
Seberat apapun siang mu, matahari tetap akan tenggelam. Sedingin apapun malam mu, esok mentari akan menghangatkan. Siang dan malam itu pasti terjadi. Dan bumi tetap pada porosnya.
Selalu ingat bahwa akan ada pelangi setelah hujan. Tetaplah tegar walau tubuh sudah tak mampu menopang deburan cobaan yang menerjang.
Seperti itu lah semangat Annisa yang tak pernah luntur untuk selalu bersabar menanti datangnya kebahagian dan hilangnya kesedihan.
Kini Annisa dan Deon tengah berada di perjalanan menuju sebuah mall. Deon ingin membelikan Annisa keperluan kuliahnya. Tapi wanitanya itu justru sulit di atur.
"Sayang, kamu kenapa sih?" Tanya Deon pada Annisa yang tengah mengerutkan bibirnya itu.
"Kamu tu udah berlebihan. Aku kan kuliah bukannya baru masuk sekolah dasar."
"Ya gimana, itu kan memang outfit buat kuliah sayang."
"Tapi kan nggak harus juga di beli semuanya. Kuliah kan bebas mau pakai apa. Pakaian aku di rumah juga udah banyak."
"Udah kebeli juga, nggak apa lah. Sesekali belanjain istri kan."
"Sesekali apanya, baru beberapa hari yang lalu kamu juga belanjain aku tas dan sepatu, banyak banget lagi."
"OOO jadi kamu nggak suka pemberian aku itu."
"Bukannya nggak suka, tapi berlebihan lah. Beli satu atau dua juga nggak apa - apa. Yang penting ada aja."
"Aku kerja keras cari uang buat bahagiain kamu." Deon memberitahukan kepada Annisa bahwa apa yang di lakukannya semata - mata hanya untuk membahagiakan Annisa.
"Sayang dengar, beberapa wanita memang akan bahagia atas perlakuan kamu seperti ini. Tapi ketahuilah, aku bukan wanita seperti itu. Yang akan merasa bahagia atas kemewahan. Jalur kebahagiaan ku bukan itu. Bagiku merasa dicintai saja sudah cukup membuatku bahagia." Tutur Annisa.
"Iya deh maaf sayang. Terus kalau aku semakin kaya buat apa kekayaan aku itu kalau nggak di gunakan."
"Buat disedekahkan lah sama orang yang nggak mampu. Kamu pasti akan merasa bahagia berkali - kali lipat lagi jika kamu melihat senyum bahagia mereka. Kebahagiaan orang yang memang membutuhkan itu rasanya berbeda."
"Iiiiih gemes banget sih. Ini nih yang buat aku makin cinta sama kamu." Deon mencubit kedua pipi Annisa.
"Permisi tuan, ini makanannya. Selamat menikmati!" Ucap seorang pelayan yang sedang menata makanan di atas meja.
Annisa dan Deon tidak langsung pulang setelah berbelanja. Mereka pergi makan malam terlebih dahulu sebelum pulang. Karena Annisa sudah kelelahan berkeliling mall untuk mencari keperluannya kuliah. Jadi rasanya Deon tidak tega jika Annisa harus memasak lagi untuk makan malam mereka.
__ADS_1
"Makanan di sini enak banget ya." Ucap Annisa setelah makanan di piringnya tandas tak tersisa.
"Kamu suka?" Tanya Deon.
"Suka banget. Lihat!! Makanannya habis." Annisa memperlihatkan piringnya yang sudah bersih dari makanan.
"Astaga, kamu suka apa kelaparan sih?? Sampe nggak ada sisanya gitu piring."
"Hehee, emang laper juga sih." Annisa menjulurkan lidahnya saat mengatakan bahwa ternyata ia tengah kelaparan.
"Sayang, aku tinggal dulu ya. Aku mau ke kamar mandi." Deon berdiri dan langsung meninggalkan Annisa setelah mendapat persetujuan dari Annisa.
^^^'Udah malam gini masih rame aja. Oh iya, kan ini malam minggu.'^^^
Annisa menjelajahkan pandangannya ke sekeliling restoran. Memang sangat ramai sekali saat ini. Banyak muda - mudi berpasangan berjalan bergandengan. Ada juga yang berombongan berjalan sambil tertawa ceria.
