
Di tempat lain, seorang pria tersenyum bangga. Ia bangga dengan wanita yang ia cintai atas kejujurannya.
Ya, pria itu adalah Deon. Ia dengan sengaja menyuruh anak buahnya untuk mengawasi istri tercintanya itu. Ia mengira bahwa Annisa akan berteman dengan sembarang orang dan dekat dengan laki - laki lain.
Ia sudah tau tentang masa lalu Annisa bahkan ia juga tau bahwa Indra adalah mantan pacarnya. Awalnya ia khawatir jika Annisa akan berpaling darinya karena pertemuan yang tak terduga itu. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Annisa Dan Indra putus secara baik dan masih ada harapan untuk kembali.
Tapi ia dapat bernapas lega, mendengar suara rekaman bahwa Annisa mengatakan bahwa ia adalah kakak iparnya Siska. Itu artinya Annisa sudah membentengi dirinya dari siapa pun. Karena pengakuan bahwa ia telah menikah dan tidak ada yang akan mengganggu Annisa termasuk mantan pacarnya.
"Tapi pak, sepertinya ada satu masalah kecil." Ujar Lea yang menjadi mata - mata yang menyamar menjadi mahasiswi agar Annisa maupun Siska tidak mengetahui bahwa mereka di awasi oleh Deon.
"Masalah apa?"
"Sepertinya Indra tidak percaya bahwa nyonya sudah menikah."
"Dari mana kamu tau?"
"Setelah nona dan nyonya pergi, ia terlihat menertawakan jawaban nyonya seperti menganggap ucapan nyonya hanya lelucon saja."
"Begitu? Kalau begitu terus awasi dia."
"Siap pak!"
Deon menjadi was - was, ia terlalu takut untuk kehilangan Annisa. Rasa cemburu yang luar biasa menyeruak di hatinya.
Tidak berapa lama terdengar suara ketukan.
"Masuk."
Kemudian masuklah seorang wanita yang baru saja ia pikirkan dengan senyuman yang indah menawan.
Deon tersenyum, hatinya bahagia hanya memandang senyum manis itu. Seketika ia melupakan pikiran kalutnya yang beberapa detik yang lalu memporak porandakan hati dan pikirannya.
"Ada apa? Kok datang nggak bilang - bilang."
Senyum cerah Annisa yang mengembangkan seketika berubah mendengar pertanyaan itu.
"Nggak suka ya? Ya udah, aku balik."
"Eiitss..." Deon langsung berlari dan memeluk wanitanya dari belakang.
"Jangan ngambek gitu dong." Deon memutar tubuh Annisa agar ia dapat berhadapan dan menatap wajah yang tengah cemberut itu.
"Senyum dong sayang."
Annisa masih melengkungkan bibirnya ke bawah.
Cupp
Ciuman singkat dari Deon di bibir cemberut Annisa.
Ekspresi itu masih belum berubah.
__ADS_1
Cupp.... Cupp...
Ciuman singkat lagi di pipi kanan dan kiri.
Masih belum ada perubahan.
Lalu ciuman bertubi - tubi di bagian lain.
Annisa malah jadi kesal atas kelakuan suaminya.
"Sudaaaaah." Ucapnya.
"Makanya jangan cemberut gitu. Senyum sayang." Deon menarik kedua ujung bibir Annisa ke atas membentuk senyuman.
Tidak mendapat respon dari Annisa.
"Kayaknya mau di cium lagi nih. Daerah yang lain?" Ucap Deon dengan senyuman jahilnya.
Mendengar ucapan jahil Deon, Annisa langsung menarik bibir menjadi senyum manis khas darinya khusus kepada Deon.
"Nah, gitu dong." Lalu Deon menarik Annisa untuk duduk di sofa yang ada di samping meja kerja Deon.
Annisa masih merasa tidak enak hati terhadap pertemuannya dengan Indra di kampus. Ia menimbang nimbang untuk mengatakannya kepada Deon atau tidak.
Ia hanya merebahkan dirinya dengan menjadikan paha Deon sebagai bantalnya. Dan mencium aroma tubuh suaminya yang membuat hatinya menjadi tenang.
Deon membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya ke belakang daun telinga. Deon tau ada yang mengganggu pikiran Annisa dari segi raut wajahnya yang sedikit kalut.
