
Hari demi hari yang di lewati Arina mengandung dengan sehat dan kini perut yang tadinya rata sudah terlihat maju kedepan. Hari ini jadwal ia bertemu dengan dokter kandungan untuk memeriksa kandungan yang sudah berusia empat bulan.
Tak lupa Younga yang tak pernah absen menemani istrinya pergi ke dokter sangat antusias bahkan dia orang yang sangat ribut ketika mendengar detak jantung anaknya untuk pertama kalinya dulu. Bahkan usia kandungan Arina yang sehat, dokter mengatakan Arina akan bisa melahirkan secara normal.
"Bagai mana dok, anak saya sehat dan apakah jenis kelaminnya sudah di ketahui?" Younga yang menyerocos.
"Baiklah pak akan saya jelaskan,......,"
"Dokter jangan di kasih tau jenis kelaminnya biar nanti saja ketika sudah lahir." tiba-tiba Arina menyauti perkataan dokter Eva.
"Sayang, aku juga mau tau," Younga menyaut.
"Jangan dokter gak boleh." penggak Arina kembali.
Sambil tersenyum dokter Eva menyauti satu persatu pertanyaan suami istri ini, sambil meneruskan penjelasan tadi. "Pak Bu saya akan melanjutkan kembali ya, ibu Arina kandungannya sangat kuat dan sehat kemungkinan di prediksi akan bisa melahirkan Secara normal." terang dokter Eva.
Setelah mereka selesai memeriksa kandungan Arina minta di antar ke perusahaan miliknya karena ingin bertemu dengan Rike. Dua sahabat bagai seorang kakak ini sudah lama tak jumpa hanya sebatas chat dan telfon saja.
Younga yang menuruti langsung mengantarkan istrinya ke perusahaan milik Arina. "Aku kangen Arin's Group," suara Arina terdengar jelas. Suami yang sedang setia menjadi sopirnya segera memegang tangan istrinya dan mencium tangan Arina.
"Gak boleh kerja yaa. Kan kantor udah di pindah ke rumah,"
"Mau di kantor," suara manja Arina yang membuat Younga hampir melulu namun itu tak mungkin. Dia tau Istrinya akan merindukan pekerjaan tapi Younga tetap tidak akan memberikan izin.
Tak berapa lama setelah menempuh perjalanan Arina sampai dan turun namun Younga mengikutinya. Arina yang terkejut segera menoleh kesamping " Mas katanya tadi mau kerja kok malah ikut?" tanya Arina, namun Younga tak menjawab pertanyaan Arina.
__ADS_1
Younga yang ikut mengekori Arina yang hendak ke arah meja resepsionis namun Arina membiarkan. " Selamat siang Mbak. Rike ada ruangan tidak?" tanya Arina.
Petugas yang terkejut melihat Arina langsung memberi hormat tak lupa dengan Younga "Selamat siang bu," petugas resepsionis ini memberi salam dengan sopan karena ia paham siapa wanita yang sedang di hadapannya saat ini.
"Ada bu, dengan bu wakil sedang meeting. Tapi dua menit lagi selesai." jelas petugas.
Arina yang paham langsung mengandeng tangan suaminya dan pergi menuju ke ruangan Rike. Karyawan yang melihat bos nya berjalan dengan sang suami membuat mereka iri dan tersenyum.
" Duh si ibu, udah cantik, prestasi punya, uang punya, segalanya punya jadi buat dapetin suami macam bapak ya pantes aja...."
" Iya bener bikin iri ahh si ibu, pantes banget ya ama kecerdasan dia dapetin suami macam pak Younga." semua karyawan kagum dengan Arina.
Arina yang telah sampai di depan ruangan Rike dan meetting yang yang di bicarakan pun baru saja selesai. Ketika semua orang keluar dari ruangan Rike mereka terkejut dengan kedatangan Younga.
" Selamat siang pak Younga, pak Younga mau bekerja sama di restoran dan Kettering untuk perusahaan." sapa seorang yang baru saja keluar dari balik pintu ruangan.
Dan semua orang yang belum mengetahui jika pemilik Arin's Group adalah istri dari Younga. Mereka pun segera memberi hormat kepada Arina karna menurut mereka sangat beruntung bisa bekerja sama dengan istri Younga. Meskipun perusahaan Arina tidak di support Younga karena Arina tidak mengizinkan suaminya ikut campur karena ia yakin bahwa karyawan dan sistemnya mampu membuat perusahaan itu terus maju tanpa bantuan suaminya.
Younga yang berpamitan untuk kembali ke kantor, sebelum pergi seperti biasa Younga berpesan kepada Arina agar tidak terlalu banyak memakan rujak mangga dan es cendol atau es kelap muda. Bahkan kerap kali Arina di marahin ketika terlalu banyak makan mangga.
......................
Apartemen Austine
Austine yang telah mendengar kabar bahwa Simon telah sadar dari koma, membuat ia ketakutan karena dia tau jika Simon menemukannya maka ia akan hancur. Merry yang juga yang sedang bingung ingin berbuat apa, karena mengigat Austine yang mengacaukan semuanya di Canada.
__ADS_1
Dengan berjalan mondar mandir bagaikan setrika, Merry terus berfikir untuk menyelamatkan karir dan nama baik Austine. Austine kali ini ketakutan bukan lagi karena ia yakin bahwa Simon akan mencari dia.
"Kakk, Mer aku harus gimana ini Simon sadar," Austine masih belum memiliki cara untuk lari atau menghindari masalah ini.
Merry yang tak menjawab pertanyaan Austine ia masih sama masih mencari cara. "Keluar dari Indonesia lagi, kita selesaikan semua pekerjaan dua hari kedepan dan pergi dari sini." ucapan spontan yang terdengar dari Merry.
"Kak tapi aku masih mau mendekati Younga?"
"Kamu mau mati hancur di tangan Simon? Younga tidak akan perduli lagi denganmu." kesal Merry.
"Terus kita mau pergi kemaa?" tanya Austine lesu, benar kata Merry dia tidak akan bisa kembali lagi dengan Younga. Terlebih lagi jika Simon menemukan dia, maka tamatlah semuanya.
Akhirnya Austine menyetujui untuk merampungkan pekerjaan yang di kontrak dan dia segera pergi nantinya sebelum Simon menemukan dia. Sementara Merry yang sibuk menelfon sana sini untuk mempercepat proses pemotretan dan untungnya semua menyetujui.
Bandara Indonesia
Beberapa orang berbadan besar khas Eropa turun dari pesawat mereka telah di tunggu oleh seorang driver hotel yang di pesan. Dengan sigap para pria bertubuh kekar ini langsung membuka dan mencocokan sistem komunikasi yang ada di Indonesia.
Semua telah membawa pesan masing-masing dari Simon. Benar sekali mereka adalah orang-orang yang diperintah oleh Simon untuk menemukan Austine. Bahkan Simon akan mendatangi Indonesia jika Austine sudah di temukan.
Dua hari lalu waktu Canada
"I find her," salah seorang informan berteriak.
"Where's," Simon yang ikut mendekat. "She is back, in his country Indonesia," ucap kembali pria kekar yang sedang menghadap layar PC.
__ADS_1
"Go and find her, and bring her to me," Perintah Simon. Setelah mereka mendapat perintah mereka dengan tanpa membuang waktu. segera mengurus kepergiannya ke Indonesia hari itu juga.
Simon yang berharap segera menemukan Austine dan memberi pelajaran dengan apa yang di perbuat olehnya maka tak maka tak ingin kehilangan sesuatu yang menurut dia penting. Dengan yakin Simon akan menemukan Austine dengan segera.