
Annisa sembuh dengan cepat karena luka yang dialaminya memang tidak terlalu parah. Sedangkan Siska, dia masih menginap di ruangan serba putih itu.
Hari ini Annisa tengah duduk di ruang keluarga di kediaman orang tua Deon. Mereka duduk bersama sambil membahas tentang rencana resepsi pernikahan Annisa dan Deon.
Annisa yang memang dari awal tidak menginginkan resepsi itu tentu saja bertambah tidak ingin di rayakan lebih meriah lagi. Di tambah lagi jika Siska masih terbaring lemah di rumah sakit.
Dia terlalu perasa, jika resepsinya di lakukan secepat itu tanpa adanya Siska yang telah mengorbankan nyawa demi dirinya, Annisa merasa bahagia di atas derita Siska saat ini.
"Kakak tenang saja, aku pasti hadir di resepsi kakak." Ucap Siska setelah Deon menelpon Siska dan mengatakan bahwa Annisa sangat mengkhawatirkan Siska hingga tidak bersedia melangsungkan resepsi pernikahannya.
"Aku ini gadis yang kuat jika kakak lupa. Hanya beberapa hari lagi aku pasti sudah bisa berjalan. Walau harus pakai tongkat sekalipun aku akan hadir. Tenang saja!"
Annisa tersenyum mendengar bujukan Siska yang memang bisa merubah Annisa menjadi mau melakukan resepsinya. Deon senang tentu saja dengan semua keluarga yang ada juga ikut bahagia.
"Pokoknya papa mau seratus keamanan di kerahkan pada saat resepsi." Ini papa yang ngotot mengerahkan keamanan pada saat resepsi.
"Mama setuju!" Dan dapat dukungan penuh dari mama.
"Pa.... Ma.... Itu sangat berlebihan. Ini cuma resepsi pernikahan bukan acara kenegaraan yang di hadiri seluruh pemimpin dunia."
"Hei!! Jangan banyak membantah lagi. Pokoknya sekarang tidak ada tawar menawar lagi." Ucap mama tak terbantahkan.
Deon dan Annisa hanya pasrah saja dengan keputusan yang walau bagaimanapun mereka menolak pasti akan kalah jika kedua orang tua itu bersatu.
Memang terdengar berlebihan, tapi bagaimana lagi semua itu demi keselamatan dan kelancaran acara resepsi Annisa dan Deon tentunya.
Mengingat kembali kecelakaan yang di alami Annisa. Yang ternyata bukan sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja namun ada orang di balik kejadian itu.
Belum di ketahui jelas siapa pelaku sebenarnya dan apa motif dari pelaku. Orang yang berusaha mencelakai Annisa ternyata hanya seseorang yang di bayar oleh orang lain. Pelaku itu bersikeras mengatakan bahwa ia tidak mengenal siapa yang menyuruhnya.
__ADS_1
Deon juga tidak bisa memperkirakan siapa orang itu yang di perkirakan adalah seorang laki-laki menurut pengakuan pelaku penabrakan tersebut.
Meskipun pernikahan Deon dan Annisa belum di publikasikan secara resmi tapi tidak sedikit rekan kerja bahkan pesaing bisnis mereka yang telah mengetahui bahwa Deon telah menikah. Dan banyak kemungkinan tentang siapa pelaku sebenarnya.
Semenjak keluar dari rumah sakit penjagaan juga di perketat untuk Annisa. Dia sudah seperti tuan putri yang kemana-mana harus di kawal dan tentu saja Annisa merasa tidak nyaman akan hal itu.
Kabar pernikahan itu juga cepat menyebar. Kini di kampus sudah tidak ada yang berani berbicara macam-macam lagi tentang Annisa. Semuanya sudah tahu siapa Annisa dan sekarang justru banyak yang mencari muka kepadanya.
Annisa semakin tidak nyaman tentang kehidupannya sekarang. Tapi juga merasa lega, dengan berita itu mungkin Indra juga sudah mengetahuinya. Dan pastinya Indra tidak akan lagi mengusiknya.
