
Deon tertidur pulas setelah aktivitas yang melelahkan di siang hari. Sedangkan Annisa tetap terjaga. Ia menatap kosong langit - langit kamar mereka. Annisa masih memikirkan wanita yang di lihatnya beberapa jam barusan.
'Aku nggak salah lihat kan?' Ucap Annisa dalam hati karena tidak ingin membangunkan suaminya.
'Melihat ada teman sekampung yang tinggal sekota itu rasanya senang aja gitu. Apa aku harus cari dia ya?'
Dan di lain tempat, orang yang di pikirkan Annisa juga memikirkan tentang dirinya.
"Kok aku tiba - tiba kepikiran sama yang kamu katakan tadi ya sa?" Tanya Fera kepada salsa teman satu kosnya.
"Yang mana?" Jawabnya.
"Yang kamu bilang cewek yang senyum ke aku itu."
"Lah?! Kok malah mikirin itu sih. Bukannya tadi kamu cuek aja, kenapa malah dipikirin?"
"Nggak, aku penasaran aja. Oh ya, ciri - cirinya gimana?" Tanyanya lagi.
"Ya seperti yang aku bilang tadi, dia cantik."
"Bukan itu, badannya tinggi nggak? Kira - kira tingginya jika di bandingkan denganku gimana?"
"Hmmm, tingginya melebihi kamu deh kayaknya. Tinggi kamu kalau bersanding sama dia, tinggi kamu sampai alisnya deh."
"Terus, rambutnya gimana? Panjang atau pendek? Lurus atau keriting?"
"Rambutnya panjang dan lurus."
"Badannya gendut apa kurus?"
"Kurus ideal."
"Seriusan? Duuuuh, gimana dong!" Fera semakin panik mendengar ciri - ciri itu yang menggambarkan sosok wanita yang ingin dihindarinya.
"Kenapa sih?" Tanyanya saat melihat Fera yang terlihat gelisah.
"Kalau yang kamu lihat itu wanita yang ku duga. Tamat lah riwayat percintaan ku."
"Apaan sih? Kamu bikin aku bingung aja deh."
"Wanita itu pasti Annisa. Iya pasti beneran Annisa. Soalnya kemaren Indra bilang ia lihat orang yang mirip sama Annisa."
"Annisa siapa sih?" Salsa semakin bingung dibuatnya.
"Annisa yang sering aku ceritakan. Annisa mantannya Indra."
"Mantan yang tidak bisa di lupakan sama Indra itu?"
"Iya, sebenarnya bukan mantan sih. Hubungan Indra sama dia baik - baik aja. Annisa hanya ingin fokus mengurus ayahnya yang sakit waktu itu."
"Terus?"
"Ya, usaha aku selama ini bakalan sia - sia dong. Aku sudah melakukan berbagai cara agar Indra bisa jauh dari Annisa dan melupakannya."
"Tapi kayaknya bukan Annisa deh."
__ADS_1
"Kenapa kamu ngomong gitu? Nggak usah menghibur ku."
"Aku nggak menghibur kamu kok. Masa ia itu Annisa, wanita yang itu fashionable banget lho. Pakaiannya dari atas sampe bawah branded semua. Bahkan tas yang ia pakai tas limited edition."
"Serius? Au ah... Pokoknya aku harus ekstra buat mempertahankan Indra. Padahal hubungan aku sama Indra juga semakin dekat."
"Semoga aja sih itu bukan Indra."
"Iya, semoga."
_____________________
"Kamu lagi apa sayang? Kenapa nggak tidur?" Tanya Deon yang baru saja terbangun dan mendapati istrinya sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
"Nggak kenapa - kenapa kok. Cuma nggak bisa tidur aja."
"Apa yang kamu pikirkan sampai nggak bisa tidur?"
"Aku memikirkan teman cewek yang aku lihat tadi."
"Dia siapa sih?"
"Namanya Fera. Dia itu teman aku sejak dari SD."
"Memangnya kenapa? Segitunya dipikirin sampai nggak bisa tidur."
"Ya gimana ya. Rasanya senang aja gitu, ketemu teman dari tempat yang sama."
"Cuma karena itu? Terus, Kalau kamu ketemu sama pak Eko. Apa kamu juga pikirkan sampai nggak bisa tidur juga?" Ucap Deon mulai membuka percakapan baru yang akan membuat Annisa malah semakin terjaga.
"Tergantung gimana?"
