DIA ITU SUAMIKU

DIA ITU SUAMIKU
Cincin Pernikahan.


__ADS_3

Arina yang sibuk dengan pekerjaan nya disiang ini, dan suara ponselnya yang berdering berhasil membuyarkan pikirannya. Ia segera menutup laptopnya sambil meraih ponsel yang terletak tak jauh dari jangkauanya.


Sebuah nama yang tak asing yaitu nenek Widia, yang sudah hampir satu minggu pergi ke luar kota dan sengaja tak menghubungi siapapun termasuk Younga kini ia sudah kembali dan segera menelfon Arina.


Dengan sigap Arina mengeser lambang berwarna hijau di layarnya.


"Hallo, nekk"


"Hallo sayang kamu, ada di rumah?" suara nenek Widia.


"Ada nek aku sedang di rumah, apa nenek sudah kembali? Aku sangat merindukanmu nek," sahut Arina.


"Sudah sayang tadi pagi, kamu kemari lah," pinta nenek Widia.


Percakapan telpon itupun berakhir, kini Arina ingin meminta izin dari suaminya untuk pergi ke rumah nenek Widia. Tak lupa ia meminta izin suaminya untuk pergi ke rumah sang nenek.


Setelah mendapat izin ia segera keluar dari mansion dan mengendarai mobil pribadi milik Arina. Tak butuh waktu lama untuk menempuh perjalanan menuju ke rumah nenek Widia kini dia telah sampai di mansion yang tak kalah besar dari mansion suaminya.


Sesampainya di tempat sang nenek seperti biasa dia disambut oleh para pelayan, dan segera mengantarkan ke ruang keluarga.


"nenek,"


"Apakabar kamu nak," sambil Membalas pelukan cucunya dan mencium.


"Nenek aku kabar baik, kenapa tidak menghubungi aku atau Mas Younga? Nenek pergi begitu saja tanpa pamit." gerutu Arina kepada neneknya itu.


"anak nakal itu hanya akan menyusahkan ku, dengan membawakan ku banyak pengawal. Makanya aku diam diam, nenek cuma mau memberimu ini," sambil menunjukan kotak cincin couple.


Arina terkejut dan bingung dengan apa yang didepanya saat, memang sejak menikah ia belum memakai cincin pernikahan. Maklum dulu pernikahan mereka berdua dilakukan secara mendadak yang berbuah manis.

__ADS_1


Setelah setengah hari ia berada dirumah nenek Widia, dia segera berpamitan untuk pulang. Hari ini dia pergi sendiri karena dia tidak mau ditemani oleh sopir pribadi, perjalanan yang memakan waktu 25 menit itu pun telah berlalu. Dia telah sampai kembali di mansion mewah suaminya, dengan segera penjaga pun membukan pintu besi yang menjulang tinggi itu untuk nyonya mudanya itu.


Sepertinya mas Younga sudak pulang. Batinnya karena melihat mobil suaminya yang sudah terparkir di garasi. Setelah memarkirkan mobilnya Arina segera masuk seperti biasa para pelayan menyambut nyonya mudanya dengan ramah.


"Mas Younga sudah pulang Mil..."


"Sudah Nona mungkin sekitar dua puluh menit yang lalu, sekarang ada di ruang kerja." jelas Mila


"Baiklah, aku mau ke kamar ku dulu."


"Baik nona," sambil mengangukan kepala.


Arina yang langsung pergi dan segera menaiki anak tangga, karna sedari tadi ia ingin membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.


Younga dan Roy yang masih berkutat dengan pekerjaan ini masih telaten memikirkan cara untuk mengambil celah pihak Surojo. Younga sebenarnya dengan sangat mudah menghancurkan perusahaan tersebut, jika tidak ada orang di belakang dia.


"rupanya pintar juga tua bangka itu," batin Younga.


"Baik tuan nanti akan saya coba cari tahu?" Roy mengiyakan tugas tuanya itu.


Waktu sudah sangat sore akhirnya asisten Roy berpamitan untuk pulang, karena sedari pulang dari kantor ia langsung ikut ke rumah Younga. Setelah asistennya pulang Younga dengan baju yang masih lengkap ini segera meninggalkan ruang kerja miliknya.


