
Suasana hening di dalam ruangan serba putih itu. Bukan karena penghuninya sedang terlelap. Tapi karena penghuninya tidak ada di tempat. Mita mamanya Deon sedang menjalani perawatan khusus di ruangan lain.
Sudah seminggu saat Mita siuman dari komanya. Ia bertekad akan sembuh total dengan semangat yang membara. Bukan tanpa maksud ia ingin segera sembuh total. Ada serincian rencana yang ingin ia lakukan untuk menebus kesalahannya terhadap Annisa.
Apalagi wanita yang membuatnya merasa bersalah itu selalu menemaninya saat ini. Bukan hanya saat ini, menantunya itu dengan telatennya merawat dirinya saat masih koma. Ia jelas merasakan tangan lembut itu selalu mengusap dan membersihkan tubuhnya kala itu. Suara Annisa yang selalu menemaninya terdengar jelas meskipun ia tidak dapat membuka matanya.
"Mama pelan - pelan." Annisa memapah membantu mama mertuanya untuk berjalan.
Tentu saja kekhawatiran wanita itu di sambut dengan senyuman oleh Mita. Ia sangat bersyukur bahwa istri dari anak tunggalnya itu sangat perhatian terhadapnya.
Bahkan Annisa tidak kembali ke rumah setelah mama mertuanya itu siuman. Ia hanya menyuruh bi Ani untuk membawakan pakaiannya.
Deon bahkan sempat merajuk dan mengadu kepada mamanya. Anak manja Mita itu mengadu karena tidak mendapatkan jatahnya karena sang istri sibuk mengurus sang mama.
"Bagaimana cucu mama bisa cepat jadi kalau begini. Ayo lah ma, bujuk Annisa pulang." Adu Deon yang mendapat kekehan dari Mita.
"Kenapa harus mama yang membujuknya?" Ucap Mita sambil terkekeh.
Mita sudah beberapa hari ini lancar untuk berbicara. Rasa bahagia yang mendorong dirinya dengan kuat hingga membuat dirinya bisa lancar berbicara.
Ia sangat senang melihat tingkah anak dan menantunya itu. Hingga tidak terkira lagi sebesar apa kebahagiaan yang kini melanda hatinya.
"Dia menyayangi mama, dia pasti nurut sama perintah mama." Bujuk Deon pada Mita sambil memeluk erat mama tercintanya itu.
Mita lagi - lagi terkekeh melihat tingkah Deon yang manja itu tidak pernah berubah sejak kecil. Hah, anak tunggalnya itu sudah berumur masih manja.
"Sayang, sebaiknya kamu pulang dulu ya. Sudah seminggu lho kamu nggak pulang." Ucap Mita kepada menantunya Annisa.
"Nggak apa-apa kok ma, Nisa senang kok di sini nemenin mama."
"Terus kapan kamu bisa nemenin suami kamu?"
Annisa mengerutkan keningnya mendengar kalimat itu. Ia lalu menatap tajam ke arah Deon. Sedangkan Deon hanya mengangkat bahu berpura - pura tidak tau. Padahal Annisa tau jelas ini pasti ulah suaminya itu.
Annisa terlihat berpikir sejenak untuk mencerna kalimat yang di lontarkan oleh mama mertuanya itu. Dia pikir ada benarnya juga, mungkin Deon mulai kesepian karena tidak ada dirinya.
__ADS_1
Deon yang sudah mulai ketergantungan oleh keberadaan istrinya itu jelas sangat kehausan akan perhatian Annisa. Ia merasakan kesepian padahal di rumah sakit ia juga bertemu Annisa. Intinya Deon hanya menginginkan belaian dan jatah malam, itu saja.
"Baiklah ma, Nisa pulang dulu malam ini. Tapi besok Nisa ke sini lagi."
Deon terlihat mengulum senyumnya mendengar ucapan Annisa. Sedangkan mama juga tersenyum dan mengangguk membalas ucapan Annisa.
Kemudian Annisa menyalami mama dan papa mertuanya untuk berpamitan. Deon pun sama ia menyalami kedua orang tuanya.
