Dia Istriku

Dia Istriku
Air mata


__ADS_3

Pagi hari masih di rumah sakit tempat mama mertuanya di rawat. Annisa menata berbagai bunga ke dalam pot di samping ranjang mama mertuanya. Aroma wangi bunga segar semerbak di ruangan itu.


Deon tidak bisa menemani Annisa menjaga mamanya pagi ini. Ada sedikit masalah di kantor nya, oleh karena itu ia akan membereskan urusannya terlebih dahulu.


Terdengar suara ketukan dari arah pintu. Annisa menolehkan kepalanya ke sumber suara. Ada seorang perawat yang tengah membawa beberapa obat untuk di suntikan kepada mertuanya.


Annisa memperhatikan perawat saat menyuntikan obat ke tubuh mama mertuanya. Setelah selesai Annisa berdiri dan menghampiri perawat tersebut.


"Suster, kenapa mama mertua saya masih belum sadar juga." Tanyanya antusias.


"Mohon bersabar nyonya, kita hanya bisa menunggu. Kami sudah memberikan obat pelayanan yang terbaik. Sisanya kita serahkan kepada Tuhan. Teruslah berdoa agar mertua Anda cepat sadar."


"Apa tidak ada cara lagi?"


"Cobalah anda ajak bicara, dalam kondisi seperti ini biasanya pasien masih bisa mendengar. Jika anda mengajaknya bicara terus kemungkinan akan merangsang saraf - saraf pasien dan membuat yang bersangkutan semakin kuat untuk mendorong dirinya untuk bisa bangkit dan bangun dari koma."


"Baik sus, terima kasih."


Sepeninggal perawat tersebut, Annisa kembali duduk di samping ranjang mertuanya. Ia menatap lekat wajah pucat milik mertuanya itu. Matanya mulai berkaca-kaca, ia masih merasa bersalah akan semua hal.


"Selamat pagi ma, mungkin awal pertemuan kita tidak baik. Tapi bolehkah kita mengulang perkenalan kita."


Ucap Annisa memperkenalkan dirinya dan mulai bercerita berbagai macam cerita sesuai apa yang di sarankan oleh perawat.


Hal itu ia lakukan setiap saat ia ada di samping mertuanya. Berbagai macam kisah ia ceritakan, terkadang ia menangis dan tertawa saat menceritakan nya.

__ADS_1


Hingga pada saat hari ke lima mama mertuanya di rawat.


Annisa berteriak girang melihat respon yang di tunjukan mertuanya. Dengan cepat dokter menghampiri ruangan yang di tempati mama deon saat mendengar suara bel yang sengaja di tekan Annisa untuk memberitahukan perubahan yang terjadi.


Saat pintu terbuka dan dokter di iringi beberapa perawat masuk.


"Dokter...." Ucap Annisa sambil melebarkan senyumnya.


"Ada apa nyonya, apa yang terjadi?" Tanya dokter.


"Tadi beliau menggerak - gerakan tangannya."


"Itu bagus nyonya, artinya mertua Anda sudah mulai merespon dan berusaha untuk sembuh. Lakukan terus agar beliau cepat sadar. Permisi nyonya, saya akan memeriksa dan memberikan obat."


Setelah beberapa saat dokter sudah selesai memeriksa dan mengatakan bahwa kondisi kesehatan mertuanya itu mengalami kemajuan yang besar. Salah satunya bisa menggerakkan tangannya itu.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan wajah cemas.


"Ada beberapa kemajuan, tadi mama menggerakkan tangan. Kata dokter, kondisi mama juga semakin membaik."


"Benarkah? Syukurlah.... Aku senang mendengarnya." Ucap Deon dengan mata berkaca - kaca.


"Terima kasih sayang, kamu sudah menjaga mama dengan baik. Terima kasih Tuhan, engkau telah menghadirkan bidadari cantik dan baik hati ini" Sambungnya sambil menatap wajah istrinya yang sedikit pucat itu.


Annisa hanya menganggukkan kepalanya dengan mata yang juga berkaca - kaca, karena terharu dengan ucapan Deon. Walau bagaimanapun ia masih merasa bersalah. Ia dengan tekun merawat mama mertuanya karena rasa bersalah itu.

