Dia Istriku

Dia Istriku
Menjadi Pusat Perhatian


__ADS_3

"Akhirnya sampai!!" Siska lega sudah sampai ke tujuan dengan kecepatan yang di perintahkan oleh Deon.


"Lagian kamu mau - mau aja ngikutin perintah Deon." Annisa menggelengkan kepalanya karena tingkah Siska yang penurut padahal ia sempat membangkang.


"Itu karena kakak ipar tidak tau aja gimana kak Deon."


"Kenapa emang?"


"Ada lah... Yuk kita masuk. Aku mau ke kantin, haus banget." Ajak Siska yang terlihat lelah dan berjalan gontai seperti sedang berjalan di Padang gurun pasir.


Mereka berjalan dari parkiran dan masuk ke wilayah perkuliahan. Sudah banyak mahasiswa yang berkeliaran keluar masuk area kampus.


Beberapa langkah dari tempat parkir. Mereka sudah menjadi pusat perhatian. Bagi Siska itu hal biasa, karena ia memang sudah sangat populer di kampus yang di kelola oleh ayahnya itu.


Tapi kehadiran Annisa menambah perhatian mereka semakin intens. Bak bidadari yang baru turun dari kahyangan. Cahaya sinar mentari bak sorot lampu yang menyinari langkah mereka. Indah dan sedap di pandang. Sebagian juga menatap sinis karena tidak suka ada yang terlalu jadi pusat perhatian.


Annisa yang menyadari tatapan itu hanya menundukkan kepalanya saat berjalan sambil menggandeng lengan Siska untuk menuntunnya berjalan.


Siska hanya terkekeh melihat tingkah malu - malu Annisa.


"Sudah kubilang kan sis, pakaian ini tu terlalu mencolok." Protes Annisa yang tidak bisa menolak perintah Deon.


"Bukan pakaiannya yang membuat kakak jadi perhatian. Emang kakak aja yang terlalu cantik, makanya diperhatikan terus. Biar pakai kacamata sekalipun."


Annisa mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan jawaban Siska yang dianggapnya malah membuat ia semakin malu.


"Jangan cemberut seperti itu, kakak terlalu imut. Cemberut aja cantik, gimana menyembunyikannya."


Jawaban itu justru mendapat pukulan di lengannya. Siska ini sudah seperti Deon yang suka menggodanya pikir Annisa.


"Relax aja lah kak, kalau kakak begitu malah semakin jadi pusat perhatian."


Kemudian Annisa mengikuti ucapan Siska dan terus berjalan dengan menggandeng lengan Siska.


"Oh iya, kita ke ruang papa dulu yuk. Aku mau minta uang, tadi dompet aku ketinggalan."


"Kok bisa sih?"

__ADS_1


"Ya kan tadi aku buru - buru buat jemput kakak."


Baru melangkahkan kaki ke dalam ruangan. Lagi - lagi mereka jadi pusat perhatian para dosen. Apa lagi dosen yang masih jomblo. Mereka menatap penuh harapan bahwa yang di tatap masih lajang.


"Papa." Ucap Siska memanggil papanya dan di sambut dengan senyuman hangat dari papa.


"Dompet kan?" Tebak papa.


"Kok papa tau?"


"Tadi mama beresin kamar kamu. Mama lihat di atas meja rias."


Siska mengambil dompetnya dari tangan papa. Dan Annisa mendekat untuk menyapa paman Alex.


"Pagi om." Ucapnya sambil menyalami tangan paman Alex.


"Pagi juga Annisa."


Kemudian paman Alex menarik tangan Annisa dan membawanya ke depan dosen - dosen yang ada di ruangan itu.


"Perhatian semuanya, kalian mungkin sudah kenal dengan anak saya. Jadi saya hanya ingin memperkenalkan istri dari keponakan saya ini yang bernama Annisa Pertiwi." Kalimat itu bagai busur panah yang menghancurkan harapan - harapan semua dosen jomblo yang mendengarnya.