Tapi entah kenapa, dia tidak benar-benar lega mengenai masalahnya dengan Indra. Ada sedikit rasa bersalah di sudut hatinya.
Sesungguhnya Annisa hanya ingin dia dan Indra menyelesaikan masalah mereka dengan berbicara secara terbuka dan penuh keikhlasan. Ikhlas tentang takdir yang terjadi kepada mereka.
Bahwa sesungguhnya mereka sudah tidak ada apa-apa lagi tanpa menyudutkan siapapun. Bukan tentang siapa yang salah diantara mereka. Namun semua itu tentang takdir yang sudah di rancang oleh sang pencipta.
Jodoh itu bukan untuk mereka berdua. Dan Annisa sudah bertemu dengan jodohnya yang sesungguhnya. Untuk Indra, mungkin Tuhan memiliki jodoh yang lebih baik untuknya. Hanya belum saatnya saja mereka dipertemukan.
Tidak memerlukan waktu yang lama akhirnya Annisa bisa menemukan keberadaan Indra yang saat ini tengah duduk dengan tenang di bangku panjang perpustakaan.
Perlahan Annisa mendekat dan Indra menyadari kehadirannya.
"Jika kamu menemui ku untuk mengatakan tentang status mu. Maka itu tidak perlu, aku sudah tahu." Ucap Indra tanpa melihat ke arah Annisa.
Annisa tidak dapat berkata-kata karena dia juga bingung harus berkata apa lagi setelah melihat sikap yang di tunjukkan oleh Indra.
Annisa langsung memberikan foto yang beberapa waktu yang lalu sempat membuat hubungannya dan Siska merenggang.
"Seseorang mengirimkan foto ini dan aku mengira ini foto dari Fera."
__ADS_1
"Aku yang mengirimkannya." Jawab Indra yang langsung membuat Annisa terkejut.
"Apa?! Tapi kenapa kamu mengirimkan foto itu?"
Indra hanya tersenyum lalu menarik nafasnya siap untuk berbicara dengan serius.
"Jika kau ingin mengatakan padaku bahwa kau telah di miliki. Maka aku juga ingin mengatakan pada mereka bahwa kau juga pernah ku miliki. Maafkan aku sudah membuat harimu buruk karena hal itu. Itu juga untuk kebaikanmu." Tutur Indra dengan tenang.
Indra memang seperti itu, menyelesaikan masalahnya dengan tenang agar hatinya tidak terlalu sakit.
"Apa maksudmu?"
"Jika aku tidak mengirimkan foto itu, mungkin sampai saat ini Siska tidak mengetahui tentang masa lalu kita dan kau mungkin tidak akan memberitahukannya. Masalahnya akan semakin rumit jika Siska mengetahuinya nanti."
Annisa merenungkan perkataan Indra yang memang masuk akal.
"Jadi kamu sudah tau tentang perasaan Siska?"
"Siapapun tahu jika melihat tingkahnya. Hah, sudah lah jangan di bahas lagi. sekarang kau lega dan aku juga merasa lega. Masalah di antara kita selesai."
Indra terlihat merapikan buku bacaannya.
"Apa kita masih bisa berteman." Entah apa yang merasuki Annisa untuk mengatakan hal itu.
"Kita sudah selesai. Sepertinya berteman dengan mantan itu tidak ada dalam kamus ku. Sekarang sudah ada hati yang harus kau jaga." Ucap Indra dengan senyuman.
"Selamat tinggal."
Walau bagaimanapun, cinta yang telah terukir dalam akan masih berbekas sekeras apapun kita berusaha menghapusnya. Cara yang tepat adalah meninggalkan semua itu tanpa menoleh. Biarkan hujan yang akan menghapus jejaknya dan membuat luka itu sembuh dengan sendirinya.
__ADS_1
Hujan itu sebagai obat yang ampuh dalam penyembuh luka. Ia bukan hanya menghilangkan jejak itu tanpa sisa namun akan mengembalikan hati dan membuatnya semakin kokoh kembali.
Semuanya sudah selesai dan juga sudah berdamai. Jangan membuat luka itu semakin dalam dengan masih membayanginya.