Dia segera menaiki anak tangga untuk kembali ke kamar, dan membersihkan tubuh dan mengganti bajunya. Arina yang sudah selesai mandi ini sedang sibuk mengeringkan rambut di meja rias.


Younga yang melihat istrinya sudah kembali ia segera berhamburan memeluk istri kesayangannya. Tanpa basa basi seperti biasa langsung mencium kening istrinya. Arina yang sudah paham kebiasaan suaminya hanya bisa tersenyum simpul, dan membalas mengecup pipi suaminya.


"Kamu udah pulang kok gak nemuin aku tadi sayang?"


"Mas lagi sibuk aku gak mau ganggu," sambil menunjukan kotak kecil berisi cincin.

__ADS_1


"Dari mana, itu Naa?"


"Nenek yang kasih, katanya ini hadiah buat kita." sambil menunjukkan cincin itu.


Younga yang tau langsung mengerutkan keningnya dan meraih kotak cincin tersebut. Dan membuka isinya, sepertinya ia tak asing dengan model cincin milik mendiang orang tua young.


"Sayang kamu tau, ini cincin nikah mama sama papa dulu." Younga yang tak kedip memandang cincin itu.


"Ya ampun mas, aku gak tau. Kalo mau dikembalikan ke nenek nanti aku kembalikan."


"Heyyy, buat apa ini di sini ya kita pakai," sambil menoel hidung Arina dengan manja.


Arina yang tersipu ini ikut memandangi cincin itu, corak yang unik dan desain yang memiliki dominan putih bertaburkan berlian kecil menambah kesan simple tapi mewah.


Younga yang masih mengingat cincin milik orang tuanya itu, dia mengingat kembali cinta kasih mereka terhadap keluarga dan rasa sayang kepada anak mereka. Dia mengelus cincin itu dan mengambil segera ia sematkan di jari istrinya.


Titihan air mata bahagia Arina pun tak kuasa ia bendung, begitu mudah aku mendapatkan kebahagiaan ini jangan cepat engkau sirnakan ya tuhan. Sambil mencium pucuk kepala Arina, Younga memeluk istrinya dengan erat.


"Aku berjanji tidak akan pernah membuatmu menangis karena duka, sebab aku ingin seperti orang tuaku yang menyayangi keluarga,"Younga sambil menatap wajah istrinya seraya menyapu air mata Arina.


Dan kini giliran Arina yang memasangkan cincin itu ke jari suaminya. Betapa indahnya dan sempurna mereka berdua saat ini pernikahan yang telah memiliki usia satu bulan itupun tanpa terasa di lalui dengan alami tanpa sandiwara.


Younga dan Arina yang larut dalam pelukan bahkan tanpa sadar kini bathrobe Arina sudah terlepas talinya. Seketika Arina terkejut dan mebetulkan kembali bathrobe nya, seketika ia memukul kecil dada suaminya.


"Kamu itu, suka banget semau kamu," sambil mencubit perut suaminya yang memiliki tingkah semau sendiri.


"Terserah lo aku suamimu berhak atas semua termasuk......," Arina yang tau sekali maksud suaminya segera ia berlari ke ruang wardrobes.


Younga yang mengikuti langkah istrinya ini langsung menarik tangan Arina. Segera ia memeluk istrinya ini, dia bahkan senang sekali mencium bibir istrinya.

__ADS_1


Dia berdiri di hadapan istrinya dan memandang lamat-lamat wajah ayu istri yang polos tanpa polesan make up. Dia menyibakkan rambut yang membingkai wajah mungil istrinya dan mencium kembali istrinya dengan penuh kelembutan.


Arina yang hanya diam, dia pun ikut larut dan membalas ciuman itu. Setelah lama Younga membenamkan bibirnya di bibir istrinya dia melepas dengar perlahan. Dan mengecup kening isrtinya seraya mengusap bibir istrinya yang menurutnya bibirnya bindah tanpa polesan.


__ADS_2