Dia Istriku

Dia Istriku
Kekanak-kanakan


__ADS_3

Deon masih setia duduk di samping Annisa yang masih terlelap tidur. Ia memandangi wajah yang sudah tidak sepucat pertama ia menemukannya. Wajah itu sekarang terlihat tenang.


Dengan sayang Deon memegangi tangan Annisa dan tidak berapa lama pemilik tangan yang ia genggam itu pun terbangun.


Annisa mengerjakan matanya perlahan. Ia tersenyum manis saat ia menemukan Deon yang tersenyum bahagia melihat matanya terbuka.


"Apa yang terjadi? Kita dimana?" Tanyanya dengan suara yang terdengar serak.


"Kita sekarang lagi di rumah sakit. Tadi kamu jadi korban tabrak lari." Tutur Deon yang langsung membuat Annisa terkejut sambil menutup mulutnya tidak percaya.


"Rasanya aku tadi di dorong." Jawab Annisa setelah ia mulai mengingat kejadian yang telah membuatnya seperti itu.


"Iya, dia sudah menyelamatkan kamu." Deon tertunduk saat mengatakan itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Siapa?"


Tiba - tiba seorang perawat datang dan memotong pertanyaan Annisa yang belum sempat di jawab oleh Deon.


"Maaf tuan, pasien di ruang melati sudah siuman." Ucapnya yang di balas anggukan oleh Deon dan kemudian pergi.


"Ayo sayang, kita lihat dia." Ajak Deon yang langsung menggendong Annisa dan mendudukkannya di kursi roda.


Annisa diam saja, tapi dalam hati ia bertanya - tanya siapa yang telah menyelamatkan hidupnya.

__ADS_1


Ada mama sama papa di ruangan itu, rupanya setelah Annisa sadar mama dan papa Deon pergi ke ruang ini dan betapa terkejutnya Annisa melihat pasien yang terbaring lemah di kasur itu.


"Siska?!" Ucap Annisa terkejut dengan apa yang ia lihat.


Annisa memegang tangan Siska dengan lembut.


"Terima kasih." Hanya itu yang mampu terucap dari mulut Annisa.


Ia tidak tau lagi harus berkata apa karena pengorbanan Siska yang teramat sangat besar untuknya.


Namun Siska tidak menghiraukan ucapan itu, ia hanya tersenyum simpul menatap Deon yang juga duduk di sampingnya.


Masih terasa aneh bagi Annisa, ia ingin bertanya ada apa sebenarnya. Kenapa Siska terlihat begitu membencinya. Tapi ia urungkan melihat kondisi Siska yang masih belum sehat.


Aura itu ternyata tidak luput dari penglihatan Deon yang sedari tadi mengamati tingkah Siska yang berbeda dengan Annisa tidak seperti biasanya.


"Terima kasih atas pengorbanan kamu, Kakak sungguh-sungguh berterima kasih atas pertolongan kamu. Kakak sudah berjanji pada diri kakak saat kamu masih operasi jika kakak akan memberikan apa saja untuk kamu sebagai ucapan terima kasih kakak. Semua itu memang tidak sebanding atas pengorbanan kamu yang mengorbankan nyawa untuk Annisa." Deon mengatakan dengan tulus ucapan terima kasihnya.


"Aku mau kakak meninggalkan kakak ipar." Jawab Siska yang langsung membuat Deon terkejut.


"Apa maksud kamu Siska? Ini yang sebenarnya ingin kakak tanyakan sama kamu, kamu sama Annisa ada masalah apa sebenarnya?"


"Aku masih belum bisa membahas itu, kalau kakak mau membalas apa yang aku korbankan maka itulah yang aku mau."

__ADS_1


"Kamu kenapa sih?! Bukankah kamu yang selalu mendukung hubungan kakak. Kakak akan mengabulkan apa saja asal jangan itu. Kakak tidak sanggup berpisah dengannya."


"Ya sudah tidak usah menawarkan sesuatu jika kakak tidak dapat memberikannya."


Deon tidak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis itu. Kenapa perasaannya terhadap Annisa malah berubah 180 derajat dari sebelumnya.


Deon berusaha menenangkan pikirannya, jika tidak emosinya akan meledak jika ia terus menerus berdebat.


"Begini, kakak tidak bisa mengabulkan permintaan kamu jika kakak tidak tau permasalahan kalian." Deon berusaha memancing Siska, setidaknya dia tau terlebih dahulu tentang masalah dari dua wanita yang ia sayangi itu.


"Apa kakak ipar sudah sangat terbuka pada kakak?" Pertanyaan yang diajukan oleh Siska ini membuat Deon sedikit berpikir pasalnya ia sudah tau ada yang belum diceritakan oleh Annisa kepadanya.


"Belum." Deon berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya, ia terlihat menarik napas terlebih dahulu.


"Ada kalanya kita tidak perlu tau semua tentang masa lalu seseorang. Yang terpenting sekarang atau di masa depan dia hanya untuk kita. Setiap orang pasti akan memilih cara untuk menguburnya dan tidak mengungkitnya karena ia menganggap hal itu sudah tidak penting lagi untuk di bahas di masa depan."


Jawab itu membuat Siska terkejut karena semua itu tepat sasaran.


"Jadi kakak sudah tau?" Dan di jawab anggukan oleh Deon.


"Kenapa kakak tidak marah? Bukankah kakak ipar sudah tidak jujur jika seperti itu."


"Tidak Siska, itu sudah masa lalu dia, Annisa mungkin ada alasan kenapa dia tidak mengatakan itu. Tapi bagi kakak itu tidak penting juga. Jika seandainya Annisa menemuinya secara diam-diam baru kakak marah." Deon menjawabnya dengan senyum yang menenangkan, seolah mengatakan ia benar-benar baik-baik saja.

__ADS_1


Siska terlihat berpikir mendengar tuturan dari Deon. Siska seperti menyadari kesalahannya yang terlalu kekanak-kanakan lalu ia terlihat tersenyum pada Deon.


Siska yang memang masih belum dewasa membuat pikirannya terlalu sempit dan tidak bisa mengontrol diri.


__ADS_2