Sebenarnya Annisa ingin protes pada paman Alex karena ia sudah meminta kepada Deon agar tidak ada yang mengistimewakannya, tapi mendengar kalimat terakhir membuatnya lega. Pasalnya kalimat itu sangat ampuh dan benar saja para dosen yang awalnya menaruh harapan padanya kini membuang pandangannya karena telah salah mengharapkan wanita yang telah termiliki.


Siska berpamitan pada papanya dan para dosen. Mereka lalu melenggangkan kaki ke arah kantin. Saat mereka mendudukkan diri ke meja kantin. Beberapa mahasiswa berbondong - bondong merapatkan diri mengelilingi dua bidadari yang tengah jadi pusat perhatian sedari mereka menampakkan kaki ke kampus ini.


"Hai Siska. Siapa nih yang ada di samping kamu? Kenalin dong?" Ucap seorang pria yang jelas terlihat playboy itu.


"Teman." Jawabnya singkat.


"Idih Siska, kok jutek banget sih."


"Udah ah, bubar bubar. Aku mau santai sekarang jadi jangan ganggu."


Dan semua laki - laki yang berkerumun itu menurut saja dengan ucapan Siska. Sedangkan beberapa wanita yang ada di kantin itu memandang mereka dengan tidak suka. Tapi apa yang bisa mereka perbuat kecuali hanya kesal di hati yang tak tersampaikan karena lawan mereka adalah anak dari pemilik kampus.


"Kamu kok kasar banget sis sama orang." Annisa merasa tidak enak memandang tatapan kesal dari beberapa orang yang melihat ke arah mereka.

__ADS_1


"Ya gimana ya kak, mereka emang suka begitu. Cari muka dan kalau di biarkan nanti malah ngelunjak."


"Ini pesanan non Siska." Bibi pemilik kantin meletakkan dua gelas minuman pesanan Siska.


"Makasih ya bi." Ucap Siska dengan nada lembut.


Sebenarnya Siska ini adalah anak yang ramah dengan semua orang yang menurut penilaiannya memang baik. Karena ada sebagian orang yang bersikap baik padanya hanya di depannya saja. Istilahnya bermuka dua.


Ya, terlalu banyak pria maupun wanita bermuka dua yang mendekatinya. Hanya karena statusnya sebagai anak seorang pemilik kampus ternama itu.


Tiba - tiba ada satu geng wanita mendekati mereka.


"Hai Siska! Aku dengar kamu kuliah di sini juga ya?" Tanya dari salah satu wanita yang ada di gerombolan itu.


"Iya kak." Jawabnya ramah karena sesama wanita.


"Terus teman kamu ini juga?"


"Iya."


"Dari segi penampilan teman kamu oke juga. Mau ikut geng kita ngga?"


"Maaf kak, maaf banget. Teman aku ini dari desa, kayaknya nggak cocok buat masuk geng kakak." Siska beralasan agar mereka tidak masuk geng yang sebenarnya nggak penting itu. Tapi kenyataannya Annisa memang dari desa jadi Annisa mengangguk setuju.


"Dari desa? Modis gini kok penampilannya."


"Iya modis. Kan habis aku permak kak. Baju yang dia pakai kan baju aku semua dari ujung kaki sampai ujung rambut bahkan tasnya juga." Kebohongan yang semakin menjadi - jadi.


"Iiiuuh, nggak level dong ya. Kalau gitu kamu aja sis yang masuk." Masih berusaha membujuk yang sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia mengajak Siska untuk bergabung.


"Kan kemaren sudah aku bilang nggak dibolehin sama papa."


"Ya sudahlah, yuk girls kita cus."


Mereka akhirnya pergi dengan berjalan bak model dan lenggokkan centil. Setelah kepergian mereka Annisa tertawa.


"Kenapa tertawa kak?" Tanya Siska yang penasaran tentang apa yang membuat Annisa tertawa.

__ADS_1


"Ternyata gadis - gadis seperti itu nyata ya. Dulu kayaknya aku cuma lihat di tv aja dan ternyata emang ada ya yang bikin geng - geng cewek centil begitu."


Siska ikut tertawa dengan kepolosan kakak iparnya itu. Ya begitulah macam - macam rupa dan sifat orang.


__ADS_2