"Awas ya kalau nggak jadi!" Mama mewanti - wanti Deon yang sebelumnya menjadikan alasan kehamilan yang nggak jadi karena Annisa nggak pulang - pulang.
"Siap ma, baby-nya lagi otw."
Mama terkekeh sedangkan papa yang tengah di Salami Deon itu malah memukul kepala anaknya itu.
"Sakit pa!" Deon merengek sambil mengelus pelan kepalanya yang di pukul papa padahal papa tidak memukulnya dengan keras.
"Makanya ngomong jangan ngaco gitu. Mama sama papa perlu bukti bukan hanya omongan doang."
"Ih papa nggak sabar juga pengen punya cucu?"
"Doa'in aja pa, makanya Annisa jangan di buat capek di rumah sakit. Biar Deon aja buat dia capek di rumah."
Ke tiga orang anak dan orang tuanya itu sangat kompak dalam hal ini. Sedangkan Annisa entah sudah seberapa merahnya wajah yang ia sembunyikan di belakang punggung Deon itu. Sebab obrolan yang sedikit vulgar itu membuat Annisa malu sendiri.
"Pulang dulu ma, pa." Ucap Deon setelah meninggalkan ruangan mamanya.
Annisa masih memeluk Deon dari belakang sambil berjalan menuju mobil Deon terparkir. Ia hanya menjadikan Deon sebagai penuntun jalannya.
Deon memahami bahwa istrinya itu masih sangat malu hingga masuk ke dalam mobil Annisa masih menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.
"Sayang..." Deon mengelus rambut Annisa dengan sayang.
"Emmmh." Sahutnya masih dengan wajah yang tersembunyi.
"Udah dong."
__ADS_1
"Malu....."
"Ya udah maaf, kita pulang sekarang atau mau makan dulu?" Deon menawari Annisa karena setelah sarapan Annisa belum makan lagi hingga sekarang.
"Mau makan, aku laper."
"Tuh kan, kamu sampai lupa makan karena ngurusin mama."
"Kamu nggak suka aku ngurusin mama?"
"Suka kok sayang, suka banget malah. Aku senang kamu perhatian sama mama aku. Tapi kan kesehatan kamu juga penting." Tutur Deon yang melihat wajah Annisa yang mulai berubah.
"Lagian mama aku banyak yang jaga juga. Yang terpenting sekarang kamu harus sehat juga. Biar bisa..."
"Apa?!" Tanya Annisa yang menunggu Deon meneruskan kalimatnya."
"Biar kamu bisa hamil sayang. Kamu nggak denger tadi mama sama papa juga mendukung."
"Apaan sih." Annisa lagi - lagi merasa malu dengan ucapan Deon.
"Terserah...."
"Yes!!" Deon berseru senang.
Selama ini Deon dan Annisa menunda memiliki momongan karena ia tidak ingin Annisa merasa terbebani karena hubungan mereka masih belum mendapatkan restu dari mama Deon kala itu.
Annisa tidak ingin kehamilannya terganggu karena terus kepikiran tentang mama Deon yang belum tentu merestui mereka.
Dan sekarang, titik terang telah terlihat. Hubungan Annisa dan mama Deon justru sangat dekat. Sekarang mungkin sudah saatnya untuk mereka membahagiakan kembali kedua orang tua yang sudah merestui hubungan mereka itu.
Annisa juga sudah mulai mengerti jika kebahagiaan sebuah keluarga bukan hanya saling mencintai. Tapi hasil dari saling menyayangi itu berupa buah hati yang mungkin akan menambah hubungan menjadi lebih erat.
Ikatan cinta sesungguhnya adalah datangnya malaikat kecil penghibur di kala hubungan mulai merenggang. Kemudian kehadirannya itu dapat menyatukan kembali sebuah hubungan.
Dengan tawa kecil yang menenangkan hati. Dengan tangis manja yang akan mengguncang dunia. Kaki mungil yang berlarian di sepanjang rumah membuat bumi ikut menari. Matahari ikut tertawa akan senyum dan tawa indah dari malaikat kecil itu.
__ADS_1
Menjadi impian kecil sebuah keluarga yang baru menapaki kehidupan berumah tangga. Itu pula yang menjadi impian Deon terhadap keluarga kecilnya bersama Annisa.