Tiba - tiba ia merasa sedih. Ia teringat masa - masa sekolahnya. Dimana tidak ada beban hidup. Belum ada pemikiran tentang kerasnya kehidupan. Yang ada hanya tawa bersama teman - temannya saja.
Dulu pemandangan yang di lihatnya itu pernah dia jalani. Tertawa lepas bersama, belajar bersama, hingga jalan - jalan selalu bersama teman - temannya.
Tapi kini semua teman - temannya itu telah menghilang seiring waktu dan kehidupannya yang juga berubah. Bukan karena teman - temannya tidak setia padanya. Tapi Annisa lah yang menghilang dari teman - temannya. Menyembunyikan diri dari indahnya masa remaja.
Selalu ada rasa bersalah pada dirinya jika ia pergi bersama teman - temannya. Ia tidak ingin tertawa sedangkan ayahnya di rumah sedang menahan sakitnya.
Tidak apa masa remajaku tidak bahagia. Yang penting aku tidak menjadi anak yang Durhaka. Tidak apa jika aku selalu kesepian. Yang penting ayahku tidak merasa tersingkirkan.
Selalu itu yang ia pikirkan. Ia selalu mengutamakan perasaan orang lain dibandingkan perasaannya.
Dalam beberapa gerombolan gadis - gadis yang sedang bercanda gurau melewatinya itu. Ada seseorang yang ia kenal. Ia berusaha tersenyum kepada gadis itu. Tapi sepertinya gadis itu tidak melihatnya. Sedangkan teman dari gadis itu yang melihat Annisa tersenyum tidak menanggapi. Malah meliriknya dengan tatapan aneh.
Annisa terus berusaha yang kemudian memanggil - manggil namanya. Tapi karena semakin jauh, suara Annisa pun tak dapat terdengar oleh telinganya. Saat Annisa melangkah untuk menghampirinya. Tiba - tiba ada Deon yang menarik tangannya.
"Mau kemana?" Tanyanya.
"Aku lihat ada teman ku." Jawabnya.
"Dimana?"
__ADS_1
"Di situ!" Ucap Annisa sambil menunjukkan jarinya ke arah gerombolan gadis.
Tapi setelah Annisa membalikkan badannya dan mengarahkan pandangannya pada tempat ia menunjukkan kepada Deon, gerombolan gadis itu sudah tidak ada.
"Teman kamu cowok?" Tanya Deon karena hanya ada segerombolan lelaki yang ada.
"Nggak, cewek kok. Tadi ada, mungkin sudah menghilang."
"Kirain cowok. Awas aja kalau cowok."
"Kenapa emang nya?"
"Nggak kenapa - kenapa kok. Cuman aku nggak suka aja kamu dekat sama cowok lain. Pokoknya kamu nggak boleh ya, punya teman cowok di kampus nanti." Tutur Deon yang mulai posesif kepada istrinya itu.
"Ok!"
"Ya sudah. Kita balik sekarang yuk." Ajak Deon karena hari sudah larut malam.
"Iya, makanannya sudah kamu bayar?"
"Sudah kok."
Kemudian mereka meninggalkan restoran dan kembali ke rumah untuk istirahat.
"Fer, kamu punya teman cewek selain kita nggak?" Tanya seorang gadis kepada gadis yang disenyumi Annisa tadi.
"Nggak kok. Kenapa emang??" Jawabnya.
"Tadi ada cewek yang lihatin kita dan senyum. Ku lihat - lihat kayak nya ia senyum sama kamu."
"Cewek ya? Cantik nggak?"
"Cantik, pake. banget malah. Pakaiannya juga kece, branded semua lagi dari atas sampe bawah."
"Massa sih, kayak nya aku nggak punya teman seperti itu. Perasaan kamu aja kali liat dia senyum sama aku. Lagian nih ya, kalau pun ia senyum sama aku karena aku temannya pastinya nggak cuma di senyumi tapi di samperin."
"Ia juga sih. Mungkin cewek itu lagi latihan senyum kali ya. Hehee...."
__ADS_1
"Udah ah, nggak usah di pikirkan. Sayangnya cewek, kalau cowok kan bisa di pikirkan."
"Ih, kalaupun cowok udah aku duluan yang nyamperin."