__ADS_1


Deon menyelimuti istrinya yang tertidur di kamar sebelah kamar mamanya di rawat, sedari Deon tiba ia melihat wajah istrinya yang pucat. Efek kelelahan karena merawat mamanya, sebelum tidur pun terjadi drama paksa memaksa.


Deon tidak habis pikir, semenjak mamanya di rawat. Istrinya itu tidak mau pulang. Ia ngotot ingin merawat mama mertuanya, meskipun Deon memaksanya ia tetap tidak ingin meninggalkan mama mertuanya.


Bukannya Deon tidak mengerti, ia sangat tahu bahwa istrinya itu merasa bersalah terhadap kejadian itu. Tapi sebagai pasangan yang baru menikah, Deon sangat menginginkan waktu berdua. Bermesraan berdua layaknya pengantin baru pada umumnya. Tapi Annisa justru mengatainya sebagai 'Anak Durhaka'. Mendengar itu, akhirnya ia menurut saja apa yang di lakukan istrinya.


Tapi bukan berarti Deon menjadi suami melow yang penurut. Ia juga bisa mengomeli Annisa, sebab wanita itu saking mengkhawatirkan mertuanya malah tidak memperhatikan dirinya sendiri. Seperti yang di lihat Deon saat ini, wajah istrinya itu pucat karena kurang istirahat.


Karena istrinya itu sudah tertidur, ia kembali ke kamar mamanya. Ia duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang mamanya.


"Ma, apa mama mendengarnya. Dia wanita yang baik kan ma. Setiap hari dia selalu berbicara dengan mama. Menganggap mama sebagai ibunya sendiri. Bukannya Deon membelanya ma, jika mama melihat ia sangat tulus." Deon berbicara dengan sedikit terisak.


Sungguh ia sangat terpukul melihat kondisi mamanya, bukan karena ia anak manja yang cengeng. Ia hanya tidak ingin membuat mamanya terluka sedikitpun. Ia bahkan merelakan hatinya tersakiti agar mamanya tidak terluka.


Ibarat pepatah 'Sepandai - pandainya tupai melompat pasti akan terjatuh juga' atau 'Sepintar - pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap akan tercium juga'. Itulah yang terjadi saat ini, rahasia yang di sembunyikan oleh Deon akhirnya terbongkar sudah.


Mungkin semua ini sudah takdir dari Tuhan. Ada rasa lega karena ia tidak perlu menutupi keburukan Tara. Tapi rasa bersalah juga menjalar di hati Deon. Ketakutan yang menjadi alasan ia menyembunyikan kebusukan mantan pacarnya itu terjadi. Dan itu membuat Deon merasa sangat bersalah di tambah lagi respon mama Deon terhadap Annisa.


Ia hanya berharap, jika mamanya akan segera sadar dan menerima Annisa dengan senang hati. Ia bahkan mengkhayalkan bahwa mama dan istrinya sangat akur saat memasak bahkan berbelanja bersama. Seperti yang sering mamanya ceritakan jika ia memiliki menantu, ia akan mengajaknya berbelanja dan memasak bersama.


Dan khayalan itu Deon ceritakan pada mamanya yang tengah terbaring koma itu.


"Aku menganggap itu sebagai janji mama. Aku akan menagihnya jika mama sadar nanti." Ucap Deon sambil mengecup tangan mamanya yang dihiasi selang infus itu.


Air mata Deon yang meluncur dengan deras membasahi tangan lembut yang sering membelainya itu. Dan saat ia mendongakkan kepalanya. Ia melihat alur di pipi mamanya bekas air mata yang mengalir. Deon tersentak dari duduknya dan menyapu dengan lembut pipi yang basah itu.

__ADS_1


"Mama mendengarnyakan!! Aku benar - benar akan menagih janji mama." Ia pun memeluk tubuh yang terbaring lemah itu. Memeluknya dengan hangat sambil memanjatkan rasa syukur akan respon dari mamanya itu.


Tidak selamanya air mata menandakan kesedihan. Kali ini air mata Deon yang mengalir akibat bahagia karena air mata yang keluar dari kelopak mata milik wanita yang telah melahirkannya itu. Semoga kebahagiaan akan segera tiba dengan berlimpah sebanyak air mata yang telah terbuang.


__ADS_2