
"Kau harus bertanggung jawab atas ini," sambil menunjukkan testpack yang bergaris dua. Namun Simon tak mengerti maksudnya dan dia diam saja. "Tanggung jawab itu darah dagingmu," lontar Austine. Simon yang terkejut langsung menyemburkan alkohol yang ia tenggak.
"Tidak mau kau pasti berbohong karna ku tau kau tidur dengan banyak laki-laki, sedangkan hanya aku orang yang kau datangi." tolak Simon.
"Apa kau bilang aku tidur dengan banyak laki-laki, jangan kau menggalihkan pembicaraan ku sudah jelas ini anak mu, kau harus bertanggung jawab,"
"Tidak akan pernah dan jangan kau bermimpi untuk menjadi istriku." Simon kembali menenggak alkohol di botol.
"Baiklah berarti aku tak mau berbaik hati juga denganmu," sambil menunjukan vidio syur milik Simon yang sedang melakukan hubungan intim tanpa busana. Simon yang heran dan terkejut mendapat dari mana video itu, langsung dia ingin meraih ponsel yang di tangan Austien. Tapi ia kalah cepat dengan Austine, ia bertolak pinggang seraya menunggu Austine kembali lengah.
"Kau tau kan jika ini kuberi judul MODEL DENGAN SEPULUH WANITA SEMALAM, maka kau akan bummmm," sambil memasang wajah licik.
Melihat Austine yang memprovokasi membuat ia memasang wajah marah dan dengan kasar ia mengambil telfon genggam milik Austine secara paksa dari tanggannya. Austien yang telah kehilangan ponselnya ia berinisitif ingin merebut kembali karena tak ingin kehilangan bukti untuk mendesak atau mengancam Simon untuk menikah dengannya.
Austine yang tak ingin kehilangan bukti segera Ia mencoba merebut, namun tak sampai merebut Simon tergelincir karena menginjak botol yang berserakan di lantai dan ia terjatuh. Kepala Simon membentur meja kaca di belakangnya hingga meja tersebut pecah karna benturan keras antara kepala dan meja kaca tersebut beradu. Sehingga beberapa serpihan kaca menancap di belakang kepala dan membuat kepalanya mengeluarkan darah begitu banyak.
Austine yang melihat Simon tak sadarkan diri dan dia tak ingin lama-lama dengan segera mengambil ponsel miliknya dari tangan Simon. Dia ingin pergi begitu saja, namun terlintas di kepalanya untuk membersihkan jejak dia. Dengan gesit ia mengeluarkan sapu tangan dan mengelap tangan Simon supaya sidik jari di tangan Simon menghilang. Dengan segera ia menggantikan dengan botol yang di letakkan di tangan pria tersebut.
Supaya kejadian ini tak ada yang mencurigai, ia berjalan kedepan arah pintu tak lupa ia mengambil kunci apartemen milik Simon dan ia membuka hendel pintu dengan saputangan. Dengan melihat kiri kanan ia keluar secara mengendap-endap. Setalah dirasa aman austine segera keluar dan dia mengunci pintu kamar Simon dari luar.
Dia tak langsung turun kebawah melainkan naik ke atas terlebih dahulu menggunakan anak tangga lalu ia kembali turun kembali menggunakan lift dari lantai ketiga setelah kamar Simon. Setalah jauh dari dari apartemen milik Simon ia membuang kunci kamar apartemen yang di balut dengan saputangan yang ia gunakan tadi ke dalam sungai tak jauh dari lokasi apartemen.
__ADS_1
Keesokan nya ia berpura-pura tak terjadi apa-apa bahkan dia menganggap itu semua bukan kesalahan dia. Dia hanya saksi mata bukan pelaku, dengan rasa penasaran ia menghidupkan televisi dan membuka ponsel benar adanya berita pagi ini tentang Simon yang diduga mabuk dan tergelincir dengan sendirinya. Sehingga mengakibatkan ia terjatuh dan kepala terbentur meja kaca dan hampir kehabisan darah karena terlalu lama.
Polisi hanya menemukan kandungan alkohol di tubuh Simon dan bekas ****** wanita. Simon yang dinyatakan koma ini dan entah kapan kembali pulih membuat Austine berkesempatan pergi dari Canada.
