
Roy yang berbalik arah dan kembali ke posisi dimana Dio berada, Dio yang masih melihat pergerakan Alita langsung menyimpulkan apa yang Alita rencanakan.
"Roy, orang-orang kita suruh jaga ruang VVIP sekarang gw Izin ke pihak rumah sakit dulu," Perintah Dio seraya berjalan ke arah pintu untuk menuju ke ruang ke amanan.
Dengan sigap Roy memanggil orang kepercayaan untuk menjaga ketat rumah sakit bahkan gerakan Roy ini tak terlihat oleh Younga urusan Younga nanti saja ini lah yang ada di pikiran Roy. Saat ini tugasnya memancing Alita keluar dan menjaga nona kecilnya.
Tak selang lama para orang yang di minta sudah datang dan Dio yang telah selesai bernego dengan pihak rumah-sakit pun sudah selesai. Bagaimana tidak di mudahkan karena rumah sakit ini juga bagian dari Dhiningrat yang berbasis di kesehatan.
Semua penjaga di letakkan di depan lobby VVIP dan sebagian di letakkan di pintu masuk depan dan belakang. Bahkan semua pintu di kerahkan multiple people agar mereka tau orang lalu lalang. Younga yang sedang fokus ke istri dan anaknya tak tau kejadian di luar.
Dio dan Roy yang sudah selesai kembali ke dalam rumah sakit dan dia berjalan dengan santai. Di sisi lain Alita yang merasa heran dengan banyaknya pengawasan tak membuat ia curiga.
Kini Alita memutuskan untuk keluar rumah sakit terlebih dahulu ia menunggu hari esok. Karena baginya sulit jika di lakukan saat ini, karna keluarga Younga dan istrinya sedang berkumpul.
🌿
Younga memperhatikan bayi mungil yang di letakkan di boks bayi, sementara Arina yang tidur di biarkan oleh nenek dan ibunya. Mereka memperhatikan bayi yang masih merah nan lucu itu.
"Nekk. Princess kecilku ini sangat mirip dengan ku bukan?"
"Anak nakal ini, dia mirip ibunya." goda nenek Widia.
Semua orang menyambut suka cita datang nya cucu pertama bagi bu Rahma dan penerus utama bagi keluarga Dhiningrat. Setalah menengok penerus, sang nenek berpamitan pulang begitu juga dengan bu Rahma.
Arina uang telah bangun dan menoleh kiri kanan namun sepi hanya Younga yang ada. Suaminya yang sedang asik bersama anak nya hingga lupa istri membuat Arina tersenyum. Melihat kearah Younga yang asik dengan anaknya hingga melupakan istrinya.
Younga yang menoleh ke arah istrinya langsung terkejut karena ia melupakan istrinya. "Sayang, kamu bangun. Sayang anak kita cantik kaya kamu lo," sambil melangkah ke arah istrinya. Arina yang ingin bangun langsung di larang oleh Younga. "Jangan sayang, di situ aja aku ke sana." Younga dengan hati-hati mengendong bayi perempuannya.
Senyum Arina terlihat meluas di wajahnya karena suaminya sudah bisa mengendong anaknya. Meski terlihat kaku namun Younga sudah berani mengendong bayi perempuannya.
__ADS_1
"Yahhh. Liat sayang dia cantik banget ya kan, wajahnya kaya aku bukan." puji Younga.
"Mana dia mirip aku, cantik ya sini ke bunda sayang." dengan hati-hati Younga memberikan putri kecilnya ke pada Arina.
"Mas ini namanya yang aku bilang kemarin ya. Dia cantik banget gemes."
"Nafeesa Syakila Djoyo Dhiningrat," ujar Younga sambil memeluk istrinya.
"Nama yang cantik, anak bunda," sambil mengelus lembut pipi anaknya.
