
"Dari mana?" Siska bertanya, pasalnya setelah ia selesai dari kamar mandi ia tidak menemukan keberadaan Annisa di tempat mereka berpisah.
"Ada barang ku yang ketinggalan di dalam kelas." Kelakarnya agar Siska tidak khawatir.
Ia juga tidak ingin Siska tau masalah dirinya dengan Fera. Biarlah ia mengubur dalam - dalam tentang dirinya dengan sebuah persahabatan yang kini telah menghilang di telan kebencian.
Siapa yang tidak marah jika sebuah persahabatan yang ia bangun dengan tulus hanya dijadikan sebuah batu loncatan oleh Fera yang hanya ingin mendapatkan yang ia mau.
Sungguh hanya benci yang ia rasakan. Jika seandainya ia adalah wanita jahat, mungkin ia akan membalasnya dengan lebih kejam. Tapi Annisa bukan wanita yang seperti itu. Biarlah itu berlalu dan ia akan terus maju dengan pasti bahwa ia akan mendapatkan hal yang lebih baik lagi.
"Mencari siapa?" Annisa bertanya karena melihat Siska yang celingukan ke sana kemari seperti sedang mencari seseorang.
"Mencari pangeran ku lah." Jawabnya.
Pandangannya terhenti, lelaki yang ia cari telah ia temukan. Tepat di depan Mading kampus, orang yang ia cari terlihat antusias membaca sebuah pengumuman.
Itu adalah sebuah pengumuman mahasiswa baru yang di terima di kampus itu. Ia memandangi sebuah nama yang sangat ia kenali. Matanya tak berkedip menatap kertas yang tertempel di Mading tersebut.
Berulang - ulang kali ia mengeja nama itu. Apa hanya namanya yang sama? Atau mungkin nama itu adalah nama yang ia duga. Dirinya membatin beberapa saat hingga suara seorang gadis mengagetkannya.
"Siang kak Indra."
Terkejut dan refleks ia menoleh ke sumber suara. Terpana sesaat. Ia mengira bahwa dirinya sedang berhalusinasi karena sedang memikirkan sebuah nama tapi pemilik nama tersebut malah ada di depan mata.
"Hei, mikirin apa?" Tanya Siska sambil menepuk bahu Indra dan menyadarkannya.
Tersadar akan tepukan di bahunya. Ia menoleh kembali ke arah suara. Wanita itu masih berdiri di samping Siska. Ini bukan halusinasi kan. Ini sungguhan pikirnya.
"Siapa wanita yang ada di samping mu ini?" Sekedar memastikan bahwa yang di lihatnya nyata, ia sengaja bertanya seperti itu.
"Oh ini, kenalin dia..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Kakak iparnya Siska." Annisa sengaja memotong kalimat Siska, karena ia tau Siska pasti akan berkata lain.
'Katanya mau dirahasiakan.' Siska membatin.
__ADS_1
"Iya, kenalin ini kak Annisa. Kakak ipar ku." Siska memperkenalkan Annisa sedangkan Annisa langsung membuang pandangannya karena merasa tatapan Indra terlalu intens terhadapnya.
'Apa dia marah? Itu pasti, ia pasti sangat marah karena aku tidak datang di saat ia terpuruk. Ia bahkan berpura - pura tidak kenal denganku. Ia bahkan berpura - pura jadi kakak iparnya Siska, padahal Siska kan anak tunggal. Siska bahkan bingung saat ia mengatakan bahwa dia adalah kakak iparnya Siska. Baiklah, mengalah saja dulu sampai dia tidak marah lagi.'
"Kenalin aku Indra. Salam kenal." Berusaha bersikap ramah dengan senyumnya dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
Tidak ada sambutan dari tangan yang terulur. Suasana seketika menjadi canggung. Indra menarik kembali tangannya yang tidak di sambut itu.
'Aneh, kenapa kakak ipar jadi dingin dan jutek begini sih? Ah iya, pasti kakak ipar sedang menjaga perasaan kakak Deon. Kalau benar begitu, aku terharu.'
"Maaf kak Indra, kakak ipar tidak terbiasa berkenalan dengan laki - laki. Maaf ya." Ucap Siska yang merasa tidak enak atas sikap dingin Annisa.