Sebelum kembali ia menghubungi dokter untuk menghilangkan anak yang sedang ia kandung saat ini. Dengan kecanggihan dokter rumah sakit dalam waktu dua hari ia sudah pulih. Sedangkan berita yang di keluarkan oleh media masih sama tentang Simon bahkan banyak yang berasumsi ia depresi dan lain sebagainya. Seminggu kemudian Alita memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan nama yang baik tentunya.
Flashback is off
Mengigat itu membuat Merry takut jika nanti terulang kembali di sini. Apalagi jika ia bermasalah dengan orang seperti Younga. Membayangkan saja membuat ia merinding, bahkan dia selalu mengingatkan Alita namun keras kepalanya yang membuat Merry makin membuat ia bisa gila.
****
Younga yang terbangun terlebih dulu, ia memandangi dan sambil membelai wajah istrinya yang masih tertidur pulas di pelukan dia, sesekali ia mencium bibir Arina yang ranum tanpa polesan itu.
"Sayang bangun, bangun," sambil mengoyangkan badan istrinya yng mungil.
"Apa, kenapa mas," sambil membelai wajah suaminya.
"Kita jalan-jalan yuk, senen besok kita pulang." ajak Younga sambil mencium pundak mulus milik istrinya.
"Kamu kan kerja,"
__ADS_1
"Ada Dio yang gantiin aku, kamu tenang aja sayang. Selagi dia lagi gak banyak kerjaan dari aku dia kan hendle semuanya." Younga meyibakan anak rambut dan memeluk kembali istrinya.
Arina menyetujui untuk ikut ajakan Younga pergi dan sebenarnya ia juga ingin jalan-jalan mengingat selama kehamilannya menginjak usia dua bulan hanya pergi sesekali jika Younga sedang meluangkan waktu.
Setelah mereka berdua bersiap rapi dan segera turun ke bawah untuk melakukan sarapan pagi, setalah selesai mereka langsung saja pergi di temani dan di antar oleh asisten Roy. Sebenarnya ada alasan lain Younga mengajak Arina pergi karena bu Halimah akan merenovasi kamar utama. Dan memindahkan semua barang ke lantai bawah.
Mereka melaju dengan kecepatan sedang jalan ini bukanlah jalan menuju kota melainkan jalan menuju ke pedesaan. Arina yang terlihat bahagia ketika melihat pemandangan dan tumbuhan hijau serta suasana yang masih terlihat asri.
Setelah menempuh perjalanan 3 jam lebih mereka telah sampai di sebuah pantai yang terdapat resort mewah di sana. Arina yang melihat langsung takjub dengan bangun mewah di atas bibir pantai. Dia berjalan ke arah depan dan pemandangan laut luas terlihat jelas, Younga langsung menghampiri istrinya dan memeluk dar belakang.
"Sayang kamu suka, sama pemandangan di sini?"
"emmmm, seger banget bagus." sorot mata puas terpancar dengan jelas.
"Klo tinggal di sini mau?" tanya Younga
"Mau tapi sama mas ya," sambil berputar badan dan memeluk suaminya. Memeluk Younga ada kedamaian dan kenyamanan sendiri bagi Arina.
Mereka berdua memutuskan masuk karena makan siang telah di hidangkan oleh pelayan resort. Ini adalah resort pribadi milik Younga yang di beli di khususkan untuk menghabiskan waktu liburan saja dan ingin menenangkan pikiran. Arina adalah orang pertama selain asisten Roy yang menginap di sini, karena resort ini bersifat pribadi maka tak ada orang tau selain penjaga.
Menikmati kedamaian di siang hari ditemanih oleh semilir again, suar burung dan deburan ombak membuat Arina memejamkan matanya di pelukan sang suami. Younga mengamati wajah istrinya dengan lamat-lamat sembari tersenyum karena melihat sedikit perubahan bobot tubuh istrinya.
__ADS_1
Sore hari yang tiba membuat Arina antusias mengajak Younga bermain di tepi pantai. Matahari yang akan terbenam membuat suasana romantis di tempat yang sepi dan damai. Beberapa kali Younga mengabadikan gambar istrinya di ponsel miliknya, dengan latar matahari terbenam.