Media masa yang tak kenal waktu terus berdatangan di rumah sakit menunggu kehadiran tuan dan nyonya muda keluarga Dhiningrat karena bagi media ini adalah berita menarik di kalangan pebisnis. Selain keluarga yang terpandang Dhiningrat juga di kenal hebat di dalam dunia bisnis. Bahkan hampir semua perusahaan di pusat kota adalah campur tangan Dhiningrat.
"Tak ada salahnya aku meletakkan penjagaan ketat di rumah sakit," Roy memghela nafas panjang.
Dari arah lobby Mayang yang datang dengan langkah cepat langsung menuju ke ruang Arina karena ia telah mendapat kabar dari bu Rahma.
"Pak Roy, mohon saya mau masuk ke dalam," Mayang yang melihat tajam ke arah Roy. Maklumlah Roy dan Mayang meski tak ada masalah di antara keduanya namun atmosfer dingin menyelimuti kedua orang ini.
"Princess, immo coming," sapa Mayang.
"Wahhh immo, heeee ini jam malam lo May," kta Arina.
"Santi aja, lu lupa gw ketua geng mafia gang bojong sambil," canda Mayang. "Mana ponakan gw? Cantik gak dia klo gak cantik agak parah sih." ledek Mayang kembali.
"Ini dia, aku cantik immo," sambil menunjukan bayi mungil di pangkuan Arina.
Younga yang membiarkan Arina bersama Mayang langsung pergi meninggalkan ruangan rawat Arina. Dia terkejut dengan orang yang berdiri berbaris di depan kamar rawat istrinya. Dengan segera ia merogoh saku celana untuk mengambil ponsel dan menghubungi asistennya.
"Roy, ini ada apa kok di kasih penjaga banyak di depan rumah sakit sama di lobby?" tanya Younga.
__ADS_1
"Alita berkeliaran," jawab Dio yang muncul dengan tiba-tiba.
"Benar tuan, nona Alita sedang mengincar sesuatu. Makanya saya perketat penjagaan." jawab Roy.
"Lu kenapa di sini," tatapan Younga yang mengintimidasi ke arah Dio.
"Oh itu, kan gw belum balik bos. Maklum nungguin orang kan."
"Haleh buaya paling juga di beri harapan palsu doang itu perempuan." ledek Younga.
"Sembarangan klo nyablak,"
"Yang dulu dulu bukanya gitu bos," Younga yang tak mau kalah adu bicara dengen Dio.
Kedua pria ini terus saling meledek namun tak seorang pun mengalah. Mayang yang muncul dari balik pintu dan keluar dari ruangan segera ia berjalan ke luar lobby untuk pulang. Dio yang melihat langsung menghampiri dan pergi meninggalkan Younga.
Dengan melihat tajam ke depan dia heran kedekatan sahabatnya dengan Mayang. Bahkan Younga sama sekali belum pernah melihat Dio dekat dengan Mayang. Sementara Mayang yang heran ada orang yang mengikutinya satu belakang langsung menoleh, ke arah sumber suara langkah kaki.
"Maaf mas ngikutin saya atau ____" Mayang berbicara sambil mengamati lakat ke arah pria yang memiliki pras tampan ini.
"Dio, saya sahabatnya Younga," sambil mengulurkan tangan kearah Mayang.
"Mayang," dengan canggung Mayang membalas ukuran tangan Dio.
"Apa kita sebelumnya udah ketemu, atau mas udah tau saya?" tanya Mayang.
"Sering liat kamu sama Arina cuma gak nyapa aja. Takutnya ada yang marah kan nanti repot ujungnya." Dio berasa basi sambil menyusuri lobby.
"Oh kalo temenan kayaknya gak ada yang marah deh, tapi kalo buat serius paling mama introgasi dulu." sambil tertawa ringan.
__ADS_1
Dio sebenarnya sudah memperhatikan Mayang sejak lama namun ia tak ingin terburu-buru untuk langsung dekat dengan Mayang. Karena ia tau ada Zain yang dekat jug dengan Mayang ia hanya menunggu momen yang tepat untuk mengenal Mayang.