Deon tidak berani bertanya kepada Annisa tentang apa yang terjadi. Dia tidak ingin sikap yang berlebihan akan membuat Annisa marah.
"Tidak." Di jawab singkat oleh Annisa.
"Ceritakan saja, jangan di pendam sendiri, okey!"
"Hemm..."
"Sebesar apapun masalahmu, jika dibagi akan terasa ringan. Katakan saja padaku."
Annisa malah semakin menyusupkan kepalanya ke tubuh Deon. Ia hanya menghirup aroma tubuh suaminya.
Terasa hening seketika. Ingin rasanya Deon memaksanya untuk mengatakan apa yang mengganggu pikiran Annisa. Meskipun ia sudah tau, hal ini pasti karena sang mantan.
Ia dengan sabar menanti wanitanya untuk berbicara.
"Aku bertemu mantan ku." Suara Annisa yang keluar terdengar pelan namun masih jelas terdengar oleh Deon.
Hati Deon serasa panas mendengar perkataan itu. Dadanya terasa sesak. Annisa jadi murung hanya karena sang mantan.
'Apakah namanya masih ada di hatimu?'
Deon membatin tak mampu mengeluarkan kalimatnya.
__ADS_1
Tidak terdengar respon dari Deon. Annisa merasa semakin tidak enak hati kepada Deon.
"Apa kamu marah?" Tanyanya.
"Tergantung. Apakah kamu yang menemuinya atau dia yang menghampiri mu?" Tanya Deon balik.
"Apa yang ia katakan." Deon sengaja bertanya seperti itu padahal ia sudah tau.
Ia hanya ingin tau cerita versi istrinya. Apakah ceritanya real ataukah alurnya berubah.
Deon menunggu jawaban Annisa dengan cemas. Jika jawaban Annisa sesuai seperti yang ia dengar berarti Annisa tidak terpengaruh terhadap kehadiran sang mantan.
Tapi jika sebaliknya. Itu artinya Annisa masih mencintai mantannya.
Dan Deon sangat takut kemungkinan itu terjadi. Ia tidak rela istrinya kembali kepada Indra dan pergi meninggalkannya.
Sungguh Deon tidak akan rela kehilangan wanita yang amat di cintanya.
"Aku berpura tidak mengenalnya. Lalu ia memperkenalkan dirinya dan aku mengatakan sejujurnya bahwa aku kakak iparnya Siska. Sepertinya ia tidak mempercayai perkataan ku. Tapi, aku tidak perduli. Aku sudah tidak perduli bagaimana reaksinya."
Tepat
Perkataan yang dituturkan Annisa tepat seperti yang dikatakan oleh mata - mata yang dikirim Deon untuk mengawasi Annisa.
"Jika kamu sudah tidak perduli lagi tentang dirinya. Lalu kenapa kamu seperti ini. Kusut sekali, kamu memikirkannya kan?"
Annisa menarik napasnya dalam. Ia terlihat berpikir untuk menjawab pertanyaan Deon.
"Aku cemburu terhadap apapun. Bahkan aku cemburu jika ada lelaki lain yang ada di pikiranmu." Rengek Deon dengan nada sedikit manja.
Ia sengaja bertingkah seperti itu agar Annisa tidak merasa tertekan seperti sedang di interogasi.
"Sayaaaaaaang."
Deon berhasil, Annisa bangun dan langsung membingkai wajah Deon.
"Aku tidak memikirkannya. Tidak ada lelaki manapun yang aku pikirkan."
Lalu Annisa mencium bibir Deon yang sudah ada di depan matanya.
Ia mengecup cepat bibir Deon berkali - kali hingga membuat Deon terkekeh.
"Kenapa berhenti? Lagi!"
Ucapan Deon malah mendapat cubitan di pinggangnya.
"Sakit sayang!" Deon meringis, cubitan itu terasa pedas baginya.
"Makanya jangan mesum."
"Begitu saja mesum? Dimana letak mesumnya coba."
__ADS_1
"Udah ah, kembali ke topik utama! Aku mau cerita."
Deon bahagia, Annisa sangat terbuka kepadanya. Itu artinya tidak ada yang perlu ia ragukan lagi. Tidak ada yang perlu ia takutkan lagi. Tidak ada yang akan merebut wanitanya. Annisa mencintainya.