
Dua hari setelah kembali dari rumah sakit arin masih tetap merutuki dirinya bahwa Younga celaka gara-gara kesalahannya. Bahkan ketika mengigat ia meminta di belikan makanan oleh Younga Arina akan kembali menangis dan menyesalinya.
Younga yang melihat kesedihan di wajah Arina berusaha untuk meyakinkan bukan kesalahan dia melainkan orang yang dendam dengan Younga lah yang bersalah namun ia belum menerima pertanyaan suaminya.
"Sayang kamu jangan nangis lagi, jangan nyiksa aku ngeliat kamu nangis. Aku sakit klo liat kamu nangis sayang. Udah ya jangan nangis makan dulu yuk, nanti minum vitaminya." seraya menyuapi istrinya dengan perlahan Arina yang mengunyah tapi hanya melihat kedepan tanpa kebawelan yang biasanya ia lakukan ketika Younga menyupinya. Namun saat ini hanya tatapan kearah depan sajalah mata Arina menuju.
" Jangan nangis lagi ya, " hanya angukan sajalah respon Arina saat ini.
Dengan telaten pula Younga mengalap tubuh Arina karena tak mungkin dia menyuruh Arina untuk mandi. Bahkan Younga mengurus istrinya dengan telaten, setelah Arina selesai makan dan berganti baju serta meminum vitamin ia menyuruh Arina tidur siang. Sementara Arina yang telah tertidur Younga kembali ke ruangan kerja disna sudah ada Roy, Ririn, Dio dan Rike wakil Arina di perusahaan Arin's Groups.
Mereka ingin membahas pekerjaan yang akan melibatkan dua perusahaan sekaligus karena hotel milik Younga sudah memutuskan untuk kerja sama menu dari Arin's Groups. Dengan sesama mereka merancang segala kerja sama secara profesional bahkan Younga mengambil semua menu andalan yang di miliki oleh Arin's Groups. Dengan kesepakatan sesama mereka Deal dalam kerja sama, meskipun Arina tidak lagi memegang perusahaan tapi semua laporan akan tetap di beritahu.
"Bagai mana perkembangan Banyu?" sambil melirik ke arah Roy dan Dio.
"Ya kenapa matalu ke gw hahhh," sambil melangkah keluar.
"Yaaaa,"
"Roy, explain please. Saya lapar mau cari makan di luar." sambil melangkah keluar ruangan.
Roy yang mengantikan Dio untuk menerangkan perkembangan kasus yang sedang di cari saat ini. Dengan detail ia menerangkan, bahkan saat ini Younga berniat membayar detektif mahal untuk membantu mencari keberadaan Banyu.
......................
__ADS_1
"Goblok, dia orang itu kenapa harus tertangkap," sambil menendang barang yang ada di sekitar dia. Dengan kesal ia melupakan kemarahan karena gagal mencelakai Younga.
Kini Banyu berada di sebuah hutan yang hanya ditempati bangunan berupa gubuk yang hnya terbuat dari bambu. Dia melarikan diri setelah mengetahui kedua preman yang di suruh di tangkap oleh polisi. Sementara ia yang masih berambisi untuk membalas dendam kepada Younga.
Banyu yang kehabisan akal untuk melakukan bals dendam ia hanya menghembuskan nafas ke a udara secara bebas bahkan ia tau tau harus apa. Karena posisi dia menjadi sulit karena semakin banyak polisi yang mencari dia. Bahkan geraknya untuk menuju ke kota sangat lah sulit mengigat muka Banyu yang sudah di sebar di penjuru kota. Bahkan posisi sulit baginya untuk melakukan pembalasan kepada Younga.
...**...
Arina yang sudah membaik dan tak lagi menangis, membuat Younga tersenyum senang, karena istrinya tak lagi menyalahkan diri sendiri. Bahkan kali kali ini Arina sudah berangsur kembali seperti sedia kala ingin tersenyum ketika suaminya melontarkan hal konyol.
