
Sudah tidak betah berlama-lama di kampus yang mulai terasa asing. Tatapan aneh selalu menerkamnya. Annisa akhirnya berniat menunggu Deon di cafe dekat dengan kampusnya.
Sebelum itu ia sempat memberitahu Deon bahwa ia menunggu di cafe itu. Dengan tatapan datar ia melewati orang-orang yang ia lewati. Berusaha biasa saja itu lebih baik.
Tidak terasa kaki yang ia langkahkan itu sudah mendekati cafe yang ia tuju. Tinggal menyeberang jalan ia sudah sampai.
Kemudian ada notifikasi terdengar dari ponselnya. Sekilas ia melihat pesan yang masuk. Itu dari Deon yang mengatakan ia sudah di jalan.
Di balas singkat dengan emoticon kiss sambil tersenyum ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Hingga decitan ban yang terdengar beradu dengan jalanan begitu memekakkan telinga. Suara teriakan orang - orang terasa bergemuruh.
Waktu begitu cepat terjadi hingga tubuh Annisa terasa terpental dan ia pun sudah tidak sadarkan diri setelahnya. Ya, sebuah mobil melaju dengan cepat ke arahnya.
Mobil yang menabraknya pun sudah melajukan mobilnya dengan kencang kembali sesaat setelah kejadian hingga orang - orang yang ada di sekitar itu tidak bisa menghentikannya. Seketika orang - orang bergerombolan melihat ke tempat kejadian.
Deon hampir sampai ke cafe tempat ia dan Annisa janjian bertemu. Dari kejauhan ia melihat ada gerombolan orang. Sedikit penasaran dengan apa yang ada di depannya. Deon menepikan mobilnya dan turun ke jalan.
Berbarengan dengan itu, ambulan pun sudah tiba ke lokasi. Saat orang - orang menyingkir mempersilahkan petugas kesehatan untuk melakukan pertolongan. Saat itu juga Deon melihat ke arah korban yang tergeletak di jalan.
Deg
'Baju itu!!'
Bak di sambar petir jantung Deon terasa hampir berhenti berdetak. Kakinya seketika melemah. Ia mengenali pakaian yang di kenakan korban yang bukan lain adalah istrinya.
__ADS_1
Deon mempercepat langkahnya meskipun urat kaki seperti terbius lumpuh. Ia langsung mendekap tubuh yang sangat ia rindukan itu dengan air mata yang mulai mengaliri pipinya.
Tanpa berlama - lama ia langsung membawa Annisa masuk ke dalam ambulan untuk melakukan pertolongan pertama.
Sampai di rumah sakit Deon tak henti - hentinya berdoa semoga istrinya baik - baik saja. Ia mulai mengutuk dirinya dan merasa semua ini karena dirinya.
Dokter melarangnya masuk saat Annisa memasuki ruangan pemeriksaan. Dengan gusar dan gelisah Deon mondar mandir di depan ruangan.
Hingga tidak berapa lama, mama dan papa pun datang karena Deon sempat mengabari kedua orangtuanya itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" Rentetan pertanyaan dari mama langsung membuat Deon mendekati mamanya dan langsung memeluk sang mama.
Deon masih terisak dan belum mampu menjawab pertanyaan itu. Tidak pernah terbayangkan oleh mama bahwa anaknya bisa menangis seperti itu. Melupakan semua gengsinya menangis di depan umum.
Memahami perasaan anaknya. Mama membelai punggung anaknya untuk sekedar menenangkan. Begitu pula papa yang juga ikut menepuk pundaknya memberikan energi bahwa Deon harus kuat menghadapi segala cobaan.
"Sudahlah nak, berdoa saja semua akan baik - baik saja." Ucap papa setelah Deon terlihat tenang.
Tidak berapa lama dokter pun keluar dari ruangan. Deon langsung berdiri menghampiri sang dokter.
"Bagaimana dokter? Apa istri saya baik - baik saja?"
"Istri anda baik - baik saja pak, hanya tergores sedikit saja. Dia pingsan mungkin hanya karena terkejut." Tutur dokter yang membuat lega semuanya.
"Syukurlah, apa kami bisa menjenguknya sekarang?"
__ADS_1
"Boleh, tapi jangan terlalu berisik. Pasien masih tertidur karena masih dalam pengaruh obat."
"Iya, terima kasih dok."
Dokter mengangguk dan meninggalkan tempat tersebut.
"Mama sama papa masuk saja dulu. Ada yang Deon urus." Deon langsung berjalan meninggalkan mama dan papanya yang terlihat keheranan.
Dari tadi ia yang gelisah pas dokter selesai ia malah pergi.
Deon terlihat berlari-lari. Ia mengejar dokter yang baru saja memeriksa Annisa.
"Dokter berhenti! saya dengar selain istri saya ada korban juga yang sudah di bawa lebih dulu sebelum istri saya. Apa dia juga di rawat di rumah sakit ini?"
"Benar pak, pasien juga di rawat di rumah sakit ini. Ia sedang di operasi karena mengalami benturan dahsyat yang mengakibatkan pembuluh darahnya pecah dan mengalami pendarahan hebat. Menurut saksi mata yang melihat, pasien tersebut lah yang telah menyelamatkan istri anda. Ia mendorong istri anda ke tepi sehingga dia lah yang tertabrak." Tutur dokter yang sontak membuat Deon terkejut.
Dia segera menuju ruang operasi setelah mengucapkan terima kasih kepada dokter atas informasi yang membuatnya terkejut itu.
Ruang operasi masih tertutup rapat. Pertanda operasi masih berlangsung. Banyak yang ingin Deon ucapkan kepada penyelamat istrinya itu. Jika tidak ada orang tersebut, maka istrinya lah yang sekarang ada di posisi itu.
Beberapa menit telah berlalu. Namun, belum ada tanda - tanda operasi berakhir.
'Ya tuhan, selamatkan lah orang itu. Dia telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan istriku. Aku berhutang nyawa kepadanya. Izinkan ia selamat, agar aku bisa berterima kasih kepadanya.' Doa Deon di dalam hatinya.
Besar harapan Deon jika orang itu selamat dan ia bertekad akan memberikan apa saja untuk orang tersebut sebagai ucapan terima kasih karena telah menyelamatkan belahan jiwanya.
__ADS_1
Tidak pernah terbayangkan oleh Deon. Jika tidak ada orang itu entah apa yang terjadi kepada Annisa. Ia sungguh tidak bisa bernafas lagi jika terjadi sesuatu pada istri tercintanya itu.