dengan posesif.
Annisa terkekeh dibuatnya. Ia tau bahwa Siska memang selalu begitu. Dia tidak akan menghancurkan hari bahagianya ini dengan air mata.
"Iya, biarkan kakakmu ini yang paling jelek sekarang. Karena ia hanya akan cantik dihadapan ku." Ucap Deon sambil memencet kedua pipi Annisa dan menambah gelak tawa di acara mereka.
__ADS_1
Suasana kembali cerah dengan gurauan-gurauan yang mereka lontarkan.
"Apaan sih!" Balas Annisa sambil menyikut perut Deon.
"Lihatlah, dia mulai jadi pengantin pemarah sekarang." Goda Deon yang membuat Annisa semakin memerah.
"Dan kau jadi suami si pengantin pemarah ini sekarang." Annisa yang mulai ikut bergurau.
"Tidak masalah, karena kau sangat imut jika marah."
Mama sangat bahagia melihat anaknya bahagia. Tiba-tiba mama kembali memeluk anak dan menantunya itu.
"Teruslah berbahagia kalian. Mama selalu akan mendoakan kebahagiaan untuk keluarga kalian."
"Terima kasih ma." Jawab Annisa dan Deon bersamaan.
Dari kejauhan, ada sepasang pria dan wanita di sela keramaian. Menatap keluarga yang tengah berbahagia itu dengan tatapan sinis. Seolah tidak terima melihat kebahagiaan yang disuguhkan di hadapan mereka.
Sang wanita sepertinya sudah tidak tahan melihat kebahagiaan itu. Hatinya terasa panas, ia ingin menghancurkan kebahagiaan itu segera.
Saat wanita itu ingin melangkah untuk menghancurkan acara tersebut. Sang pria mencegatnya.
"Jangan sekarang, biarkan saja mereka menikmati kebahagiaan mereka saat ini. Karena setelah ini, hanya akan ada air mata yang akan selalu hadir dalam kehidupan mereka." Ucap pria itu dengan sinis.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar menunggunya!"