
Younga yang mengeliling jalan untuk mencari tahu gejrot membuat ia sedikit prustasi karena susah dicari. Dia menyusuri jalan komplek dan tak berapa lama ia menemukan, Arina yang senang membuat Younga tersenyum senang.
Kantor Banyu
"Bodoh sekali rupanya si Younga dia percaya begitu saja prihal kerja sama ini. Padahal ini gerbang kehancuran lu Younga." sambil tertawa puas Banyu merasa dia telah berhasi mengelabuhi Younga.
Dengan senang dia membolak-balikan kertas yang sudah dibubuhi tanda tangan kedua belah pihak. la merasa jika Younga sangat percuma dengan kerja sama yang diajukan olehnya.
"Rendy pastikan jika Younga yakin dengan apa yang kita lakukan saat ini."
"Baik tuan, saya akan pastikan, jika pihak BackMan Corp tidak mencium rencana kita." Rendy meyakinkan tuannya.
Sementara di sebuah negara lain wanita yang dulunya banyak dikagumi oleh kaum adam, kini hanya sebatas seorang buronan dari Simon. Yah, Austine sedang di Thailand, guna untuk menghindar dari kejaran Simon.
"Sial, kenapa harus bangun dari koma lelaki itu." Ucap Austine dengan nada kesal.
Kini Austine hidup jauh dari kata cukup karena karir yang harus berhenti dan ia juga tak hanya menghilang tapi juga menghindar dari Simon. Di Thailand dia hanya sendiri mengingat kak Merry tetap masih berada di Jakarta. Untuk melihat kondisi tentang perkembangan Simon, seberkas harapan muncul agar masalah yang Austine alami.
Austine berada di sebuah perkampungan kecil di Thailand dia terus memandangi ponselnya berharap Merry segera memberi kabar baik. Baginya hidup di desa sama saja bunuh diri karena ia terbiasa hidup mewah namun kini harus hidup jauh dari kata layak.
Simon yang masih terus mencari keberadaan Austine sampai saat ini dia belum putus asa karena baginya menemukan Austine adalah tujuannya saat ini. Ia mengerahkan banyak anak buah untuk menemukan Austine karena Austine adalah kunci agar ia bisa kembali lagi ke dunia entertainment.
Mall Departemen
"Ini kenapa gw sendiri yak ke mall." gerutu Mayang. Sambil memainkan ponselnya dan menimbulkan ide untuk mengajak Arina ikut dengannya. Sambil mencari nama Arina di kontak ponsel ia berjalan ke arah toko es krim.
"Halo, Rin ikut ngemall yuk ama gw,"
"Hahh, di mana lu?" suara Arina di balik sambungan telfon.
"Biasa, duduk di mall biasa kita gibah, hari ini kita makan roti bakar yuk ama gelato,"
"Mauuu, tunggu 30 menit sampe sana," Arina mengakhiri sambungan telfon Mayang dengan cepat.
Sementara menunggu Arina, Mayang memilih menikmati eskrim terlebih dahulu yang ia pesan dan dengan cepat pula ia mengabadikan foto ketika es krim sudah datang.
Tiga puluh menit berlalu Arina belum juga datang namun Mayang tetap setia menunggu sahabatnya "paling ribet mau izin ke suaminya ini bocah." sambil menyendokan es krim ke mulutnya. Ini adalah es krim kedua kalinya dan tak berapa lama Arina muncul dan segera iya melambaikan tangan ke arah Arina.
__ADS_1
"Huffff maaf May," seraya duduk dan menyendokan es krim milik Mayang ke arah mulutnya. "Tadi drama dulu minta izin ke suami gw," sambil meyenderkan tubuhnya di kursi.
"Hahahaha, ahh paham gw mah. Santai aja kan suamilu super protective banget klo lu pergi sendiri."
"hehehe, bener baget itu. Pake sopir lah, di temenin Mila lah ahhh." frustrasi Arina kala mengingat suaminya yang super cerewet.
Arina pov
Arina yang sudah selesai mandi langsung menuju ke arah meja rias guna untuk mengerikan rambutnya yang basah. Dia mendengar suara ponsel yang di letakkan di kasur berbunyi dengan segera ia menghampiri dan nama Mayang lah yang tertulis. Dengan segera ia mengangkat sambungan telfon tersebut.
"Halo May....."
Halo, Rin ikut ngemall yuk ama gw,"
Mendengar kata mall Arina langsung senang karna sudah lama sepulangnya dari Eropa dia sama sekali belum keluar.
"Hahh, di mana lu?"
"Biasa, duduk di mall biasa kita gibah, hari ini kita makan roti bakar yuk ama gelato,"
Segera ia menuju ke arah ruang wardrobes dan mencari baju untuk ganti.
"Mauuu, tunggu 30 menit sampe sana,"
Suara nada telfon sudah tersambung dengan cepat. "Hallo mas, aku boleh ke mall bareng Mayang gak,"
"Sayang nanti kamu capek lo." Younga yang khawatir dengan sang istri.
"Enggak janji deh, aku gak bakalan capek,"
"Di anter sama Mila ya,"
"Gak mau, ihh orang mau sama Mayang ajaaa.."
"Oke, oke anter sopir aja. Baru kamu boleh jalan sama Mayang,"
"Makasi mass,"
__ADS_1
Dengan segara Arina menutup sambungan telfon dengan sang suami dan melanjutkan bersiap-siap. Dia memilih baju dress dengan warna biru navy dan tas jinjing merk Eropa.
Dia yang telah rapi segera keluar kamar dan mencari keberadaan Mila untuk berpamitan.
"Mil, saya pergi dulu ya.." seraya melangkah ke arah pintu.
"Iya Nona hati-hati dijalan." Mila yang mengekori Arina sampai di depan pintu.
Dengan sigap sopir yang telah menunggu langsung membukakan pintu dan memastikan nona mudanya telah duduk nyaman. Dan dengan segera sopir menyalakan mesin dan mengarah ke alamat yang di minta oleh Arina.
Younga part
"Ok then, Roy. Let’s get down to business. On the agenda, things that we’re going to discuss in this meeting today is content plan, timeline, and business in Milan. are you happy with those points I’ve given you?”
“Yes. It would be great if you could discuss a bit more about the Milan's business matters thing, and go through them in order.”
“Alright, that’s all on the agenda today. Do you have any report on business developments in Malaysian thing that I asked for last week?”
“ Yes I do. Based on research on business development in Malaysia the report has shown that it has great potential and will generate significant profits"
Younga yang menyimak sambil memainkan ponsel miliknya dan dengan seketika sang istri menelepon dengan senang hati ia mengangkat dan memutar kursinya ke lain arah.
"Halo sayang,"
"Hallo mas, aku boleh ke mall bareng Mayang gak,"
Sayang nanti kamu capek lo."
"Enggak janji deh, aku gak bakalan capek,"
"Di anter sama Mila ya,"
"Gak mau, ihh orang mau sama Mayang ajaaa.."
"Oke, oke anter sopir. Kamu jalan sama Mayang boleh,"
"Makasi mass,"
__ADS_1
Sambil menunggu meeting selesai Younga terus mengkhawatirkan istrinya, mengingat iatrinya yang akan kelelahan jika beraktivitas terlalu banyak.