Masih menatap ke arah lain. Situasi ini benar - benar membuat Annisa tidak nyaman. Ia lalu menarik tangan Siska, memberi kode agar mereka segera pergi.
"Oh iya kak, maaf nggak bisa ngobrol lama. Soalnya kami mau pulang."
"Iya, maaf sudah mengganggu waktu kalian."
"Eh enggak kok kak, kan aku yang nyamperin kakak duluan."
"Hahahaha, iya ya. Oh iya, boleh minta nomor ponselnya?"
Siska sangat antusias setelah mendengar lelaki yang ia idolakan menanyakan nomor ponselnya.
Berharap Annisa juga memberikan nomor ponselnya, tapi kenyataannya Annisa hanya terdiam. Menyadari bahwa Indra sepertinya melihat ke arah Annisa. Siska lalu mengambil langkah.
"Kakak ipar tidak punya ponsel." Ucapnya.
'Rasanya tidak mungkin keluarga Siska tidak mampu membelinya ponsel. Sepertinya ia sangat marah padaku. Hingga ia berbohong.'
Siska dan Annisa langsung pergi meninggalkan Indra yang masih terdiam menatap punggung wanita yang masih ada di hatinya itu.
Siska mengendarai mobil dengan pelan. Ia masih merasa tidak nyaman dengan sikap Annisa terhadap lelaki pujaannya. Di sisi lain ia senang sepertinya Annisa sangat menjaga perasaannya terhadap Deon. Terbukti sikap itu hanya di tunjukkan kepada lelaki selain Deon.
Tanpa Siska ketahui apa yang terjadi sebenarnya. Ia hanya berspekulasi sendiri tentang sikap Annisa.
__ADS_1
Sedangkan Annisa, ia justru merasa sakit sekaligus takut. Sakit hati dan perasaannya. Di hari pertama ia kuliah, ia harus bertemu dengan masa lalu. Takut, ia takut akan mengecewakan Deon. Ia takut hubungan dia dengan Deon akan terganggu oleh masa lalu.
"Kakak kenapa?" Tanya Siska karena sedari bertemu dengan Indra ia terlihat lebih pendiam.
Merasa pertanyaan Siska yang seolah tau tentang perubahan sikapnya. Ia berusaha mengembalikan suasana agar Siska tidak khawatir.
"Apa tadi kamu tidak mendengar?"
"Mendengar apa?"
"Saat kita bertemu Indra tadi, perutku berbunyi keroncongan." Kelakarnya.
"Apa?! Masa sih. Kok aku nggak denger."
"Itu karena telingamu di tulikan karena cinta. Hanya suara dari Indra yang tertangkap oleh telingamu." Ledeknya.
Sukses, kalimat yang baru saja diucapkan oleh Annisa sukses membuat Siska teralihkan dari pikirannya. Ia kini tersenyum malu terhadap Annisa.
"Apaan sih kak." Ucapnya.
"Bener kan kamu nggak dengar?" Siska mengangguk malu.
"Pantesan tadi Indra menatap kakak begitu. Aku pikir kakak sama dia saling kenal." Aku Siska.
Pikiran Siska sebenarnya tepat, tapi Annisa berusaha mengalihkan pikiran Siska. Ia belum siap jika Siska tau tentang masa lalunya dengan Indra.
Apalagi mengingat jika Siska begitu mendamba Indra. Ia sangat menyukai lelaki yang dulu pernah ada di hati Annisa.
'Maafkan aku sis. Belum saatnya kamu tau, aku tidak berniat membohongimu.'
"Duh, aku sudah bikin malu kamu dong. Maafin kakakmu ini ya...!"
"Dia bukan orang yang seperti itu kok kak. Dia pasti bisa memaklumi."
Nampak jelas bagaimana perasaan Siska terhadap Indra. Bukan hanya perasaan suka semata. Tapi sebuah cinta yang tulus.
__ADS_1
Dan Annisa tidak mungkin menghancurkan perasaan itu. Ia akan mengalah pada Siska meskipun dengan berat hati.
Sesungguhnya ia ingin mengubur dalam - dalam tentang semua masa lalunya. Tapi tidak bisa, saat ini ia hanya ingin membantu Siska. Ia ingin membuat gadis yang sudah dia anggap sebagai adik kandung itu bahagia.