"Ya tergantung kondisinya. Kalau dalam keadaan kondisi pak Eko yang menyesali perbuatannya, aku akan tidur nyenyak. Tapi kalau kondisi pak Eko tengah membawa korban baru, aku mungkin nggak tidur dan harus membuatnya menyesali perbuatannya."
"Nah, kalau begitu kamu harus tidur nyenyak sekarang. Karena pak Eko dan kelompoknya sudah di tangkap dan di tahan."
"Seriuuuus?" Ucap Annisa yang kaget mendengar kabar ini.
"Iya serius."
"Kok kamu baru cerita sih."
"Hehee, lupa. Maaf."
"Kapan di tangkap?"
"Kemarin, mereka kedapatan membawa mangsa baru. Untungnya sempat digagalkan oleh polisi. Karena gadis yang mereka bawa adalah suruhan polisi yang menjadi umpan untuk menangkap mereka."
"Syukur lah, sekarang tidak akan ada korban lagi." Annisa sangat bersyukur, ia sedikit lega karena tidak akan ada lagi yang bernasib sama dengan dirinya.
"Okey, Sekarang tidur." Bujuk Deon.
"Nggak bisa, aku masih kepikiran."
"Kepikiran apa? Tentang pak Eko tadi? Kamu tenang saja. Dia mendapatkan hukuman berat dan nggak bakalan bisa keluar dengan cepat. Ia dan komplotannya akan membusuk di penjara." Tutur Deon agar Annisa tidak memikirkannya lagi, tapi ternyata yang dipikir Deon salah.
__ADS_1
"Aku nggak mikirin pak Eko."
"Lalu siapa?"
"Mikirin Fera, teman cewek yang aku ceritakan tadi."
"Sepertinya aku juga harus melarang kamu berteman dengan cewek." Ucap Deon yang langsung mendapat pukulan di bahunya.
"Apaan sih, bercanda terus ngomongnya."
"Hei, aku nggak bercanda. Aku serius sekarang. Kamu sampai nggak bisa tidur cuma karena memikirkan cewek itu. Aku kan jadi cemburu."
"Ngomongnya mulai ngaco ya. Cemburu segala."
"Dengar sayang, aku akan cemburu dengan apapun sekarang. Bahkan aku akan cemburu bila kamu memikirkan orang lain meskipun itu teman wanita sekalipun. Ingat baik - baik, di otak kamu ini hanya boleh ada aku!" Tutur Deon sambil menunjuk kepala Annisa.
"Ya nggak bisa gitu dong!"
"Pokoknya harus!"
"Okeee, berarti aku juga nggak boleh memikirkan tentang kesehatan mama kamu juga." Ucap Annisa sambil melirik ke arah Deon.
Annisa menyunggingkan senyumnya disaat ia melihat Deon yang tak dapat berkata - kata karena ucapannya. Deon terlihat berpikir dan mengurungkan ucapannya.
"Itu pengecualian!! Kamu boleh memikirkan mama dan kesehatan mama."
"Apa cuma boleh mikirin itu aja?"
"Iya, kamu hanya boleh mikirin aku sama mama."
"Apa bisa ditambah?" Annisa mencoba menawar.
"Nggak bisa." Jawabnya singkat.
"Yakin?"
"Iya yakin, sudah cepat tidur jangan banyak bicara lagi." Deon langsung menarik selimut dan memejamkan matanya.
"Serius nggak bisa ditambah?" Annisa mulai membuat Deon kesal.
"Sayaaaaaaang!" Ucap Deon sedikit meninggi dengan mata yang masih terpejam.
"Padahal aku mau memikirkan tentang anak lho."
Mata Deon langsung terbuka saat mendengar kalimat yang baru di keluarkan oleh Annisa. Deon langsung duduk dan memandang ke arah Annisa yang memasang wajah meledek itu.
"Dasar kamu ya! Mulai jahil ya!"
Ucap Deon yang langsung menggelitik istrinya yang menjahilinya itu.
"Mentang - mentang lagi lampu merah, jahil banget."
Deon masih menggelitiki istrinya itu tanpa ampun sedangkan Annisa tak henti - hentinya meronta sambil tertawa karena merasa geli akibat ulahnya itu.
" Hahahaaa..... Ampuuuuuuun!"
__ADS_1
Tawa mereka menggelegar di setiap sudut kamar. Untungnya kamar mereka kedap suara. Jadi tidak akan ada yang terganggu oleh kedua insan yang sedang bersenda gurau itu.