Arina yang merasa jenuh akhirnya mau keluar kamar dan jalan-jalan di sekeliling pekarangan rumah. Suaminya yang sibuk dengen pekerjaan membuat dia paham oleh karenanya dia lebih memilih jalan sendiri takut mengganggu Younga. Mengigat beberapa hari Younga selalu di dekatnya, ketika suaminya ingin meminta izin untuk melanjutkan pekerjaan Arina langsung mengiyakan.
Setengah jam sudah Arina berada di luar karena ingin menikmati udara segar, ia yang sedang duduk di kursi taman bawah pohon membuat ia merasa tenang. Younga yang tiba-tiba datang dan memeluk istrinya membuat Arina terkejut.
"Sayang, kamu sedang apa?" seraya menyibakkan anak rambut yang terkena angin sehingga menutupi wajah ayu istrinya.
"Mau tanya apa Naa,"
"Mas andai nanti aku melahirkan dan kamu cuma di kasih satu pilihan ibu atau anak kamu pilih mana?"
Demi apa Younga yang mendengar merasa benci dengan pertanyaan yang di lontarkan Arina. Namun ia tak ingin menampakkan wajah kesalnya sehingga ia tetap tersenyum walau pertanyaan itu memancing emosi Younga.
" Aku akan berusaha untuk mendapatkan keduanya, dengan cara apapun itu," sambil melihat ke sembarang arah.
__ADS_1
Arina yang mendengarkan langsung ikut kesal, "Orang disuruh milih, gini deh kalo aku gak selamat terus kamu nanti pilih sama anak atau nikah lagi?" sambil menoleh ke wajah suaminya.
Younga yang mendengar istrinya berbicara seperti itu membuat ia semakin kesal namun tidak ingin menunjukan karena ia tak ingin Arina ketakutan melihat kemarahannya nanti. Tak ada jawaban namun Younga hanya meraih tubuh mungil Arina langsung memeluk dengan erat. Pelukan erat yang membuat Arina sampai sudah nafas, Younga yang menyadari langsung melepaskan pelukan eratnya.
"Maaf sayang, udah ayuk masuk ke dalam nanti kamu malah tambah ngacok," seraya menatik perlahan tangan istrinya supayanmau bangun dan masuk.
Dengan malas Arina berjalan karena masih ingin di luar namun Younga yang meminta ia masuk jadi tak bisa di tolak. Mila yang berniat untuk memanggil kedua majikannya langsung kembali masuk ketika melihat majikanya sudah berjalan ke arah pintu masuk.
Hari ini nenek Widia kembali berkunjung karena ingin melihat keadaan Arina yang kemarin belum sempat ia lihat karena Arina tertidur dan istirahat di rumah sakit. Younga yang terkejut dengan Kedatangan sang nenek langsung memeluk nenek Widia, begitu pun dengan Arina yang ikut mencium tangan dan memeluk nenek Widia.
"Bagai mana keadaan mu nak,"
"Aku baik nenek, nenek apa kabar," seraya mengajak duduk.
"Aku baik nak, kandungan mu semakin besar dan sehat kelihatannya nenek pun tak sabar ingin menimang cicit ku ini." seraya mengelus perut Arina.
"Iya nek, suamiku menjaga ku dengan sangat baik." sambil tersenyum ke arah Younga yang duduk tak jauh darinya.
"Kan sudah ku bilang nek aku suami siaga."
"Baiklah ku akui kejantananmu kali ini," ledek nenek Widia. "Oh aku ingin menanyakan prihal orang yang telah memukul mu, apakah dia sudah di tangkap? Segera urus dia secepatnya agar tidak lebih membahayakan."
"Sedang di urus oleh Dio dan Roy nek, mungkin dalam waktu dekat pasti akan beres tenang saja," jawaban santai Younga membuat kedua wanita di hadapannya geram.
__ADS_1
"Mau jidatnya pecah lagi kamu mas." kesal Arina sambil mendengkus kesal ke arah Younga.
"Baiklah istriku aku akan membereskan dengan cermat percayalah kepadaku.